Koleksi seni dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2015 di Galeri Nasional. (sumber gambar: JIBI)

Nusantara dalam Bingkai Seni Rupa

29 July 2022   |   14:57 WIB

Like
Nusantara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti cara lain menyebut seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Namun, seniman ternyata memiliki cara yang berbeda dalam memaknai Nusantara. Hal itu terlihat dalam Pameran Seni Rupa Nusantara yang diselenggarakan di Galeri Nasional.

Pameran dwi tahunan yang dirintis sejak 2001 ini ternyata memberikan ruang yang luas sekaligus menantang para perupa untuk menyajikan Nusantara dalam secara multitafsir. Pameran Seni Rupa Nusantara 2015 mengusung tema Art-Chipelago.

Dalam pameran yang digelar untuk kedelapan kalinya tersebut, para kurator dan panitia kembali menantang para perupa untuk menggali lebih dalam konteks kenusantaraan yang kemudian diejawantahkan dalam bentuk karya.

Baca juga: Semangat Keindonesiaan Seniman Kontemporer Bergelora di Pameran Manifesto VIII Galnas

Tidak tanggung-tanggung, dalam gelaran kali ini didukung oleh sederet kurator kenamaan seperti Suwarno Wisetrotomo, Asikin Hasan, dan A. Sujdud Dartanto. Mereka mengkurasi beragam karya dari 97 perupa Indonesia, tiga perupa asal Malaysia, dan empat perupa asal Filipina.

Karya yang dipamerkan para perupa sangat beragam, mulai dari lukisan, instalasi, seni grafis, keramik, komik, video art, hingga multimedia. Kurator Asikin Hasan menuturkan arti dari tema ArtChipelago adalah akronim dari kata art dan archipelago.

”Artinya bahwa seni itu sebenarnya seperti kepulauan yang ada di Indonesia ini, jumlahnya tak terhingga, dan tak ada habisnya ketika kita terus gali maknanya,” ujarnya.


Pameran Art-Chipelago mengajak para perupa untuk menumbuhkan kesadaran bahwa identitas kesenirupaan bukanlah sesuatu yang final. Mereka diajak untuk tak terpaku dalam sebuah bingkai identitas, yang pada akhirnya membatasi hanya gerak kreativitas para perupa.

Aspek kenusantaraan yang diangkat dalam pameran ini, diterjemahkan oleh seniman Ramadhani Kurniawan melalui karyanya patungnya yang berjudul Nusantara Warna (kawat galvanis, cat besi dan clear, 115 x 132 x 19 cm, 2014).

Dalam karyanya, Ramadhani membuat lambang burung garuda yang dianyam dari bahan kawat besi. Namun, dalam karya ini tidak terlihat lima logo Pancasila yang biasa dilihat pada bagian dada sang Garuda. Perupa asal Yogyakarta ini menggantikan lima logo penyusun Pancasila, dengan lima warna yakni putih, kuning, hijau, merah, dan hitam.

”Bagi saya, ungkapan berbeda-beda tapi tetap satu itu lebih terwakilkan melalui kawat besi yang menyusun anyaman burung garuda ini. Makanya saya tak menampilkan logo Pancasila di dada garuda tersebut,” katanya dikutip dari Bisnis Indonesia Weekend edisi 5 Agustus 2015.

Di dinding pamer lain, tergantung karya lukisan dari Toto Kastareja yang berjudul On Ward (cat minyak di atas kanvas, 200 x 200 cm, 2015). Dalam lukisan ini, dia menggambarkan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sedang berjalan sembari melambaikan tangan ke berbagai arah.

Di belakangnya terdapat gambar anak-anak Sekolah Dasar dan masyarakat yang tampak sumringah menyaksikan dua pemimpin Negara tersebut melintas.

Baca juga: Terapi Seni, Begini Faktanya Bahwa Mewarnai Dapat Membantu Relaksasi

Di sisi kanan dan kiri Jokowi dan Jusuf Kalla, terdapat dua orang pengawal yang tampak sibuk mengawasi. Uniknya, Toto melukisnya dengan cara menampilkan bentuk segitiga dan dari sejumlah garis koordinat untuk membentuk obyek lukisannya.

”Saya mengganggap bahwa melalui Jokowi dan Jusuf Kalla adalah harapan  masyarakat akan perubahan menuju kebaikan yang lama diragukan, kini kembali muncul. Jadi, saya harap mereka tak lantas mengecewakan amanat dari masyarakat tersebut,” ujar Toto.
 

Koleksi seni dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2015 di Galeri Nasional. (sumber gambar: JIBI)

Koleksi seni dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2015 di Galeri Nasional. (sumber gambar: JIBI)



BUDAYA MISTIK
Bingkai pemikiran tentang kenusantaraan juga ditampilkan oleh seniman Chuwalid Awaludin. Dalam karyanya yang berjudul Budaya Mistik Indonesia (cetak digital empat seri, 59 x 84 cm, 2014-2015), menampilkan empat buah lukisannya yang bercerita tentang fenomena pesugihan di Indonesia.

Meski merupakan sindiran, dia melukiskannya dengan jenaka, dan sama sekali jauh dari aspek yang menyeramkan. Penggunaan warnanya pun cenderung berani dan terkesan tak biasa. Seperti di lukisan pertama, dia melukis sosok perempun yang sedang digoda oleh setan di kuburan.

Akan tetapi setan tersebut justru dibuat mencolok dengan warna kuning yang digunakan sebagai pewarna tubuhnya. Pada bingkai yang lain, dilukiskan sosok tuyul justru digambarkan secara jenaka karena menunggangi  Tyranosaurus Rex berwarna merah muda.

Berpindah ke bingkai yang lain, terlukis sosok genderuwo yang digambarkan menyerupai bentuk gorila. Kurator Asikin Hasan menilai karya Chuwalid ini cenderung bernuansa sarkastik. ”Melalui karyanya ini, Chuwalid seakan mengejek kebiasaan beberapa masyarakat Indonesia yang masih bertahan dengan budaya mistik tersebut,” katanya.

Baca juga: Surealisme, Aliran Seni yang Mengeksplorasi Alam Bawah Sadar

Azzad Diah Ahmad Zabidi yang merupakan perupa asal Malaysia, menampilkan karya instalasinya yang berjudul This Is Not What You’re Looking For (kertas, pasta gandum, 366 x 533 cm). Aspek kenusantaraan di maknai Azzad dengan menggugat aspek identitas dirinya sendiri.

”Dia seakan berbicara melalui karyanya, bahwa identitas dirinya justru dibentuk oleh pandangan orang. Padahal dia menganggap dirinya bukanlah yang digambarkan oleh orang-orang,” ujar Asikin. (Yustinus Andri & Diena Lestari)

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Game GTA 6 Bakal Hadirkan Karakter Perempuan yang Bisa Dimainkan

BERIKUTNYA

Desainer Ini Beri Masukan Jika Citayam Fashion Week Ingin Jadi Ajang Fesyen Profesional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: