Seniman Naufal Abshar memberikan paparan saat konferensi pers pameran Flash, Pow, Bham! di Jakarta, Jumat (25/11/2022). (Sumber gambar : JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Mix Media dalam Karya Seniman Naufal Abshar

25 November 2022   |   21:31 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Like
Beragam karya dari 2 dimensi sampai dengan 3 dimensi terdapat di pameran solo seniman Naufal Abshar bertajuk Flash, Phow, Bham yang terselenggara dari 26 November sampai dengan 18 Desember 2022 di Jakarta. Di antara karya-karya sang seniman, ada satu yang dapat dijumpai oleh para pencinta seni, yakni penggunaan mix media. 

Sang seniman terlihat menggunakan mix media dalam karya-karyanya, seperti Good Memories yang menggunakan mix media on wood berukuran 112 x 177 cm yang dibuat pada 2021, It's All About Business dengan mix media di atas kanvas berukuran 103 x 175 cm yang dibuat pada 2022, dan sebagainya. 

Meskipun mix media menjadi media atau ciri, sang seniman sebenarnya pada awalnya adalah seorang pelukis dengan media cat di atas kanvas. Perubahan menggunakan mix media dalam berkarya tidak terjadi begitu saja. 

Baca jugaSeniman Naufal Abshar Siap Pameran Tunggal Lewat Tajuk Flash, Pow, Bham!

Sang seniman melalui beberapa riset, keliling beberapa negara, dan mencoba mencari sesuatu yang unik hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakan mix media dalam beragam karyanya. 

Bagi sang seniman, penggunaan mix media adalah sebagai cara untuk mencapai atau menuangkan semua ide yang ada, yang tidak bisa dicapai dengan melukis dengan cat. "Mix media me-revalue konteks karena ada beberapa yang ingin dicapai atau di-capture," katanya. 

Sejumlah tantangan pun dihadapi oleh sang seniman dalam melakukan perubahan media yang digunakan dalam berkarya. Terlebih berbicara tentang koran yang kerap menjadi bagian dalam karya. Koran yang otentik memiliki sumber yang tidak banyak. 

Tidak hanya itu, mengkreasi karya dengan beragam media menjadi satu kesatuan juga merupakan tantangan tersendiri. Tantangan lain yang dihadapi oleh sang seniman adalah keluar dari zona nyaman. 

Selain berkarya 2 dimensi dengan mix media, sang seniman juga mulai memasuki seni instalasi. Karya seni instalasi yang ada di pameran tunggal ini dengan judul Flash, Pow, Bham juga merupakan stepping point untuk masuk ke dalam seni instalasi. 

Dia mengakui bahwa seni instalasi sangatlah menarik lantaran berbicara tentang instalasi akan berbiacara tentang pengalaman. "Berbicara instalasi itu all about experience," katanya. 

Menurutnya, karya seni instalasi memiliki konteks dan konsep yang lebih besar jika dibandingkan dengan karya 2 dimensi yang tidak bisa menangkap banyak momen. Karya seni instalasi dapat membuat banyak orang menangkap banyak momen dari berbagai sudut. 

Sang seniman juga pernah membuat sebuah karya digital performance ketika ikut pameran di Austria. Hanya saja, dia mengaku belum pernah melakukan live performance

Sang seniman mulai berkarya pada 2015 silam atau sudah 7 tahun sampai dengan saat ini. Selama 7 tahun itu, dia sudah melalukan pameran tunggal sebanyak empat kali, dan FLASH, POW, BHAM ! Can’s Gallery at SPAC8, Ashta District 8, Jakarta, adalah pameran tunggal yang keempat. 

Selain pameran tunggal, sang seniman juga telah melakukan sejumlah pameran grup baik di dalam maupun luar negeri. Pameran-pameran itu antara lain Art Stage Singapore 2018, Marina Bay Sands, Singapore;  Spring Meetings, IMF-World Bank, Washington DC, USA; Malaysian Art Fair, Kuala Lumpur, Malaysia; Art Jakarta, The Ritz Carlton Pacific Place,Jakarta,Indonesia; Entre Dos Pensamientos, Madrid, Spain; dan sebagainya. 

Naufal Abshar adalah seorang seniman Indonesia yang lahir pada 1993 di Bandung. Dia menyelesaikan studinya di Lasalle College of the Arts  yang bekerja sama dengan Goldsmith University of London.

Pada 2013, sang seniman memenangkan hadiah pertama dalam kompetisi live painting Indonesia Arts Festival. Sebagai seorang seniman, Naufal tertarik pada filsuf Henri Bergson dan Sigmund Freud yang kemudian membuat kian giat menelusuri makna tawa dan mengamati fungsi sosialnya.

Dia selalu mencoba memutar peran tawa atau humor menjadi kegiatan pengulangan yang membangun kritik sosial. Perpanjangan bentuk terhadap humor politik dapat ditemukan di sebagian besar karyanya, penggunaan tawa satir menggambarkan bagaimana sang seniman menggunakan tawa sebagai aktivitas yang dapat menyiratkan kritik.

Di samping humor dan ragam manifestasinya, kekaryaan Naufal sering kali menghadirkan bermacam aktivitas sosial melalui sudut pandang keseharian dan budaya terkini. Sang seniman berupaya membongkar tabir perkembangan serta perubahan kebiasaan-kebiasaan sosial pada saat ini.

Baca jugaTak Hanya Old Master, Ini 4 Seniman Muda Indonesia yang Karyanya Mendunia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

Sejarah Kelam Black Friday, Hari Belanja Besar-besaran Pasca Thanksgiving

BERIKUTNYA

Chuu Resmi dikeluarkan dari Girl Group LOONA, Ini Alasan Agensi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: