Resensi Novel Ketika Senja Jatuh di Nara: Kritik Zaky Yamani pada Eksploitasi
20 November 2025 |
21:41 WIB
Kendati reflektif, gaya Zaky Yamani alam novel terabarunya kadang terasa berat oleh metafora, yang menuntut pembaca untuk membaca perlahan. Namun justru di situlah daya tahan estetik novel ini untuk dibaca Genhype. “Damar adalah kekayaan kami yang pertama, tetapi juga jadi alasan pertama kenapa hidup kami jadi nelangsa.” (Ketika Senja Jatuh di Nara, hlm. 33), Zaky Yamani.
Kutipan di atas menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami bagaimana Zaky Yamani kembali menyadarkan publik melalui karya sastranya. Mantan jurnalis itu kini menyalurkan kepekaannya terhadap isu sosial dalam novel Ketika Senja Jatuh di Nara, yang menelusuri luka manusia dan tanah di Timur Nusantara.
Baca juga: Resensi Novel Koloni: Refleksi Dunia Semut & Manusia Ala Ratih Kumala
Sekilas, judul dan sampulnya memberi kesan lembut, seolah pembaca akan diajak menyusuri kisah romansa di bawah senja. Namun kenyataannya berbeda. Di balik judul yang manis, tersaji kisah getir tentang surga yang rusak oleh tangan manusia.
Premisnya sederhana, tentang seorang perempuan yang mencari asal-usulnya. Debora Nara, sang tokoh utama, ingin tahu mengapa dirinya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Pencarian itu membawa Debora pada perjalanan satu malam yang sureal, di antara dunia hidup, dan arwah.
Kisah dibuka melalui sebuah surat dari masa lalu, tentang cinta terlarang antara Maria dan seorang lelaki dari marga lain. Konflik sosial dan adat memisahkan mereka. Dari situlah benih tragedi tumbuh, dan berjejalin. Dibuka secara perlahan laiknya seseorang mengupas bawang.
Membaca novel 216 halaman ini, kita diajak terlebih dulu untuk memasuki latar dan konflik yang dijalin dengan rapi. Semacam fragmen, untuk perlahan mengenal karakter yang muncul dari masa lalu: lewat surat, hantu, hingga percakapan antara tokoh utama dengan ibu angkatnya.
Pendek kata, novel ini meramu konflik terkait persoalan masyarakat adat, pertambangan, sawit, dan eksploitasi lewat medium fiksi. Benang merahnya merefleksikan konflik di Indonesia Timur, yang kerap terpinggirkan, dan informasi yang didapat dari sana kerap dipelintir.
Alkisah, sampailah Debora di sebuah desa bernama Nara. Namun, alih-alih memasuki desa yang permai, dia justru mendapati kampung mati. Sebuah desa yang dikutuk dan dihuni hantu-hantu gentayangan: Dari jurnalis, aktivis, hingga tokoh adat yang disangkakan sebagai tukang sihir.
Dalam waktu semalam, Debora disuguhi kisah tentang pembantaian berdarah, pemerkosaan terhadap alam, yang bersumber dari kerakusan manusia. Memanfaatkan mitos, dan riset lapangan, Zaky Yamani mengajak pembaca untuk kembali berempati terhadap saudara-saudara kita di Papua.
"Ketika Senja Jatuh di Nara adalah novel yang saya kerjakan dalam 3 tahun terakhir. Sebuah refleksi dan observasi dari perjalanan-perjalanan ke timur Nusantara, di mana kepingan-kepingan surga menderita dalam konflik tanah dan todongan senjata," cuit sang penulis di akun X miliknya.
Secara keseluruhan, membaca novel ini juga mengingatkan pada gaya Zaky Yamani saat memenangkan sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2021 lewat novel Kereta Semar Lembu. Pembaca diajak mengungkai konflik melalui pertemuan antar tokoh dengan campuran mitos dan realitas sosial yang kompleks.
Novel ini terasa sebagai perpanjangan dari kredo Seno Gumira Ajidarma, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Bila jurnalisme berbicara dengan fakta, maka sastra berbicara dengan kebenaran yang lebih dalam. Dalam konteks Zaky Yamani, novel menjadi ruang perlawanan yang sunyi tetapi lantang.
Di tengah wacana publik yang mudah direkayasa, Ketika Senja Jatuh di Nara menjadi pengingat bahwa kebenaran mungkin bisa disembunyikan dari berita, tetapi tidak dari kesusastraan. Sebab sastra hidup di pikiran dan hati manusia, dan di sanalah kenyataan yang sesungguhnya berdiam.
Data Buku
Judul: Ketika Senja Jatuh di Nara
Penulis: Zaky Yamani
Ilustrasi Sampul: Sukutangan
Editor: Karina Anjani
Tahun Terbit: Agustus, 2025
Jumlah Halaman: 215 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:978-602-06-8350-8
Baca juga: Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal
Kutipan di atas menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami bagaimana Zaky Yamani kembali menyadarkan publik melalui karya sastranya. Mantan jurnalis itu kini menyalurkan kepekaannya terhadap isu sosial dalam novel Ketika Senja Jatuh di Nara, yang menelusuri luka manusia dan tanah di Timur Nusantara.
Baca juga: Resensi Novel Koloni: Refleksi Dunia Semut & Manusia Ala Ratih Kumala
Sekilas, judul dan sampulnya memberi kesan lembut, seolah pembaca akan diajak menyusuri kisah romansa di bawah senja. Namun kenyataannya berbeda. Di balik judul yang manis, tersaji kisah getir tentang surga yang rusak oleh tangan manusia.
Premisnya sederhana, tentang seorang perempuan yang mencari asal-usulnya. Debora Nara, sang tokoh utama, ingin tahu mengapa dirinya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Pencarian itu membawa Debora pada perjalanan satu malam yang sureal, di antara dunia hidup, dan arwah.
Kisah dibuka melalui sebuah surat dari masa lalu, tentang cinta terlarang antara Maria dan seorang lelaki dari marga lain. Konflik sosial dan adat memisahkan mereka. Dari situlah benih tragedi tumbuh, dan berjejalin. Dibuka secara perlahan laiknya seseorang mengupas bawang.
Membaca novel 216 halaman ini, kita diajak terlebih dulu untuk memasuki latar dan konflik yang dijalin dengan rapi. Semacam fragmen, untuk perlahan mengenal karakter yang muncul dari masa lalu: lewat surat, hantu, hingga percakapan antara tokoh utama dengan ibu angkatnya.
Pendek kata, novel ini meramu konflik terkait persoalan masyarakat adat, pertambangan, sawit, dan eksploitasi lewat medium fiksi. Benang merahnya merefleksikan konflik di Indonesia Timur, yang kerap terpinggirkan, dan informasi yang didapat dari sana kerap dipelintir.
Alkisah, sampailah Debora di sebuah desa bernama Nara. Namun, alih-alih memasuki desa yang permai, dia justru mendapati kampung mati. Sebuah desa yang dikutuk dan dihuni hantu-hantu gentayangan: Dari jurnalis, aktivis, hingga tokoh adat yang disangkakan sebagai tukang sihir.
Dalam waktu semalam, Debora disuguhi kisah tentang pembantaian berdarah, pemerkosaan terhadap alam, yang bersumber dari kerakusan manusia. Memanfaatkan mitos, dan riset lapangan, Zaky Yamani mengajak pembaca untuk kembali berempati terhadap saudara-saudara kita di Papua.
"Ketika Senja Jatuh di Nara adalah novel yang saya kerjakan dalam 3 tahun terakhir. Sebuah refleksi dan observasi dari perjalanan-perjalanan ke timur Nusantara, di mana kepingan-kepingan surga menderita dalam konflik tanah dan todongan senjata," cuit sang penulis di akun X miliknya.
Secara keseluruhan, membaca novel ini juga mengingatkan pada gaya Zaky Yamani saat memenangkan sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2021 lewat novel Kereta Semar Lembu. Pembaca diajak mengungkai konflik melalui pertemuan antar tokoh dengan campuran mitos dan realitas sosial yang kompleks.
Novel ini terasa sebagai perpanjangan dari kredo Seno Gumira Ajidarma, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Bila jurnalisme berbicara dengan fakta, maka sastra berbicara dengan kebenaran yang lebih dalam. Dalam konteks Zaky Yamani, novel menjadi ruang perlawanan yang sunyi tetapi lantang.
Di tengah wacana publik yang mudah direkayasa, Ketika Senja Jatuh di Nara menjadi pengingat bahwa kebenaran mungkin bisa disembunyikan dari berita, tetapi tidak dari kesusastraan. Sebab sastra hidup di pikiran dan hati manusia, dan di sanalah kenyataan yang sesungguhnya berdiam.
Data Buku
Judul: Ketika Senja Jatuh di Nara
Penulis: Zaky Yamani
Ilustrasi Sampul: Sukutangan
Editor: Karina Anjani
Tahun Terbit: Agustus, 2025
Jumlah Halaman: 215 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:978-602-06-8350-8
Baca juga: Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.