Ilustrasi pasangan childfree. (Sumber gambar: Unsplash/ Marc Najera)

Hypereport: Childfree, Kala Pasangan Suami Istri Memutuskan Tidak Memiliki Anak

19 February 2023   |   18:43 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Like
Beberapa waktu lalu linimasa ramai kembali dengan pembahasan mengenai childfree atau keputusan yang diambil oleh seorang pasangan menikah untuk tidak ingin memiliki anak. Ramainya perbincangan ini tidak terlepas dari salah seorang influencer yang mengungkapkan keputusannya.

Keputusan pasangan menikah untuk tidak memiliki anak sebenarnya bukan lah sesuatu yang baru. Dalam beberapa informasi yang beredar, bahkan sejumlah artis diberitakan oleh sejumlah media memutuskan untuk memutuskan tidak memiliki anak meskipun mereka menikah.

Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa di antara mereka yang sudah berencana untuk tidak memiliki anak meskipun belum menikah. Selain artis dan influencer, juga terdapat sejumlah masyarakat yang memiliki komitmen tersebut. Mereka yang memutuskan untuk tidak atau tidak akan memiliki anak dalam kehidupannya lantaran beberapa alasan.

Baca juga Hypereport kami: 
Hypereport: Mengulik Fenomena Menikah dengan Sederhana dan Tanpa Tekanan
Hypereport: Saat Mereka Memutuskan Tidak Menikah, Trauma Masa Lalu & Realistis

Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi, menilai childfree melanda perempuan berpendidikan dan berpenghasilan tinggi. Gaya hidup perempuan dengan pendidikan dan penghasilan tinggi yang memutuskan untuk childfree kerap tinggal di kota-kota, terutama apartemen yang dekat dengan kantor dan pusat perbelanjaan.

Gaya hidup mereka juga kerap bepergian ke luar kota baik di dalam maupun luar negeri. “Sering berlibur ke tempat yang dikehendaki,” kata Sigit kepada Hypeabis.id.
 


Pandangan mereka terhadap anak tidak negatif, mereka memandang anak biasa-biasa saja. Mereka tidak selalu mengharapkan anak. Namun, juga tidak menolak anak.

Kalau mereka memutuskan untuk childfree, alasannya lebih karena karier dan gaya hidup. Mereka biasanya tidak rela jika anak yang mereka lahirkan diserahkan kepada orang lain. Pendidikan dan pendapatan yang tinggi membuat mereka memiliki kepercayaan diri tinggi, sehingga mereka ingin mengasuh anak yang mereka lahirkan jika memiliki anak.

Di sisi lain, mereka juga memiliki rasa ketakutan terhadap kehilangan karir. Menurutnya, para perempuan yang seperti itu menghadapi kompetisi yang ketat di dalam kantor. “Jadi, karena itu mereka kemudian tidak menolak perkawinan. Mereka menjalani perkawinan, tapi mereka menolak memiliki anak,” kataya.

Keputusan mereka untuk tidak memiliki anak bukan karena informasi dari luar negeri terkait dengan hal ini. Menurutnya, perempuan-perempuan di negara yang mengalami post-industri, seperti Jerman, Prancis, Amerika Serikat, Jepang, dan lainnya yang cenderung berkeinginan hidup childfree.

Beberapa negara, seperti Jerman, Jepang, dan Singapura, sampai memberikan insentif bagi perempuan yang berpendidikan tinggi. Insentif itu berupa negara menanggung seluruh biaya melahirkan bagi wanita dengan pendidikan tinggi tersebut.

“Tapi justru perempuan yang berpendidikan tinggi ini tidak mau memiliki anak. Kalau pun mau memiliki anak, lebih banyak kalkulasi ekonomi dan masa depan anak harus sesuai dengan gambaran ideal yang mereka miliki tadi,” katanya.

Dia menuturkan keputusan para perempuan untuk tidak memiliki anak tidak selalu terkait dengan kondisi ekonomi. Namun, lebih terkait dengan struktur pekerjaan. Struktur pekerjaan di Indonesia, sejak post-industry atau pada 2000-an, lebih familiar dengan perempuan.

Jenis industri keuangan, keuangan non bank, industri dengan teknologi tinggi atau high tech yang bisa dikerjakan dari berbagai tempat lebih memerlukan tenaga kerja wanita berpendidikan tinggi dibandingkan dengan laki-laki berpendidikan tinggi.

Kondisi itu membuat kompetisi di kalangan perempuan juga cukup besar. Selain itu, perempuan ini memiliki gambaran ideal sendiri tentang keluarga. Mereka tidak lagi memiliki gambaran keluarga seperti pada 1980-an, 1990-an, atau yang digambarkan oleh pemerintah tentang NKKBS, yakni norma keluarga kecil bahagia sejahtera.

“Tapi generasi ini memiliki gambaran tersendiri mengenai keluarga yang baik menurut mereka. Anak kecil, jumlah anak satu, atau kalau perlu tidak perlu memiliki anak. Tinggal di satu pusat kota yang memiliki akses ke mana-mana mudah. Tidak mengganggu karir. Tidak mengganggu mobilitas mereka, dan mereka bisa mencapai cita-cita mereka ketika masih remaja atau mulai menginjak dewasa,” katanya.

Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan mereka yang memutuskan untuk childfree melakukan negosiasi dengan memiliki anak pada detik-detik terakhir, seperti akhir usia 30an. Mereka yang biasanya memutuskan untuk memiliki anak memiliki perjanjian pengasuhan dengan suami.

Pada kondisi ini, mereka berkalkulasi secara rasional bahwa anak bukan lagi kontributor perekonomian dalam rumah tangga. Namun, anak memerlukan perhatian yang luar biasa dari orang tua yang melahirkan.

“Orang-orang seperti ini adalah orang yang memiliki tanggung jawab. Kalau dia tidak bisa mengelola keluarga dengan baik, seperti gambaran ideal yang mereka memiliki, mereka lebih baik tidak memiliki anak seperti yang dilakukan oleh kebanyakan keluarga,” katanya.


Mereka yang memutuskan untuk memiliki anak pada akhir usia 30an biasanya memiliki pertimbangan utama ingin memberikan apa yang sudah dikumpulkan selama hidup kepada keturunannya, seperti apartemen, rumah, mobil, banyak investasi, dan sebagainya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Gita Savitri Devi (@gitasav)


Sejumlah pasangan yang sebelumnya menerapkan childfree di luar negeri bahkan melakukan bayi tabung untuk memiliki keturunan untuk melanjutkan atau memberikan apa yang sudah dikumpulkan atau dimiliki selama hidup.
 

Pandangan Dari Masyarakat

Pandangan dari masyarakat tentang mereka yang memutuskan untuk tidak memiliki anak dalam pernikahannya meskipun mereka mampu beragam. Beberapa di antaranya memakluminya, memandangnya negatif, dan sebagainya.

Nilam, salah seorang wanita yang tidak memutuskan untuk childfree, memandang childfree dapat timbul dari luapan emosi yang berbeda, yakni ada yang merasa takut, tidak percaya diri, trauma masa lalu, atau hanya tidak ingin ribet.

“Apalagi dengan background generasi milenial seperti Nilam yang segala sesuatu ingin serba mudah dan cepat, yang mana hal ini sudah terbiasakan oleh semua teknologi pendukung yang ada,” jelas Nilam.

Wanita yang merupakan karyawan swasta sebuah perusahaan itu mengaku merasa kaget begitu punya anak dengan segala keribetan yang ada dan tidak bisa diselesaikan dengan metode yang sama seperti mengerjakan sebuah soal matematika.

Menurutnya, variabelnya terlalu banyak dan sulit mengingat diri adalah individu yang cukup tidak sabaran. Namun, tetap saja bahwa memiliki anak bagian dari fitrah dan syariat agama, dan rumah tangga akan dapat lebih harmonis dengan ada seorang buah hati.

“Segala pengalaman baru yang tidak bisa terbayarkan hanya dengan kalimat ‘enggak mau ribet,” katanya.

Sigit menuturkan bahwa pandangan tidak ingin memiliki keturunan di dalam masyarakat menjadi negatif lantaran sebagian masyarakat di dalam negeri memandang tugas utama manusia adalah melakukan reproduksi dan melanjutkan kehidupan terhadap generasi berikutnya.

Dia menilai sebuah generasi akan hilang jika ada sekelompok orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Terlebih, generasi yang hilang tersebut adalah generasi yang diharapkan lantaran lahir dari perempuan berpendidikan tinggi yang akan menghasilkan kualitas sumber daya yang tinggi.

Generasi dengan kualitas yang tinggi akan membuat sebuah negara memenangkan kompetisi dengan negara lainnya. “Tapi, kalau ditanya negatif atau tidak, ya negatif [Childfree]. Karena mereka menghilangkan tanggung jawab untuk reproduksi tadi, untuk kelangsungan hidup bangsa dan negara,” katanya.

Baca juga: Mengenal Childfree & Alasan Orang Tak Ingin Punya Anak

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Mengenal Tahapan dan Filosofi Ritual Reba Ngada

BERIKUTNYA

Spesifikasi Game Returnal di PC yang Sudah Rilis, Cek Sinopsisnya Yuk!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: