Pemilik Toko Atet (sumber gambar : GudangAda)

Intip Strategi Pemilik Toko Grosir Ini Dongkrak Omzet 3 Kali Lipat dalam 3 Bulan

21 November 2022   |   22:19 WIB
Image
Dewi Andriani Hypeabis.id

Di tengah kondisi masa pemulihan ekonomi pada masa pandemi, banyak pelaku usaha kecil menengah (uk) yang terus mencari peluang untuk tetap tumbuh lewat berbagai cara, salah satunya dengan mengadopsi solusi bisnis digital berbasis platform aplikasi. 

Apalagi jika bisnis yang dijalankan melibatkan banyak elemen seperti penetapan harga, mengatur stok, dan menjaga kualitas barang dalam jumlah besar seperti bisnis grosir. Dengan bergantinya pola berbelanja konsumen melalui berbagai lintas platform online, sehingga memaksa pedagang grosir dapat menyediakan barang dengan lebih cepat dan harga terbaik untuk mampu meningkatkan omzet. 

Baca juga: Menilik Prospek Bisnis Hair Style Pria yang Makin Bersinar

Salah satu kisah pelaku usaha yang mampu memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan bisnisnya adalah Adi Suryadi (35 tahun). Pria yang akrab disapa Adi ini adalah pemilik Toko Atet yang berhasil bertahan di tengah kondisi ekonomi yang kian dinamis hingga berhasil menaikkan omzet hingga tiga kali lipat.

Berdiri pada 80an, Toko Atet merupakan toko grosir yang menjual bahan pangan seperti sembako dalam jumlah besar. Hingga saat ini, toko yang terletak di Jalan Utan Jati, Jakarta Barat ini melayani lebih dari 2.500 pedagang retail. 

Sejak usia 20 tahun, Adi memutuskan untuk melanjutkan bisnis orang tuanya dan memutar otak untuk tetap mempertahankan pelanggan, bahkan meningkatkan bisnisnya lebih jauh lagi. Namun, untuk bisa mempertahankan usaha dengan berbagai tantangan yang dihadapi tentu bukan hal yang mudah bagi Adi. 

Saat pandemi Covid-19 melanda, terjadi penurunan omzet Toko Atet hingga mencapai 75 persen. Hal ini disebabkan karena turunnya jumlah pembeli yang berdampak kepada banyaknya stok barang kadaluarsa sehingga menimbulkan kerugian bagi Toko Atet.

Namun, Toko Atet perlahan berhasil bangkit dari keterpurukan itu dengan tetap mempertahankan kualitas layanan. “Bisnis niaga itu pekerjaan yang sebenarnya direct to social dan direct to people. Jadi, kita harus siap menghadapi berbagai macam karakteristik manusia,” ujarnya. 

Memahami situasi di tengah pandemi saat mobilitas konsumen dibatasi, dan daya beli konsumen yang melemah, Adi merasa strategi berbisnisnya pun perlu segera dibenahi. Salah satu opsi yang kemudian muncul dalam benak Adi adalah berbisnis secara digital. 

Adi pun mulai mendigitalisasi bisnisnya dengan mengembangkan bisnis melalui platorm e-commerce digital B2B. Dengan menerapkan solusi bisnis digital berbasis aplikasi dari GudangAda, Adi merasakan efisiensi yang meningkat sehingga semakin memudahkan Adi dalam menjalankan bisnisnya.

“Pada era yang serba digital ini, belanja kebutuhan pokok dalam jumlah yang sangat besar pun bisa dengan hanya melalui layar ponsel pintar saja. Karena itu, saya memutuskan menggunakan platform e-commerce B to B GudangAda,” ucapnya.

Baca juga: Memulai Bisnis Perlengkapan Outdoor Sejak SMA, Pria Ini Sukses Raup Omzet Miliaran

Melalui GudangAda, Adi dapat membeli barang langsung dari principal atau distributor dengan harga yang kompetitif, di sisi lain dia juga bisa menjual produknya secara digital sehingga dapat lebih memperluas pangsa pasar.

Bahkan dalam kurun waktu 3 bulan dia bisa meningkatkan omzet secara signifikan hingga lebih dari 300 persen karena pangsa pasarnya lebih luas dan tidak terbatas oleh jarak.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Nominasi FFI 2022 Mencerminkan Keragaman Tematik & Estetika

BERIKUTNYA

Mengintip Koleksi Hijab Perdana LaReine, Terinspirasi dari Serial Ottoman Turki

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: