Ilustrasi artis atau figur publik muda. (Sumber gambar: Freepik)

Artis Remaja Perlu Siapkan Mental untuk Hadapi Tekanan sebagai Figur Publik

29 July 2022   |   09:17 WIB

Baru-baru ini, kita menyaksikan figur publik remaja yang menghadapi tekanan serta kritik dari sebagian pihak. Luapan emosi penyanyi muda, Keisya Levronka, di media sosial setelah diduga mengalami perundungan di televisi nasional dan amukan Jeje (Citayam Fashion Week) jadi contoh respons tekanan publik terhadap artis muda.

Respons dari kedua figur publik yang masih belia itu didasarkan pada kritik dari sejumlah pihak, misalnya artis senior maupun masyarakat, yang cenderung memberikan sorotan terhadap berbagai hal yang dilakukan oleh artis tersebut.

Menurut psikolog umum Yosefin, perasaan yang dialami oleh para figur publik yang saat ini masih berusia belasan tahun sampai awal 20an tahun merupakan hal yang wajar karena semua orang dari berbagai usia juga bisa mengalami hal tersebut. Namun, hal yang sering menjadi masalah adalah saat penyaluran emosi yang dirasakan karena sebagian remaja melakukannya dengan kurang baik.

Baca juga: Awas, 5 Gangguan Mental Ini Mengintai karena Overthinking

"Emosi yang mereka terima adalah valid, tapi yang jadi persoalan tindakan mereka saat merasakan emosi tersebut ditambah mereka jadi figur publik membuat tindakan jadi sorotan dan mendapatkan penilaian dari masyarakat," ujar Yosefin dalam wawancara kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan bahwa penyebab dari respons tersebut karena dilatarbelakangi oleh pengalaman yang minim, kestabilan emosi yang kurang baik, dan banyaknya tuntutan dan tekanan dari penggemar hingga masyarakat yang membuat mereka sulit mengontrol perasaan dan tindakan yang tidak seharusnya terjadi.

Kendati bahwa anak-anak muda saat ini sudah cukup melek dengan hal-hal terkait dengan kesehatan mental, bagi Yosefin hal tersebut tidaklah cukup. Hal tersebut membuat pentingnya dukungan dari berbagai pihak seperti keluarga dan teman terdekat serta orang-orang yang ahli dalam penanganan kesehatan mental seperti psikolog.

Tak hanya itu, kematangan berpikir dan stabilitas emosi dalam diri individu juga diperlukan oleh anak-anak muda yang menjadi artis atau figur publik tersebut agar mereka bisa menanggapi berbagai respons positif dan negatif dari masyarakat yang tidak bisa dikendalikan.

Di sisi lain, psikolog klinis Ine Indriyani mengatakan bahwa kesiapan seorang anak muda untuk menjadi artis atau figur publik harus dilihat dari kondisi dan situasi yang bersangkutan serta adaptasi yang dihadapinya. Jika adaptasi yang dilakukan berjalan dengan baik dan ada dukungan orang-orang terdekat, maka risiko breakdown atau munculnya respons kurang baik bisa berkurang.

Upaya ini perlu dilakukan karena besarnya tekanan untuk menjadi seorang artis atau figur publik sebagai dampak dari minimnya batasan antara hal yang seharusnya masuk ke ranah publik dan ranah privat. Dampak lain dari minimnya kepercayaan diri dan kemampuan untuk menerima berbagai masukan yang diterimanya membuat risiko tekanan yang dialami anak muda yang menjadi figur publik semakin tinggi.

"Orang yang memiliki kebutuhan perhatian dan penerimaan/validitas dari orang lain lebih tinggi daripada kepercayaan terhadap diri sendiri, tidak kuat dengan beberapa komentar negatif, labil, dan tidak punya support system berisiko mudah breakdown karena emosinya terombang ambing," tambah Ine.


Pentingnya pendidikan etika di media sosial

Dengan risiko yang besar dari tekanan yang dirasakan para artis muda, Ine menyarankan perlunya pendidikan etika sebagai hal dasar yang diajarkan sejak dini di dalam keluarga dan sekolah. Pendidikan ini meliputi batasan yang harus dibagikan di media sosial, beretika yang baik dan santun, serta mengetahui waktu yang sesuai atau tepat dalam menanggapi orang lain di media sosial.

Hal ini juga termasuk dalam bagaimana cara menyampaikan komentar bersifat kritik di media sosial dengan cara yang santun, sehingga masyarakat bisa mengetahui kapan memberikan komentar yang menjaga emosi dan mental orang lain dan di saat yang sama bisa membangun seorang individu ke arah yang lebih baik.

"Apa yang dilakukan orang tua [atau orang dewasa lainnya] akan dilakukan oleh anak, sehingga mereka harus tahu batasan kapan boleh memakai media sosial untuk kegiatan yang diunggah. Batasan dari rumah ada kaitannya dengan keamanan dan hukum," ujarnya.

Baca juga: Riset Ini Tunjukkan Kebiasaan Bermedia Sosial Masyarakat Indonesia, Genhype Setuju?

Dia juga mencatat bahwa dari sisi artis atau figur publik muda, hal yang harus disadari lebih dulu adalah bahwa ada sebagian hal dalam diri individu yang bersangkutan merupakan milik publik. Sebagai dampaknya, hal-hal yang dilakukannya akan mempengaruhi publik, termasuk dengan tren yang diamini sebagian masyarakat dan segala hal yang dilakukan tak luput dari perhatian publik.

Karena inilah, dia mengimbau para artis dan figur publik muda untuk berhati-hati dengan tindakannya beserta mengetahui dampak dan risiko dari tindakannya di masa yang akan datang. Tak lupa, pendidikan etika juga penting agar pola pikir yang dibangun tetap mempertimbangkan aspek sosial dan kemanusiaan serta terlepas dari popularitas dan pola pikir komersial atau kapitalis.

"Artis perlu menahan diri saat menyindir atau bertindak impulsif karena ada kejadian yang kurang menyenangkan. Coba dipikir dulu dampaknya ke depan bagaimana dari etika dan sikap serta batasannya bagaimana. Secara umum etika bersosial media belum terlalu baik dijalankan," katanya.

Yosefin menambahkan bahwa dukungan orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, hingga lingkaran ekosistem yang menaungi artis dan figur publik muda dari berbagai bidang dan kesiapan mental individu menjadi poin penting yang harus ditingkatkan. Hal ini diyakini perlu di tengah besarnya tekanan dari industri hiburan yang sudah menjadi rahasia umum.

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Inspirasi 'Novel' & Semangat Generasi Muda Jadi Energi dalam Buku Ekonomi Sirkuler

BERIKUTNYA

5 Cara Merawat Baterai Ponsel Android & iPhone Biar Awet & Tahan Lama

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: