Awal mula istilah Black Friday ternyata bermula dari kisah kelam. (Sumber gambar: Pexels/Ivan Samkov)

Sejarah Kelam Black Friday, Hari Belanja Besar-besaran Pasca Thanksgiving

25 November 2022   |   18:49 WIB

Satu hari setelah Thanksgiving, masyarakat Amerika Serikat biasanya akan merayakan Black Friday, atau hari belanja dengan diskon besar-besaran yang diberikan supermarket, toko, dan para pengecer yang berjualan di Negeri Paman Sam.

Meski terkesan menyeramkan, tapi Black Friday merupakan hari yang ditungu-tunggu warga negara di sana. Pasalnya, momen tersebut akan menjadi salah satu hari tersibuk saat musim belanja dan liburan tiba di pekan terakhir bulan November.

Namun, meski populer sebagai hari diskon besar-besaran, awal mula istilah Black Friday ternyata bermula dari kisah kelam. Mengutip laman Britannica istilah tersebut awalnya digunakan polisi di Kota Philadelphia untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi setelah Thanksgiving pada 1950-an.

Pada saat itu, sejumlah besar turis dari daerah pinggiran datang ke kota untuk memulai belanja sekaligus liburan. Kedatangan mereka terjadi sebelum laga pertandingan sepak bola Angkatan Darat vs Angkatan Laut yang dilaksanakan setiap tahun.

Baca juga: Begini Tren Belanja Masyarakat Jelang Akhir Tahun

Kerumunan besar inilah yang kemudian membuat pusing para polisi. Sebab mereka harus bekerja shift lebih lama dari biasanya. Sebab, masalah juga bermunculan, mulai dari macet, keributan di toko-toko, serta hadirnya para pengutil yang memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan pribadi.

Peristiwa kelam setelah hari Thanksgiving ini kemudian membuat Black Friday memiliki konotasi negatif bagi warga AS. Hingga akhirnya pada 1960-an para pedagang yang merasa dirugikan mengubah namanya menjadi Big Friday. Tapi sayangnya upaya tersebut tidak berhasil.

Kendati begitu, Black Friday juga memiliki versi lain, yang tidak terkait dengan belanja. Hal itu terjadi pada 24 september 1869 saat dua pemodal Wall Street, Jay Gould dan Jim Fisk yang menimbun emas sebanyak mungkin di AS untuk dijual dengan harga tinggi.

Presiden Amerika Serikat Ulysses S. Grant yang turun tangan untuk mengatasi masalah itu malah menyebabkan harga emas anjlok di pasaran. Hal inilah yang akhirnya memicu kepanikan warga karena banyak dari mereka yang menjadi bangkrut.


Diskon Besaran-besaran untuk Menarik Minat

Setelah melakukan berbagai upaya untuk menggerakkan ekonomi yang sempat lesu, para pedagang akhirnya menemukan formula baru. Pada 1980-an untuk menghilangkan konotasi negatif Hari Black Friday toko dan reatil memberikan diskon besar-besaran untuk menarik minat para pembeli.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Swalayan-swalayan di AS kembali ramai dikunjungi pelangggan. Bahkan bagi para pedagang Black Friday disebut juga sebagai salah satu hari paling konsumtif di mana masyarakat biasanya berbelanja untuk hadiah Natal.

Kini, di era digital Black Friday juga diikuti tren belanja lain. Beberapa yang populer termasuk Cyber Monday untuk mempromosikan belanja online di hari Senin setelah Thanksgiving. Selain itu ada pula Small Business Saturday yang bertujuan untuk menggerakan ekonomi para pedagang lokal. Bahkan, ada juga Giving Tuesday yang dibuat untuk memacu donasi amal bagi yang membutuhkan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

Solois Rayhan Noor Merilis Single Anyar Mau Tak Mau

BERIKUTNYA

Mix Media dalam Karya Seniman Naufal Abshar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: