Kiat Menstabilkan Berat Badan Usai Libur Panjang
04 January 2026 |
11:30 WIB
Saat libur panjang, banyak orang melepas rutinitas dan lebih bebas dalam memilih makanan maupun aktivitas. Akibatnya, setelah masa libur panjang berakhir, banyak orang mendapati berat badan meningkat karena asupan makanan berlebih dan pola aktivitas yang kurang terjaga.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Oki Yonatan Oentiono mengatakan banyak orang biasanya tidak menyadari berat badannya bertambah setelah melewati masa libur panjang. Hal ini kerap terjadi karena muncul anggapan bahwa selama liburan tubuh lebih aktif bergerak.
Baca juga: Apakah Mengurangi Karbohidrat Itu Baik Untuk Menurunkan Berat Badan?
Meski selama liburan aktivitas fisik terasa lebih padat, penyebab utama naiknya berat badan lebih sering terjadi karena lonjakan asupan kalori yang jauh lebih besar. Alhasil, walaupun libur panjang dihabiskan dengan banyak berjalan dan berpindah tempat, konsumsi kalori sering kali meningkat tanpa disadari.
Dokter Oki menyebut selama liburan, pilihan makanan yang tersedia umumnya cenderung lebih tinggi kalori karena mengandung banyak lemak, gula, dan karbohidrat olahan. Porsi makan yang lebih besar, konsumsi minuman manis, hingga alkohol yang kerap luput diperhitungkan, membuat asupan energi semakin berlebih.
Di sisi lain, katanya, aktivitas seperti berjalan-jalan memang menguras tenaga, tetapi intensitasnya sering kali belum cukup untuk menyeimbangi kalori yang masuk. Hal ini belum ditambah dengan perubahan jam tidur selama liburan yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
"Kondisi ini mendorong seseorang untuk makan lebih banyak tanpa disadari," katanya.
Namun, kenaikan berat badan saat libur panjang tak hanya karena penumpukan lemak. Dokter Oki mengatakan konsumsi garam dan karbohidrat yang tinggi dapat memicu tubuh menahan lebih banyak cairan, sehingga angka timbangan meningkat dalam waktu singkat.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Oki Yonatan Oentiono mengatakan kenaikan berat badan seusai libur panjang merupakan kondisi yang wajar, tetapi perlu segera disikapi agar tidak berlarut dan berdampak pada kesehatan. Dengan strategi yang tepat, berat badan sebenarnya dapat kembali stabil tanpa harus menjalani diet ekstrem yang justru berisiko bagi tubuh.
Dokter Oki menyarankan agar kenaikan berat badan selama libur panjang disikapi dengan lebih santai. Dia mengibaratkan masa liburan sebagai fase cheating yang wajar terjadi. Namun, dirinya juga menekankan agar pola tersebut tidak diteruskan ketika rutinitas harian kembali berjalan.
Selain itu, jika pun berat badan naik, dokter Oki juga menyarankan agar tak perlu khawatir berlebihan. Sebab, kenaikan berat badan yang terjadi secara cepat saat liburan umumnya dipengaruhi oleh penumpukan cairan, akibat konsumsi garam yang tinggi. Kondisi ini biasanya akan berangsur turun dalam waktu satu hingga dua minggu tanpa perlu menjalani diet ketat atau ekstrem.
Meski demikian, pola hidup yang kurang teratur tetap perlu segera dibenahi. Upaya perbaikan dapat diawali dengan menata kembali pola makan sehari-hari agar lebih teratur. Perbanyak asupan protein, sayuran, dan air putih.
Selain pengaturan makan, aktivitas fisik juga perlu kembali dioptimalkan. Mengajak tubuh lebih aktif bergerak membantu menjaga keseimbangan energi dan mendukung proses penyesuaian berat badan secara bertahap.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Oki Yonatan Oentiono mengatakan banyak orang biasanya tidak menyadari berat badannya bertambah setelah melewati masa libur panjang. Hal ini kerap terjadi karena muncul anggapan bahwa selama liburan tubuh lebih aktif bergerak.
Baca juga: Apakah Mengurangi Karbohidrat Itu Baik Untuk Menurunkan Berat Badan?
Meski selama liburan aktivitas fisik terasa lebih padat, penyebab utama naiknya berat badan lebih sering terjadi karena lonjakan asupan kalori yang jauh lebih besar. Alhasil, walaupun libur panjang dihabiskan dengan banyak berjalan dan berpindah tempat, konsumsi kalori sering kali meningkat tanpa disadari.
Dokter Oki menyebut selama liburan, pilihan makanan yang tersedia umumnya cenderung lebih tinggi kalori karena mengandung banyak lemak, gula, dan karbohidrat olahan. Porsi makan yang lebih besar, konsumsi minuman manis, hingga alkohol yang kerap luput diperhitungkan, membuat asupan energi semakin berlebih.
Di sisi lain, katanya, aktivitas seperti berjalan-jalan memang menguras tenaga, tetapi intensitasnya sering kali belum cukup untuk menyeimbangi kalori yang masuk. Hal ini belum ditambah dengan perubahan jam tidur selama liburan yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
"Kondisi ini mendorong seseorang untuk makan lebih banyak tanpa disadari," katanya.
Namun, kenaikan berat badan saat libur panjang tak hanya karena penumpukan lemak. Dokter Oki mengatakan konsumsi garam dan karbohidrat yang tinggi dapat memicu tubuh menahan lebih banyak cairan, sehingga angka timbangan meningkat dalam waktu singkat.
Perbaiki Pola Hidup
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Oki Yonatan Oentiono mengatakan kenaikan berat badan seusai libur panjang merupakan kondisi yang wajar, tetapi perlu segera disikapi agar tidak berlarut dan berdampak pada kesehatan. Dengan strategi yang tepat, berat badan sebenarnya dapat kembali stabil tanpa harus menjalani diet ekstrem yang justru berisiko bagi tubuh.Dokter Oki menyarankan agar kenaikan berat badan selama libur panjang disikapi dengan lebih santai. Dia mengibaratkan masa liburan sebagai fase cheating yang wajar terjadi. Namun, dirinya juga menekankan agar pola tersebut tidak diteruskan ketika rutinitas harian kembali berjalan.
Selain itu, jika pun berat badan naik, dokter Oki juga menyarankan agar tak perlu khawatir berlebihan. Sebab, kenaikan berat badan yang terjadi secara cepat saat liburan umumnya dipengaruhi oleh penumpukan cairan, akibat konsumsi garam yang tinggi. Kondisi ini biasanya akan berangsur turun dalam waktu satu hingga dua minggu tanpa perlu menjalani diet ketat atau ekstrem.
Meski demikian, pola hidup yang kurang teratur tetap perlu segera dibenahi. Upaya perbaikan dapat diawali dengan menata kembali pola makan sehari-hari agar lebih teratur. Perbanyak asupan protein, sayuran, dan air putih.
Selain pengaturan makan, aktivitas fisik juga perlu kembali dioptimalkan. Mengajak tubuh lebih aktif bergerak membantu menjaga keseimbangan energi dan mendukung proses penyesuaian berat badan secara bertahap.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.