Ilustrasi dataran tinggi (Sumber gambar: Unsplash/Andri Hermawan)

Dieng Culture Festival Digelar, Simak Asal-Usul Sejarah Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal

04 September 2022   |   06:36 WIB

Like
Pesta budaya Dieng Culture Festival (DCF) ke-13 yang memperkenalkan warisan kebudayaan Dieng kepada publik kembali digelar pada 2-4 September 2022. Berlokasi di di Desa Wisata Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah, festival yang terkenal dengan acara Jazz Atas Awan ini dinantikan banyak pihak.

Salah satu acara budaya terbesar di Indonesia ini memang terus diadakan setiap tahun sebagai jembatan penyelaras antara warisan leluhur dengan kondisi masyarakat yang terus berubah di dataran tinggi yang terkenal dingin itu.

Dikutip dari festivaldieng.id, Dieng Culture Festival tahun ini diselenggarakan dengan tema Return of the Light sebagai representasi dari semangat, harapan, dan cita-cita untuk bangkit, berdiri, dan kembali bersinar setelah Industri wisata di kawasan tersebut karena pandemi.

Sebagai acara inti dari festival tersebut, ruwatan rambut gimbal sendiri adalah upacara pemotongan (cukur) rambut pada anak-anak berambut gimbal (gembel) yang dilakukan oleh masyarakat di dataran tinggi Dieng sebagai tradisi turun temurun.

Baca jugaSimak Sejarah Kompleks Rambut Gimbal yang Eksis Sejak 1.500 SM

Ritual ruwatan yang biasanya diadakan pada tanggal satu Suro menurut Kalender Jawa ini bertujuan untuk membersihkan atau membebaskan anak-anak berambut gimbal dari sukerta/sesuker yang berarti kesialan, kesedihan, atau malapetaka.

Dikutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, ruwatan berasal dari kata ruwat yang artinya melepas dari nasib sial. Acara ruwatan biasanya dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan sebagai persyaratan khusus yang disebut "bebana".

Masyarakat Dieng meyakini bahwa munculnya rambut gimbal pada anak-anak mereka adalah titipan dari Kyai Kolodete, seorang punggawa di masa Mataram Islam  yang ditugaskan mempersiapkan pemerintahan di wilayah Dieng.

Konon, demi kemakmuran desa Kyai Kolodete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa yang dibukanya menjadi makmur. Hal inilah yang  kemudian menyebabkan keturunannya akan mempunyai ciri rambut yang sama atau gimbal. 

Versi lain juga menyebutkan bahwa saat tiba di dataran tinggi Dieng  Kyai Kolodete dan istrinya Nini Roro Rence mendapat wahyu dari Ratu Nyai Roro Kidul, bahwa pasangan itu ditugaskan membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan.
 

Tolok ukur kesejahteraan masyarakat Dieng akan ditandai dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal. Sejak itulah kemudian muncul anak-anak di sana yang pada usia tertentu antara 40 hari hingga 6 tahun tumbuh rambut gimbal secara alami di kepalanya.

Dalam tahapannya, sebelum acara cukur rambut anak-anak gimbal dilakukan juga ada ritual doa di beberapa tempat, yakni Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatotkaca, Telaga Balaikambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, Gua di Telaga Warna, Kali Pepek, serta tempat pemakaman Dieng. 

Keesokan harinya setelah ritual dan doa-doa dilaksanakan barulah kemudian dilakukan acara kirab budaya menuju tempat pencukuran rambut sebagai acara inti. Selama berkeliling desa anak-anak ini juga dikawal para sesepuh hingga tokoh masyarakat setempat.

Baca jugaTengok Fenomena Embun Upas yang Muncul di Dataran Tinggi Dieng

Selain pemotongan rambut gimbal, Dieng Culture Festival juga memiliki beragam acara pendukung dalam pagelaran budaya ini seperti pertunjukan seni, festival kembang api, gebyar damar kurung, jazz atas awan, hingga penerbangan lampion secara massal.

Nah itulah dia Genhype asal-usul sejarah tradisi unik pemotongan rambut di Dieng Culture Festival  beserta acara pendukung lainnya. Kalian tertarik  untuk ke sana? 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor : Gita Carla
 
SEBELUMNYA

Harga BBM Naik, Yuk Simak 6 Kiat Menghemat Bensin Motor

BERIKUTNYA

6 Ciri Etika Baik saat Berkencan, Bisa Jadi Lampu Hijau untuk Cari Pasangan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: