Ilustrasi embun es menutupi dedaunan (Sumber gambar: Laura Adai/Unsplash)

Tengok Fenomena Embun Upas yang Muncul di Dataran Tinggi Dieng

01 July 2022   |   08:22 WIB

Fenomena embun beku atau yang dikenal dengan sebutan embun upas mulai muncul di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Embun upas terjadi lantaran penurunan suhu udara di wilayah itu yang mencapai minus 1 derajat celcius.

Penampakan fenomena embun upas pun terlihat dalam satu unggahan di media sosial dari akun Instagram @ora_alone. Dalam unggahan itu, tampak rerumputan di sekitar Dataran Tinggi Dieng diselimuti embun es.

"Musim dingin telah tiba. Suhu di kawasan Dieng pagi ini kembali mencapai titik beku, terlihat embun es di beberapa lokasi. Suhu berada di minus 1,5 derajat celcius pada dini hari," tulis akun @ora_alone dikutip Jumat (1/7/2022).

Baca juga: Kuy ke Karimunjawa! Ini 10 Rekomendasi Destinasi Wisata yang Wajib Dicoba
 

Melansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), embun upas adalah embun dingin dan beku yang turun ketika muncul fenomena suhu udara menjadi sejuk. Menurut masyarakat Dieng, embun upas juga disebut sebagai embun racun, karena embun es itu menyelimuti tanaman kentang dan efeknya membuat tanaman kebun menjadi mati.

Terbentuknya embun beku biasanya didahului dengan suhu dingin ekstrem di dataran Dieng yang disebut bedidhing (bediding). Bedidhing adalah istilah untuk menyebut perubahan suhu yang signifikan, khususnya pada awal musim kemarau. 

Saat terjadi fenomena bedidhing, suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi, sementara pada siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat. Perubahan suhu udara ekstrem ini sebetulnya fenomena alam yang umum terjadi pada bulan-bulan puncak musim kemarau yakni Juli-September.
 

Penyebab terjadinya embun upas

Beberapa faktor penyebab terbentuknya embun beku atau embun upas yang didahului oleh suhu dingin ekstrem di Dieng antara lain gerak semu matahari, instrusi suhu dingin dan laju penurunan salju terhadap ketinggian.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menjelaskan umumnya pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

"Angin Moonsoon Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia  memiliki suhu permukaan laut yang relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa [Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara]  juga terasa lebih dingin," jelasnya.

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara juga turut berpengaruh suhu yang dingin di malam hari. Menurut Herizal, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Selain itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) juga akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar. "Kondisi tersebut membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari," imbuhnya.

Hal inilah yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari. Herizal pun menerangkan fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi tiap tahun, bahkan hal ini pula yang nantinya dapat menyebabkan beberapa tempat seperti di Dieng dan dataran tinggi atau wilayah pegunungan lainnya, berpotensi terjadi embun es (embun upas) yang kerap dianggap salju oleh masyarakat.

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

Maxime Bouttier Debut Bintangi Film Hollywood, Adu Akting dengan Julia Roberts & George Clooney!

BERIKUTNYA

Label Musik TuneCore Tawarkan Program Spesial untuk Musisi Independen

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: