Ilustrasi anak yang alami demam. (Sumber gambar: Pexels/Mart Production)

Penyakit Ginjal Misterius Serang Anak Usia Bawah 6 Tahun, Waspada Gejalanya Bun!

11 October 2022   |   13:56 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit gangguan ginjal misterius mengintai anak-anak di Indonesia. Fenomena ini menyerang anak di bawah usia 6 tahun. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menemukan ada ratusan kasus sejak awal 2022 dan kemungkinan kondisi tersebut terkait dengan infeksi Covid-19. 

Spesialis Anak Konsultan Nefrologi dari IDAI dr. Henny Adriani menerangkan gangguan ginjal misterius sejatinya merupakan ganguan ginjal akut. Ini adalah kondisi penurunan fungsi ginjal yang tiba-tiba. 

Namun demikian, kasus ganguan ginjal akut ini tiba-tiba melonjak tajam dalam dua bulan terakhir. Pihaknya pun tengah melakukan proses investigasi apa yang menjadi penyebabnya.

“Di seluruh Indonesia, ada sekitar 100 lebih kasus dari Januari. Tetapi melonjak dalam 2 bulan terakhir,” ujarnya dalam kanal YouTube IDAI TV, dikutip Hypeabis.id, Selasa (11/10/2022).

Baca juga: Kenali 3 Fungsi Ginjal yang Perlu Disadari

Gejala utamanya sama dengan gangguan ginjal akut, yakni dimulai dari jumlah kencing yang turun drastis kemudian tiba-tiba tidak keluar sama sekali. Namun yang membedakan adalah perjalanan penyakitnya yang begitu cepat, terjadinya mendadak, dan perburukannya juga cepat. ”Kami sebagai dokter anak itu menjadi hal yang tidak biasanya,” imbuhnya.

Beberapa gejala lainnya yang sangat kontras adalah, anak-anak di bawah 6 tahun ini mengalami demam, diare, gangguan saluran nafas, dan muntah. “Anak-anak datang dengan riwayat demam dan diare. Ada yang disertai dan tidak dengan gejala saluran napas misal batuk dan pilek,” jelas Henny.
 

Minuman manis bisa menyebabkan obestias dan membuat ginjal bekerja lebih berat. (Sumber gambar: Pexels/Cottonbro)

Minuman manis bisa menyebabkan obestias dan membuat ginjal bekerja lebih berat. (Sumber gambar: Pexels/Cottonbro)

Indikasi Terkait Covid-19

Menggunakan istilah gangguan ginjal akut progresif aktifikal untuk kasus ini, IDAI katanya belum bisa menemukan pasti penyebabnya. Semua masih diteliti, termasuk proses terjadinya dibandingkan dengan gangguan ginjal akut biasanya.

Kendati demikian, ada indikasi kondisi tersebut berkaitan dengan infeksi Covid-19, walaupun belum bisa dikonfirmasi secara pasti. Mengingat kasus terjadi pada anak di bawah 6 tahun, mereka belum bisa mendapat vaksinasi, kecuali pernah terinfeksi Covid-19 sebelumnya. 

“Kita melihat sebagian besar anak-anak ini punya bukti tentang infeksi Covid-19. Lalu kita berpikir apakah ini berhubungan, kita belum bisa mengonfirmasi,” tuturnya.

Henny menerangkan ginjal memang sangat mudah dipengaruhi kondisi eksternal, misal dehidrasi dan infeksi berat di tubuh. Jika mengalami gangguan, fungsi ginjal tentunya akan terganggu. 

Fungsi ginjal diketahui untuk membuang cairan berlebihan dari dalam tubuh, termasuk racun. Fungsi lain yakni mengatur tekanan darah, mengatur keseimbangan elektrolit, menyeimbangkan pH di dalam tubuh, dan produksi hormon tertentu yang mengatur tekanan darah. 

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Begini Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Kronis

Pada gangguan ginjal akut, kondisi ini selain karena dehidrasi dan infeksi di tempat lain, penyebabnya juga bisa dari ginjal itu sendiri. Sebagai contoh sindrom neurotik yakni kerusakan ginjal yang menyebabkan kadar protein di dalam urine meningkat sehingga tidak mampu memproduksi air yang cukup. Selain itu, gangguan ginjal akut juga bisa disebabkan kelainan bawaan dari lahir serta trauma alias kecelakaan. 

Biasanya mereka yang mengalami masalah pada ginjal tidak menunjukkan gejala pada awal penyakit. Adapun tanda spesifik yang perlu diperhatikan adalah produksi urine yang menurun dan tentunya warna urin. Apabila ada infeksi, warna urin tampak keruh dan terdapat bulir.

“Tanda dan gejala muncul belakangan,” imbuhnya. 

Apabila produksi air seni turun drastis, itu berarti fungsi ginjal tinggal 50 persen. Baru lah muncul gejala seperti tubuh anak akan bengkak, nafas cepat dan dalam, ganguan elektrolit, kejang karena tekanan darah tinggi, serta natrium di darah turun drastis.

Henny menyarankan apabila anak tidak buang kecil selama 6 jam, para orang tua sebaiknya waspada dan memeriksakan mereka ke fasilitas kesehatan. Sebab untuk ukuran anak di bawah 6 tahun, normalnya mereka buang air kecil 5-6 kali dalam sehari. 

Pemeriksaan penting untuk mengetahui penyebab anak tidak buang air kecil. Henny menyebut bisa saja itu terjadi karena anak kurang minum namun tidak menutup kemungkinan terjadi masalah pada ginjal. 

Sementara itu, Henny meminta agar orang tua memperhatikan kondisi kesehatan anaknya. Untuk menjaga kesehatan ginjal, cara paling mudah yakni memastikan anak terpenuhi kebutuhan cairannya dan mencegah mereka dari kondisi obesitas. “Minuman manis bisa menyebabkan obestias dan membuat ginjal bekerja lebih berat,” tegasnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Film Confidential Assignment 2: International Masuk 5 Besar Box Office Korea Selatan

BERIKUTNYA

Cek Bahaya Retinopati Diabetika pada Ibu Hamil, Bisa Berujung Kebutaan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: