Pameran “Tiba Tanpa Berangkat” menggali relasi pengetahuan, waktu, dan memori. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Membongkar Kuasa di Balik Pengetahuan dalam Pameran Tiba Tanpa Berangkat

20 November 2025   |   21:35 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

D Gallerie tampil dengan wajah baru. Begitu melangkah ke galeri seni di kawasan Jakarta Selatan itu, pengunjung seolah diajak masuk ke ruang tamu yang hangat—penuh detail dekorasi yang memanggil kembali suasana era 70-an.

Sebuah sofa tersaji di tengah ruangan. Di hadapannya, di atas meja, berjajar sejumlah buku: biografi Haji Agus Salim, novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker, hingga sejarah ilmu pengetahuan karya Andrew Goss.

Baca juga: Nuanu Hadirkan Kolaborasi Seni dan Alam lewat Pameran ‘Liana Reverie: Vivid Colours’

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Sebab, Maharani Mancanagara dan Nurrachmat Widyasena, memacak karya meraka dalam eksibisi bertajuk Tiba Tanpa Berangkat. Berlangsung hingga 7 Desember 2025, pameran ini mengajak publik memasuki narasi personal kedua seniman dalam memandang ilmu pengetahuan.

Namun, yang menarik dari pameran ini bukan hanya visual di muka. Melainkan suara radio di salah satu sudut ruang. Media komunikasi yang jarang didengarkan publik ini memutar sebuah rekaman dari masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Kisahnya tentang tiga anak muda, di tiga pulau, dalam tiga periode waktu berbeda di Indonesia. Mereka dipisahkan oleh sejarah, tapi terhubung oleh satu sinyal radio. Ketiganya berkorespondensi membicarakan mimpi, pendidikan, dan teknologi.

Berbeda dari pameran lain, Tiba Tanpa Berangkat, barangkali ingin mengajak pengunjung untuk menelusuri kembali sejarah panjang bagaimana pengetahuan di Indonesia diproduksi, dikendalikan, dan dibayangkan, serta tak pernah berada dalam posisi netral.

Pada karya bertajuk Jejak Akar Bayang Langit (2025), publik diajak memasuki ruang domestik. Dalam suasana nyaman itulah pendengar dapat menyimak cerita secara lebih intim, seolah menjadi tamu yang tanpa sadar terseret ke dalam percakapan tiga tokoh di dalam radio.
 

 Salah satu karya lukisan Nurrachmat Widyasena dalam pameran Tiba Tanpa Berangkat di D Gallerie, Jakarta.

Salah satu karya lukisan Nurrachmat Widyasena dalam pameran Tiba Tanpa Berangkat di D Gallerie, Jakarta.  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Maharani mengatakan, pemilihan radio sebagai medium utama karya juga bukan tanpa alasan. Alat komunikasi itu, mereka pilih karena selalu menjadi objek yang memediasi jarak: antara waktu yang tidak berjumpa, suara yang tak saling melihat, dan ruang yang tak pernah benar-benar bertemu.

Menurutnya, sifat radio yang “menghantui” hadir, tetapi tidak berwujud. Situasi inilah yang kelak memberi konteks ideal bagi tiga karakter dari lintas tahun yang berbicara tentang perbedaan pengalaman mereka terhadap waktu, ruang, dan kehidupan.

“Dalam hal ini, radio bekerja sebagai narator yang tidak memonopoli cerita, tetapi memancarkan fragmen-fragmen memori dan kemungkinan,” katanya dalam pesan tertulis pada Bisnis.

Dikenal sebagai perupa yang menekuni arsip yang terhapus dari narasi besar, dalam pameran ini Maharani memang ingin menelisik dokumen pribadi dan memorabilia keluarga untuk menyingkap lapisan-lapisan ingatan yang diabaikan oleh narasi resmi nasionalisme.

Dalam seri Apostles of Enlightenment (2025), misal, Maharani menggunakan charcoal atau arang untuk menggambar di atas potongan papan kayu. Dalam karya media campuran ini, sang seniman juga melukis kelindan petani yang sedang meneliti tanaman, dengan garis sirkular di sawah.

Ada pula Silent Cultivation, yang terdiri dari 9 seri berbentuk oval. Melalui karya dengan dimensi beragam bermedium akrilik di atas kanvas dan papan kayu ini, Maharani membuat ilustrasi tradisi botani di masa kolonial sebagai ruang di mana sains tumbuh bersama penaklukan.

Walakin, jika Mancanagara menelusuri jejak masa lalu, Widyasena justru bekerja dengan gambaran masa depan. Dia meminjam estetika retrofuturisme—piring terbang, roket, satelit, metalik berkilau—untuk membahas bagaimana janji modernitas di Indonesia tidak pernah terpenuhi.

Salah satunya terlihat dalam karya bertajuk Gold Beneath the Dust (#1–3). Bertarikh 2025, karya media campuran berdimensi 78 x 40 x 6 cm ini menampilkan gambar yang ganjil. Ada petani berkostum baju luar angkasa berdiri di samping pedati, ada pula mobil terbang di lanskap hutan.

Pada karya yang lain, Widyasena juga mengeksplorasi medium logam yang dilekukkan sedemikian rupa, dan membuat kalimat-kalimat bernuansa satir. Dalam karya bertajuk A Small Scale Anxiety #3 (2025), misal, sang seniman menulis akronim 5W1H dengan singkatan: "Waduh, Waduh, Waduh, Waduh, Hadeuuuh."
 

ahah

Lukisan kolaborasi Mharani Mancanagara & Nurrachmat Widyasena dalam pameran Tiba Tanpa Berangkat di D Gallerie, Jakarta.  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Keunikan lain dari pameran ini juga muncul dari kolaborasi keduanya. Salah satunya dalam karya bertajuk Jejak Rencana Bayang Jenaka (2025) yang melukiskan lanskap futuristik bernuansa mendung. Lukisan menggunakan media campuran ini juga menghadirkan teks: “Kami dibesarkan dengan peta tapi tak pernah diajarkan kompas.”

Maharani menjelaskan, hadirnya teks tersebut lahir dari kegelisahan-kegelisahan yang muncul ketika mereka mendiskusikan tempat-tempat yang pernah dikunjungi: dari sejarah asal-usul kebijakan, arah masa depan, hingga ironi realitas yang mereka hadapi sebagai generasi yang mewarisi peta tetapi tidak selalu diberi alat untuk menavigasinya.

“Lanskap-lanskap itu bukan dokumentasi, melainkan ruang ingatan: bagaimana tubuh kami mengingat cahaya, jarak, dan suasana dari sebuah tempat, lalu mengendapkannya sebagai kesan,” katanya.

Kurator pameran, Chabib Duta Hapsoro, mengatakan, para seniman memang ingin menyoroti dua orientasi waktu, yakni penggalian masa lalu, dan masa depan yang terus ditunda. Keduanya, papar Chabib, membuka cara pandang yang berbeda, tetapi saling mengisi untuk menunjukkan bagaimana kolonialisme tidak pernah benar-benar berakhir.

“Karya Mancanagara dan Widyasena mengungkap kesinambungan antara kolonialisme dan pembangunan. Dalam kedua rezim, pengetahuan bukan alat pembebasan, tetapi mekanisme kontrol,” katanya.

Baca juga: Mengenal Basoeki Abdullah Lewat Pameran Mini Artway di MRT Fatmawati

SEBELUMNYA

Pakar Soroti Fenomena Gunung Es Perundungan di Lingkungan Sekolah

BERIKUTNYA

Resensi Novel Ketika Senja Jatuh di Nara: Kritik Zaky Yamani pada Eksploitasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga