Kebiasaan mengisap vape bisa menyebabkan kanker paru (sumber gambar : vaporessp /unsplash)

Waspada! Kebiasaan Mengisap Vape Bisa Menyebabkan Kanker Paru

13 September 2022   |   18:30 WIB
Image
Dewi Andriani Hypeabis.id

Fenomena rokok elektrik yang dikenal dengan istilah vape, saat ini tengah populer di kalangan masyarakat. Pasalnya, banyak orang menganggap bahwa mengisap vape lebih aman dibandingkan dengan merokok karena kadar nikotin yang lebih rendah. 

Padahal, ada bahaya mengintai di balik penggunaan vape loh, Genhype. Medical Underwriter Sequis, Debora Aloina Ita Tarigan, mengatakan walau vape mungkin tidak memiliki kandungan nikotin sebanyak rokok konvensional, tetapi kandungan nikotin yang ada tetap bahaya. Risiko yang ditimbulkan juga tidak main-main, mulai dari batuk hingga potensi kanker paru. 

“Pada vape terdapat kandungan karsinogen dan nikotin yang berpotensi menyebabkan iritasi tenggorokan dan gangguan saluran pernapasan. Paparan rokok asap vape tidak hanya berbahaya bagi penggunanya tapi juga bagi sekelilingnya. Terutama, bagi anak-anak karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa," ujarnya. 

Baca juga: Yakin Vape Lebih Aman Ketimbang Rokok? 

Dia menyatakan bahwa asap vape juga dapat menempel pada permukaan benda dan berpotensi masuk ke dalam organ tubuh. Asap atau uap yang terkandung itu, bisa menyebabkan adiksi jangka panjang karena termasuk sebagai polutan, bahan kimia,  dan radiasi yang dapat menyebabkan radang hingga iritasi pada paru. 

Peradangan dapat berlangsung singkat hingga kronis. Jika terjadi iritasi berkepanjangan, hal tersebut berpotensi merusak organ pernapasan dan memicu penyakit kritis, seperti kanker paru kronis dan penyakit jantung. 

“Gejala kanker paru biasanya tidak dapat dideteksi cepat dan awam, dibutuhkan serangkaian pemeriksaan fisik maupun laboratorium, seperti pemeriksaan dahak, X-Ray, CT scan paru, biopsi paru dan bronkoskopi untuk menegakkan diagnosis kanker paru," jelasnya. 

Penyakit kanker paru masih bisa dikendalikan atau dikontrol, tetapi sangat sedikit kemungkinan untuk sembuh total. Ada beberapa pilihan pengobatan kanker paru, yakni pembedahan atau operasi, target terapi, radioterapi dan kemoterapi.  

Untuk pengobatan dengan kemoterapi hanya dapat dilakukan ketika karsinoma sel kecil telah menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga tidak mungkin dilakukan pembedahan. Proses pengobatannya membutuhkan tindakan medis berbiaya besar, waktu yang panjang, peralatan medis yang lengkap dan canggih mulai dari rawat jalan, rawat inap, dan rawat jalan pascarawat inap. 

Baca juga: Wahai Pengguna Vape, Waspada Efek Inflamasi di Organ Tubuh 


Kanker Paru 

Mengingat bahaya kanker paru, Debora mengajak masyarakat ikut aktif menurunkan prevalensi kanker paru. Pasalnya, kasus kematian pada kanker paru merupakan yang tertinggi di Indonesia. Dia menyarankan agar perokok dan pengguna vape meninjau kembali kebiasaan mereka. 

Dia juga mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan diimbangi dengan istirahat yang cukup. Perlu juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mencegah kanker paru, mulai dari medical check-up standard hingga rontgen dada atau CT scan paru. 

Risiko terpapar nikotin dan vape tidak saja mengganggu penggunanya tapi juga mereka yang hidup bersama atau dekat dengan pengguna, sehingga menjaga hidup sehat saja dirasa tidak cukup. Kita juga perlu melakukan tindakan preventif, yakni melengkapi diri dan keluarga dengan proteksi kesehatan yang komprehensif.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Syaiful Millah 
SEBELUMNYA

Intip Yuk 3 Peluang Bisnis Virtual Waralaba ala Korea, Modal dari Rp1 Jutaan

BERIKUTNYA

BBM Naik, Begini Tips Keuangan untuk Milenial di Tengah Ancaman Inflasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: