Ilustrasi penyakit Neuropati Perifer. (Sumber gambar: Freepik)

Simak Penjelasan, Gejala, dan Pencegahan Penyakit Neuropati Perifer

20 June 2022   |   18:46 WIB

Kalau Genhype pernah mengalami gejala kesemutan yang terjadi ketika anggota tubuh seperti tangan dan kaki berada dalam posisi normal, maka kalian sudah harus mulai mewaspadai gejala penyakit Neuropati Perifer yang biasa terjadi pada bagian saraf pada tubuh dan wajah.

Penyakit saraf yang umum bagi masyarakat Indonesia ini biasanya menargetkan pada bagian saraf tepi atau saraf perifer, di mana penyakit ini mengganggu fungsi saraf dalam mengirimkan sinyal dari organ ke otak dan sebaliknya serta mengganggu fungsi gerak tubuh, mengeluarkan keringat, hingga meningkatkan detak jantung dan mengatur tekanan darah.

Gangguan ini terjadi karena Neuropati Perifer berdampak pada bagian sensorik, motorik, otonom, dan campuran. Akibatnya, penyakit ini bisa mengenai bagian tubuh seperti kaki dan tangan serta wajah dengan intensitas yang bervariasi dari ringan sampai berat.

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Sindrom Ramsay Hunt dan Bell's Palsy

Penyebab dari Neuropati Perifer bervariasi dari genetik (jika riwayat penyakit diturunkan dari keluarga), kekurangan vitamin B1, B6, B12, dan vitamin E, infeksi bakteri dan virus seperti HIV dan cacar, diabetes, adanya defisiensi dan degenerasi pada tubuh, hingga efek samping konsumsi obat pada jangka panjang dan kerusakan saraf akibat cedera.
 

Gejala Neuropati Perifer

Ada beberapa gejala yang terjadi pada penderita Neuropati Perifer, di mana gejala ini bisa bervariasi dari rasa kesemutan yang lama dan sering hingga adanya beberapa masalah pada fungsi tubuh.
  • Rasa kesemutan, kram, kebas, atau mati rasa
  • Sulit bergerak
  • Rasa nyeri pada bagian tangan dan/atau kaki
  • Hilangnya keseimbangan tubuh
  • Rasa sakit kepala yang sering dan bertambah berat
  • Respons otak yang melambat
  • Sering buang air kecil
  • Adanya keringat berlebih
  • Rasa terbakar pada bagian tubuh tertentu
  • Rasa kaku
  • Kulit kering atau mengilap

Ketua Pokdi Neuro Fisiologi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dr. Manfaluthy Hakim, menjelaskan bahwa gejala utama seperti kebas dan kesemutan bisa mulai dirasakan oleh masyarakat berusia minimal 26 tahun hingga 30 tahun ke atas.

"Tingginya aktivitas dan gaya hidup masyarakat Indonesia berisiko menyebabkan Neuropati Perifer," tambahnya dalam webinar dan konferensi pers Neuropathy Awareness Week – Feel Life Campaign, Senin (20/6/2022).
 

Siapa saja yang berisiko mengalami Neuropati Perifer?

Menurut Manfaluthy, pada dasarnya semua masyarakat berisiko mengalami penyakit syaraf tersebut, tapi dia merincikan beberapa masyarakat yang paling berisiko terhadap penyakit ini.
  • Berusia tua (lansia)
  • Penderita diabetes
  • Orang-orang dengan riwayat penyakit Neuropati Perifer
  • Penderita hipertensi dan penyakit pembuluh darah serta jantung
  • Orang-orang dengan gaya hidup kurang sehat, misalnya merokok dan kecanduan alkohol
  • Penderita kanker
  • Orang-orang yang terpapar bahan kimia, misalnya merkuri dan arsenik
  • Orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang

Tidak hanya itu penyakit ini juga berisiko bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi dan berat badan yang berlebihan.

Baca juga: 4 Cara Mencegah Heat Stroke saat Olahraga pada Siang Hari
 

Dampak Penyakit

Setidaknya ada beberapa dampak dari Neuropati Perifer yang menyerang bagian tubuh seperti tangan, kaki, hingga wajah. Dampak ini bervariasi dari adanya luka sampai depresi.
  • Luka yang penyembuhannya lambat
  • Penurunan berat badan
  • Penurunan kekuatan motorik pada bagian tubuh, sehingga menyebabkan bagian tubuh yang mengalami penurunan memiliki ukuran kecil dan struktur yang berubah
  • Penurunan sensasi rasa, sehingga tubuh mudah terluka
  • Impotensi
  • Depresi karena kualitas hidup yang berkurang
 

Pencegahan dan Tindakan

Manfaluthy menyarankan tiga tindakan yang paling mudah dilakukan untuk mencegah peningkatan risiko Neuropati Perifer, di mana pencegahan ini meliputi istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi, dan olahraga yang teratur.

Tidak hanya itu, deteksi dini bisa menjadi kunci dari pencegahan penyakit ini dengan berkonsultasi kepada dokter jika memiliki gejala kesemutan yang tidak biasa. Pencegahan dini dengan konsultasi secara umum bisa membantu regenerasi serabut saraf yang berdampak pada penurunan risiko.


Editor: Gita Carla
SEBELUMNYA

Perhatikan! Tanda-tanda RAM Komputer Sedang Bermasalah

BERIKUTNYA

Kuy ke Karimunjawa! Ini 10 Rekomendasi Destinasi Wisata yang Wajib Dicoba

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: