Monoplay Melati Pertiwi Siap Hadirkan Narasi Perempuan dalam Sejarah Bangsa di Gedung Kesenian Jakarta
20 November 2025 |
12:30 WIB
Keana Production akan menampilkan pertunjukan Monoplay Melati Pertiwi pada Selasa, (25/11/2025) di Gedung Kesenian Jakarta. Menghidupkan kisah heroik enam Pahlawan Nasional Perempuan, pertunjukan ini merupakan bentuk perayaan sekaligus renungan terkait peran perempuan dalam sejarah Indonesia.
Dirajut melalui teater monolog, pertunjukan ini akan mengungkap sejarah dari sudut pandang perempuan. Mereka adalah S.K. Trimurti, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat, Rasuna Said, Christina Martha Tiahahu, dan Laksamana Malahayati.
Baca juga: Rangga Riantiarno Pertahankan Tradisi Lagu dan Tari di Pentas Teater Koma Mencari Semar
Produser Marcella Zalianty, menjelaskan bahwa monoplay ini bertujuan menggali kembali kekuatan perempuan yang sering luput dari narasi besar sejarah Indonesia. Kisahnya akan menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman.
Dia menekankan bahwa kisah keenam pahlawan tersebut menawarkan refleksi atas identitas, perjuangan, dan keteguhan nilai. Menurutnya, pementasan ini tidak hanya hiburan, tetapi juga ruang introspeksi bagi generasi hari ini yang tengah menghadapi tantangan baru.
“Melalui monoplay ini, kami ingin membawa penonton pada sebuah perjalanan introspeksi yang mendalam. Kisahnya menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman,” katanya dalam taklimat resmi.
Sutradara Wawan Sofwan mengatakan, pertunjukan ini tidak hanya sekadar menceritakan ulang biografi, tetapi membongkar jiwa dari setiap karakter. Setiap pahlawan akan ‘berbicara’ langsung kepada penonton dan membawa mereka ke dalam momen-momen krusial yang menentukan.
Pihaknya juga menggunakan skenografi dan penguatan akting intens dari masing-masing karakter untuk menciptakan pengalaman teater yang kuat. “Penggunaan multimedia, tata cahaya, dan akting intens dihadirkan untuk menciptakan pengalaman teater yang kuat secara emosional,” katanya.
Keenam pahlawan perempuan dalam pementasan ini dihidupkan oleh deretan aktris dan penyanyi lintas generasi. Isyana Sarasvati dipercaya memerankan S.K. Trimurti, jurnalis dan aktivis yang memperjuangkan suara rakyat melalui tulisan.
Bagi Isyana, karakter Trimurti menjadi pengingat bahwa kata-kata mampu menjadi alat perubahan, sama seperti musik yang ia tekuni sebagai senjata artistik. “Saya berusaha menghidupkan kembali keteguhan hatinya di atas panggung,” paparnya.
Ada pula Tika Bravani yang akan memerankan tokoh Rasuna Said. Tika mengaku tersentuh oleh ketajaman berpikir dan keberanian sang pahlawan dalam bersuara. Dia melihat pendidikan dan orasi sebagai kekuatan utama Rasuna Said dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Semangatnya memperjuangkan hak perempuan dan pendidikan melalui orasinya menginspirasi saya untuk menggunakan seni peran sebagai medium edukasi,” katanya.
Sementara itu, Maudy Koesnaedi memerankan Nyi Ageng Serang, sosok pemimpin yang tetap tegar meski berjuang di usia senja. Dia menggambarkan bagaimana kepemimpinan perempuan dapat bertumpu pada kebijaksanaan dan keberanian.
Hana Malasan membawa karakter Ratu Kalinyamat, pemimpin Jawa yang dikenal tegas dan visioner. Dia memaknainya sebagai simbol perempuan yang berani mengambil sikap dan memimpin tanpa ragu. Bagi Hana, ketegasan Kalinyamat menjadi inspirasi agar generasi muda berani tampil berbeda dan memegang kendali atas jalannya sendiri.
Marcella Zalianty juga akan turun sebagai pemeran Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin pasukan Inong Balee. Baginya, memerankan Malahayati merupakan kehormatan sekaligus tantangan, karena sosok tersebut melambangkan keberanian dan ketangguhan luar biasa.
Di sisi lain, Glory Hilary juga akan memerankan Christina Martha Tiahahu. Dia melihat Martha sebagai simbol dedikasi tanpa batas, bahkan sejak usia belia. Menghidupkan karakter ini membuat Glory merefleksikan intensitas dan passion yang sama-sama menggerakkan aktor maupun pejuang.
Harga tiket pertunjukan Monoplay Melati Pertiwi dimulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta dan dapat dibeli secara online melalui loket.com. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal, penampilan, dan detail acara, dapat mengunjungi akun resmi Instagram @keana_film.
Dirajut melalui teater monolog, pertunjukan ini akan mengungkap sejarah dari sudut pandang perempuan. Mereka adalah S.K. Trimurti, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat, Rasuna Said, Christina Martha Tiahahu, dan Laksamana Malahayati.
Baca juga: Rangga Riantiarno Pertahankan Tradisi Lagu dan Tari di Pentas Teater Koma Mencari Semar
Produser Marcella Zalianty, menjelaskan bahwa monoplay ini bertujuan menggali kembali kekuatan perempuan yang sering luput dari narasi besar sejarah Indonesia. Kisahnya akan menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman.
Dia menekankan bahwa kisah keenam pahlawan tersebut menawarkan refleksi atas identitas, perjuangan, dan keteguhan nilai. Menurutnya, pementasan ini tidak hanya hiburan, tetapi juga ruang introspeksi bagi generasi hari ini yang tengah menghadapi tantangan baru.
“Melalui monoplay ini, kami ingin membawa penonton pada sebuah perjalanan introspeksi yang mendalam. Kisahnya menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman,” katanya dalam taklimat resmi.
Sutradara Wawan Sofwan mengatakan, pertunjukan ini tidak hanya sekadar menceritakan ulang biografi, tetapi membongkar jiwa dari setiap karakter. Setiap pahlawan akan ‘berbicara’ langsung kepada penonton dan membawa mereka ke dalam momen-momen krusial yang menentukan.
Pihaknya juga menggunakan skenografi dan penguatan akting intens dari masing-masing karakter untuk menciptakan pengalaman teater yang kuat. “Penggunaan multimedia, tata cahaya, dan akting intens dihadirkan untuk menciptakan pengalaman teater yang kuat secara emosional,” katanya.
Bagi Isyana, karakter Trimurti menjadi pengingat bahwa kata-kata mampu menjadi alat perubahan, sama seperti musik yang ia tekuni sebagai senjata artistik. “Saya berusaha menghidupkan kembali keteguhan hatinya di atas panggung,” paparnya.
Ada pula Tika Bravani yang akan memerankan tokoh Rasuna Said. Tika mengaku tersentuh oleh ketajaman berpikir dan keberanian sang pahlawan dalam bersuara. Dia melihat pendidikan dan orasi sebagai kekuatan utama Rasuna Said dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Semangatnya memperjuangkan hak perempuan dan pendidikan melalui orasinya menginspirasi saya untuk menggunakan seni peran sebagai medium edukasi,” katanya.
Sementara itu, Maudy Koesnaedi memerankan Nyi Ageng Serang, sosok pemimpin yang tetap tegar meski berjuang di usia senja. Dia menggambarkan bagaimana kepemimpinan perempuan dapat bertumpu pada kebijaksanaan dan keberanian.
Hana Malasan membawa karakter Ratu Kalinyamat, pemimpin Jawa yang dikenal tegas dan visioner. Dia memaknainya sebagai simbol perempuan yang berani mengambil sikap dan memimpin tanpa ragu. Bagi Hana, ketegasan Kalinyamat menjadi inspirasi agar generasi muda berani tampil berbeda dan memegang kendali atas jalannya sendiri.
Marcella Zalianty juga akan turun sebagai pemeran Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin pasukan Inong Balee. Baginya, memerankan Malahayati merupakan kehormatan sekaligus tantangan, karena sosok tersebut melambangkan keberanian dan ketangguhan luar biasa.
Di sisi lain, Glory Hilary juga akan memerankan Christina Martha Tiahahu. Dia melihat Martha sebagai simbol dedikasi tanpa batas, bahkan sejak usia belia. Menghidupkan karakter ini membuat Glory merefleksikan intensitas dan passion yang sama-sama menggerakkan aktor maupun pejuang.
Harga tiket pertunjukan Monoplay Melati Pertiwi dimulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta dan dapat dibeli secara online melalui loket.com. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal, penampilan, dan detail acara, dapat mengunjungi akun resmi Instagram @keana_film.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.