Sutradara Rangga Riantiarno (Sumber gambar: Teater Koma/Bakti Budaya Djarum Foundation)

Rangga Riantiarno Pertahankan Tradisi Lagu dan Tari di Pentas Teater Koma Mencari Semar

17 August 2025   |   06:32 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sutradara Rangga Riantiarno mencoba tetap mempertahankan tradisi pementasan Teater Koma dengan tidak meninggalkan elemen lagu dan tari. Hal ini dia tunjukkan saat menyutradarai pementasan ke-235 Teater Koma yang berjudul Mencari Semar yang digelar sepanjang pekan ini di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Tradisi menghadirkan lagu dan tarian dalam pementasan telah menjadi ciri Teater Koma sejak masa Nano Riantiarno, sang ayah. Kini, Rangga berusaha meneruskan warna khas tersebut dalam setiap karyanya.

Bagi Rangga, Mencari Semar adalah salah satu pentas yang cukup spesial untuknya. Sebab, ini adalah naskah panjang pertamanya untuk Teater Koma. Dalam pertunjukan ini, dirinya secara khusus menciptakan 12 lagu yang dikemas menyatu dengan pengadeganan di atas panggung.

Baca Juga: Saat Kemanusiaan Kian Samar, Dunia Butuh Semar

 

Pentas Menari Semar (Sumber gambar: Teater Koma/Bakti Budaya Djarum Foundation)

Pentas Menari Semar (Sumber gambar: Teater Koma/Bakti Budaya Djarum Foundation)


Lagu-lagu tersebut kemudian dikomposisi ulang oleh pengarah musik Fero A Stefanus dan total menghasilkan durasi sekitar 30 menit. "Saya terinspirasi dari karya-karya almarhum ayah saya, N. Riantiarno, yang selalu menyertakan lirik lagu dalam naskah, sebuah tradisi yang saya lanjutkan di Mencari Semar. Namun, belum seberapa dibandingkan Matahari Papua, naskah terakhir almarhum N Riantiarno yang memiliki sekitar 22 lagu dengan total durasi 1 jam dari sebuah pementasan berdurasi 2,5 jam," kata Rangga.

Rangga mengatakan sejak berdiri pada 1977, Teater Koma memang terbiasa menghadirkan unsur lagu dan tari dalam setiap pementasan. Hal ini sejalan dengan tradisi pertunjukan Nusantara yang sejak lama menggabungkan seni peran, vokal, dan tarian.

Jejak itu juga terlihat pada masa Hindia Belanda lewat kelompok opera bangsawan, komedi stambul, hingga grup teater seperti Miss Riboet Orion dan Dardanella yang bahkan sempat berkeliling dunia.

Teater Koma melanjutkan pola tersebut dengan bentuk yang kini sering disebut teater musikal. Namun, mereka tetap menjaga ciri khas dengan menghadirkan dialog yang kuat dan berbasis teks.

Rangga menegaskan, unsur bunyi, irama, dan gerak yang diambil dari kekayaan musik serta tari Nusantara bukan sekadar hiasan. Semua itu berpadu untuk memperkuat pengadeganan. Kombinasi ini sekaligus menunjukkan kemampuan akting para pemain yang mesti punya spektrum yang luas demi menghidupkan elemen-elemen tersebut.

Dalam naskah panjang pertamanya ini, secara khusus Rangga juga memilih tokoh Semar dalam balutan ceritanya. Bukan tanpa alasan, Rangga menyebut beberapa kali Teater Koma memang sering mementaskan lakon wayang, termasuk Semar. 

Rangga mengatakan dirinya tertarik mengeksplorasi sosok Semar karena sebenarnya dia punya banyak tugas. Dia adalah guru, pendamping, pembimbing, pemberi solusi, sekaligus penolong bagi para penguasa. Tapi, katanya, Semar tidak pernah menjadi penguasa.

Takdir seolah menempatkan Semar untuk selalu mengabdi sebagai panakawan, menjadi abdi para pemimpin, dan penyambung perasaan rakyat. Begitu Semar jadi penguasa, justru alam malah kacau-balau.

"Tokoh Semar ini selalu menarik buat saya, karena beliau adalah dewa, tapi mendapat tugas turun ke dunia menjadi abdi para penguasa sebagai panakawan. Lalu, dengan tetap berstatus sebagai bawahan, tugasnya membimbing junjungannya agar tetap berada di jalan yang benar," imbuhnya.
 

Pentas Menari Semar (Sumber gambar: Teater Koma/Bakti Budaya Djarum Foundation)

Pentas Menari Semar (Sumber gambar: Teater Koma/Bakti Budaya Djarum Foundation)


Rangga kemudian membalut cerita Semar ke dalam naskah fantasi. Dia memadukan mitologi Jawa dengan alur cerita futuristik. Pentas Mencari Semar mengisahkan tentang Semar, sang panakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya.

Seiring berjalannya waktu, dari masa depan, muncul Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidupnya terbangun karena ada Perintah Utama, tetapi kemudian terancam punah pula olehnya.

Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.

Pentas Mencari Semar telah berlangsung sejak 13 Agustus dan akan berakhir pada 17 Agustus 2025.

Baca Juga: Menilik Proses Kreatif di Balik Skenografi Lakon Mencari Semar Teater Koma

SEBELUMNYA

Susunan Rangkaian Upacara HUT ke-80 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2025 di Istana Merdeka

BERIKUTNYA

Jadwal, Lokasi & Rangkaian Acara Pesta Rakyat & Karnaval Kemerdekaan di Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga