Apakah Mengurangi Karbohidrat Itu Baik Untuk Menurunkan Berat Badan?
13 November 2025 |
17:58 WIB
Dalam dunia kebugaran dan diet, karbohidrat sering kali menjadi 'kambing hitam' penyebab utama kenaikan berat badan. Dilansir dari The Guardian, banyak orang memilih untuk memangkas bahkan menghilangkan karbo sepenuhnya dari pola makan. Namun, menurut ahli gizi olahraga Bethan Crouse dari Universitas Loughborough, kebenarannya tidak sesederhana itu.
Crouse menyebut bahwa ini adalah “area abu-abu” dalam nutrisi. Ia tidak akan menyarankan para atlet yang didampinginya untuk benar-benar menghapus karbohidrat dari menu harian mereka. “Makanan seperti roti, biji-bijian, kentang, atau makanan manis tetap memiliki tempat dalam pola makan yang seimbang. Namun, mengurangi asupan karbohidrat bisa membantu menurunkan berat badan selama kita mampu mengontrol total asupan energi,” jelasnya.
Baca juga: 8 Alarm Bahaya Genhype Terlalu Banyak Mengonsumsi Karbohidrat
Kunci utama dalam menurunkan berat badan, menurutnya, bukan pada karbohidrat itu sendiri, melainkan pada keseimbangan energi: mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang dibakar tubuh. Ada banyak cara untuk mencapainya, mulai dari meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi porsi makan, hingga memilih makanan yang lebih rendah kalori.
Crouse menegaskan bahwa karbohidrat tidak secara unik menyebabkan penambahan berat badan. Yang membedakan adalah rasa kenyang yang dihasilkan oleh jenis makanan tertentu. “Makronutrien lain seperti serat, protein, dan lemak cenderung lebih mengenyangkan. “Jika kita mengalokasikan lebih banyak ‘anggaran kalori’ untuk makanan-makanan tersebut, tubuh akan merasa kenyang lebih lama,” katanya. Dengan kata lain, keseimbangan dan pemilihan jenis makananlah yang menentukan, bukan semata-mata jumlah karbohidrat.
Selain itu, karbohidrat memiliki peran penting bagi tubuh, terutama bagi mereka yang aktif secara fisik. Karbohidrat menjadi sumber energi utama untuk otot selama berolahraga, membantu daya tahan, serta mempercepat pemulihan setelah latihan. Menghilangkannya secara ekstrem justru bisa berdampak negatif terhadap performa dan kesehatan.
Pada akhirnya, keberhasilan diet bukan ditentukan oleh seberapa ketat kita membatasi satu jenis makanan, melainkan seberapa berkelanjutan pola hidup yang kita jalani. Mengurangi karbohidrat boleh saja — tetapi memahami fungsinya, menjaga keseimbangan energi, dan mendengarkan sinyal tubuh jauh lebih penting.
Dalam dunia gizi yang sering dipenuhi tren dan larangan ekstrem, pesan dari Crouse terasa menyegarkan: tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya apa yang kita kurangi, tapi juga apa yang tetap kita rawatkesehatan tubuh dan hubungan yang sehat dengan makanan.
Crouse menyebut bahwa ini adalah “area abu-abu” dalam nutrisi. Ia tidak akan menyarankan para atlet yang didampinginya untuk benar-benar menghapus karbohidrat dari menu harian mereka. “Makanan seperti roti, biji-bijian, kentang, atau makanan manis tetap memiliki tempat dalam pola makan yang seimbang. Namun, mengurangi asupan karbohidrat bisa membantu menurunkan berat badan selama kita mampu mengontrol total asupan energi,” jelasnya.
Baca juga: 8 Alarm Bahaya Genhype Terlalu Banyak Mengonsumsi Karbohidrat
Kunci utama dalam menurunkan berat badan, menurutnya, bukan pada karbohidrat itu sendiri, melainkan pada keseimbangan energi: mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang dibakar tubuh. Ada banyak cara untuk mencapainya, mulai dari meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi porsi makan, hingga memilih makanan yang lebih rendah kalori.
Crouse menegaskan bahwa karbohidrat tidak secara unik menyebabkan penambahan berat badan. Yang membedakan adalah rasa kenyang yang dihasilkan oleh jenis makanan tertentu. “Makronutrien lain seperti serat, protein, dan lemak cenderung lebih mengenyangkan. “Jika kita mengalokasikan lebih banyak ‘anggaran kalori’ untuk makanan-makanan tersebut, tubuh akan merasa kenyang lebih lama,” katanya. Dengan kata lain, keseimbangan dan pemilihan jenis makananlah yang menentukan, bukan semata-mata jumlah karbohidrat.
Selain itu, karbohidrat memiliki peran penting bagi tubuh, terutama bagi mereka yang aktif secara fisik. Karbohidrat menjadi sumber energi utama untuk otot selama berolahraga, membantu daya tahan, serta mempercepat pemulihan setelah latihan. Menghilangkannya secara ekstrem justru bisa berdampak negatif terhadap performa dan kesehatan.
Pada akhirnya, keberhasilan diet bukan ditentukan oleh seberapa ketat kita membatasi satu jenis makanan, melainkan seberapa berkelanjutan pola hidup yang kita jalani. Mengurangi karbohidrat boleh saja — tetapi memahami fungsinya, menjaga keseimbangan energi, dan mendengarkan sinyal tubuh jauh lebih penting.
Dalam dunia gizi yang sering dipenuhi tren dan larangan ekstrem, pesan dari Crouse terasa menyegarkan: tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya apa yang kita kurangi, tapi juga apa yang tetap kita rawatkesehatan tubuh dan hubungan yang sehat dengan makanan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.