Ancaman Heatstroke pada Pelari, Penting Kenali Gejalanya
04 January 2026 |
11:00 WIB
Tren lari jarak jauh kian digandrungi kaum urban, seiring maraknya running event di berbagai kota Indonesia, terutama di kalangan pekerja muda dan komunitas lari. Namun di balik euforia garis finis dan catatan waktu pribadi, ada ancaman serius yang kerap luput disadari pelari, yaitu heatstroke.
Menurut Medical Doctor & Sports Gear Curator, Jason CP, heatstroke bukanlah kasus langka, terutama di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan suhu panas dan kelembapan tinggi. Dalam kondisi ini, tubuh pelari dipaksa bekerja dua kali lebih keras untuk menjaga suhu inti tetap stabil.
Baca juga: Tren Lari Kian Populer, Coach Hendri Pardede Bagikan Tips Aman Untuk Pemula
Cuaca panas dan lembap katanya membuat mekanisme pendinginan tubuh menjadi tidak optimal. Kalau persiapan untuk mengikuti event running kurang matang, risiko heatstroke meningkat drastis.
Jason menekankan bahwa sebagian besar kasus heatstroke sebenarnya bisa dicegah, bahkan sebelum race dimulai. Salah satu pemicu utama adalah kondisi tubuh yang kurang terhidrasi.
Masalah ini sering diperparah oleh kebiasaan pelari yang melewatkan water station atau enggan mengonsumsi minuman isotonik saat lomba berlangsung. “Kalau tidak ambil minum, apalagi lari jarak jauh dengan intensitas tinggi, risikonya bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Kurangnya cairan tak hanya berdampak pada suhu tubuh, tetapi juga memengaruhi kualitas jaringan fascia. Akibatnya, mobilitas menurun dan risiko cedera meningkat.
Selain hidrasi, pemenuhan elektrolit juga menjadi faktor krusial yang kerap diabaikan. Elektrolit bisa diperoleh dari minuman isotonik maupun makanan sederhana seperti pisang dan asupan natrium.
Pada hari lomba, kebutuhan elektrolit meningkat signifikan karena tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Karena itu, pelari menurut Jason, perlu memahami strategi fueling dengan baik. “Kita harus tahu kapan mulai fueling, kapan makan, dan minum juga harus cukup,” imbuhnya.
Soal asupan, Jason menyoroti pentingnya karbohidrat sebelum mengikuti marathon. Ia mengingatkan pelari untuk tidak menghindari karbohidrat, karena nutrisi ini merupakan sumber energi utama tubuh. “Kalau mau perform, karbohidrat harus dinaikkan. Setelah lari, barulah protein diperbanyak untuk recovery,” tuturnya.
Untuk pre-race, Jason menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti roti dan pisang sekitar dua jam sebelum start. Kurma juga bisa menjadi pilihan, asalkan tidak dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu lomba. Ia mengingatkan pelari agar menghindari sambal dan minuman bersoda sebelum race demi mencegah gangguan pencernaan.
Bagi Jason, persiapan pelari ibarat membangun rumah. Fondasinya adalah tidur cukup, gizi seimbang, dan hidrasi yang optimal. Setelah fondasi kuat, barulah masuk ke tahap strengthening, conditioning, hingga pengembangan performa kardiovaskular.
Heatstroke jarang datang tanpa tanda. Tubuh biasanya memberi peringatan lebih dulu, mulai dari keringat berlebihan, kacamata yang beruap, hingga tubuh terasa sempoyongan. Itu adalah fase ketika tubuh mulai gagal menyeimbangkan panas, dan suhu inti mendekati titik kritis.
Jika dipaksakan, dampaknya bisa fatal. “Yang paling parah itu kehilangan kesadaran. Bisa merusak ginjal dan jantung. Banyak kasus AKI [cedera ginjal akut], lalu merembet ke organ lain, akhirnya masuk ICU, bahkan meninggal,” ungkap Jason.
Menariknya, respons terbaik saat gejala muncul justru bertolak belakang dengan insting kompetitif. Berhenti mendadak bukan solusi, karena bisa berdampak buruk pada jantung. Langkah yang disarankan adalah menurunkan intensitas secara bertahap.
Jason mengimbau agar mengurangi pace, berjalan jika perlu, dan segera menuju water station untuk menghidrasi tubuh, mengisi elektrolit, serta menurunkan suhu. Jika kondisi tak kunjung membaik, satu-satunya pilihan adalah menuju tenda medis. “Nyawa kita terlalu berharga untuk dipaksa,” tegasnya.
Jason menilai kunci kesehatan pelari bukan hanya soal sepatu canggih, jam pintar, atau strategi pace, melainkan kemampuan mengenali batas diri. “Jangan malu kalau disalip. Setiap orang punya kapasitas masing-masing,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut Medical Doctor & Sports Gear Curator, Jason CP, heatstroke bukanlah kasus langka, terutama di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan suhu panas dan kelembapan tinggi. Dalam kondisi ini, tubuh pelari dipaksa bekerja dua kali lebih keras untuk menjaga suhu inti tetap stabil.
Baca juga: Tren Lari Kian Populer, Coach Hendri Pardede Bagikan Tips Aman Untuk Pemula
Cuaca panas dan lembap katanya membuat mekanisme pendinginan tubuh menjadi tidak optimal. Kalau persiapan untuk mengikuti event running kurang matang, risiko heatstroke meningkat drastis.
Jason menekankan bahwa sebagian besar kasus heatstroke sebenarnya bisa dicegah, bahkan sebelum race dimulai. Salah satu pemicu utama adalah kondisi tubuh yang kurang terhidrasi.
Masalah ini sering diperparah oleh kebiasaan pelari yang melewatkan water station atau enggan mengonsumsi minuman isotonik saat lomba berlangsung. “Kalau tidak ambil minum, apalagi lari jarak jauh dengan intensitas tinggi, risikonya bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Kurangnya cairan tak hanya berdampak pada suhu tubuh, tetapi juga memengaruhi kualitas jaringan fascia. Akibatnya, mobilitas menurun dan risiko cedera meningkat.
Selain hidrasi, pemenuhan elektrolit juga menjadi faktor krusial yang kerap diabaikan. Elektrolit bisa diperoleh dari minuman isotonik maupun makanan sederhana seperti pisang dan asupan natrium.
Pada hari lomba, kebutuhan elektrolit meningkat signifikan karena tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Karena itu, pelari menurut Jason, perlu memahami strategi fueling dengan baik. “Kita harus tahu kapan mulai fueling, kapan makan, dan minum juga harus cukup,” imbuhnya.
Soal asupan, Jason menyoroti pentingnya karbohidrat sebelum mengikuti marathon. Ia mengingatkan pelari untuk tidak menghindari karbohidrat, karena nutrisi ini merupakan sumber energi utama tubuh. “Kalau mau perform, karbohidrat harus dinaikkan. Setelah lari, barulah protein diperbanyak untuk recovery,” tuturnya.
Untuk pre-race, Jason menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti roti dan pisang sekitar dua jam sebelum start. Kurma juga bisa menjadi pilihan, asalkan tidak dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu lomba. Ia mengingatkan pelari agar menghindari sambal dan minuman bersoda sebelum race demi mencegah gangguan pencernaan.
Bagi Jason, persiapan pelari ibarat membangun rumah. Fondasinya adalah tidur cukup, gizi seimbang, dan hidrasi yang optimal. Setelah fondasi kuat, barulah masuk ke tahap strengthening, conditioning, hingga pengembangan performa kardiovaskular.
Kenali Sinyal Tubuh
Heatstroke jarang datang tanpa tanda. Tubuh biasanya memberi peringatan lebih dulu, mulai dari keringat berlebihan, kacamata yang beruap, hingga tubuh terasa sempoyongan. Itu adalah fase ketika tubuh mulai gagal menyeimbangkan panas, dan suhu inti mendekati titik kritis.Jika dipaksakan, dampaknya bisa fatal. “Yang paling parah itu kehilangan kesadaran. Bisa merusak ginjal dan jantung. Banyak kasus AKI [cedera ginjal akut], lalu merembet ke organ lain, akhirnya masuk ICU, bahkan meninggal,” ungkap Jason.
Menariknya, respons terbaik saat gejala muncul justru bertolak belakang dengan insting kompetitif. Berhenti mendadak bukan solusi, karena bisa berdampak buruk pada jantung. Langkah yang disarankan adalah menurunkan intensitas secara bertahap.
Jason mengimbau agar mengurangi pace, berjalan jika perlu, dan segera menuju water station untuk menghidrasi tubuh, mengisi elektrolit, serta menurunkan suhu. Jika kondisi tak kunjung membaik, satu-satunya pilihan adalah menuju tenda medis. “Nyawa kita terlalu berharga untuk dipaksa,” tegasnya.
Jason menilai kunci kesehatan pelari bukan hanya soal sepatu canggih, jam pintar, atau strategi pace, melainkan kemampuan mengenali batas diri. “Jangan malu kalau disalip. Setiap orang punya kapasitas masing-masing,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.