Ekosistem Startup Masih Menjanjikan, AI Paling Menarik
23 October 2025 |
17:35 WIB
Meski sempat melewati fase koreksi dan tech winter dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem startup di Asia Tenggara termasuk Indonesia menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang nyata. Industri ini kini bergerak menuju babak baru yang lebih matang, realistis, dan berkelanjutan.
Berdasarkan Tech in Asia Report 2025, Indonesia bersama tiga negara dengan aktivitas startup paling dinamis yakni Singapura, Malaysia, dan Filipina menunjukkan optimisme tinggi terhadap arah industri.
Sebanyak 76 persen pelaku menyatakan yakin prospek bisnis rintisan akan membaik tahun ini, bahkan 59 persen di antaranya telah membukukan keuntungan sepanjang 2025.
Baca juga: East Ventures: GenAI Akan Jadi Game Changer bagi Startup Indonesia
Lebih menarik lagi, meski jumlah pendanaan menurun menjadi 68 putaran senilai US$1,2 juta pada kuartal II/2025, hampir 40 persen founder tetap berencana mencari investor baru. Ini menjadi sinyal kuat bahwa fase “rebuilding” telah dimulai, di mana para inovator tak lagi hanya bertahan, tapi siap tumbuh dengan strategi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Fenomena ini juga tercermin dalam gelaran Tech in Asia Conference 2025, salah satu konferensi teknologi terbesar di kawasan yang kembali digelar di Jakarta. Diselenggarakan oleh Tech in Asia dengan dukungan dari The Business Times, edisi ke-14 konferensi ini menarik lebih dari 2.500 pengunjung dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Mengusung tema “Defy Expectations”, konferensi ini menjadi ruang berkumpul bagi para inovator, investor, dan pemimpin industri untuk berbagi pandangan tentang ketahanan dan arah baru ekosistem digital. Tema tersebut menggambarkan semangat untuk menantang batas sekaligus membangun kembali kepercayaan di tengah perubahan besar industri teknologi global.
Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi kekuatan utama ekonomi digital di kawasan ASEAN. “Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di kawasan, sekaligus rumah bagi lebih dari 3.000 startup hingga pertengahan tahun ini, dengan Gross Merchandise Value (GMV) mencapai US$90 miliar atau sekitar Rp1.420 triliun pada 2024,” ujarnya saat menyampaikan kata sambutan.
Menurutnya, salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah kecerdasan buatan (AI), yang kini makin banyak diadopsi di berbagai industri, mulai dari logistik, keuangan, hingga sektor kreatif.
“Pertumbuhan ini perlu dikelola dengan baik agar startup tidak hanya mampu menjawab tantangan, tetapi juga berkelanjutan dari sisi bisnis,” imbuhnya.
Konferensi dua hari yang digelar di The Ritz-Carlton Jakarta ini menghadirkan sejumlah segmen utama seperti Startup Arena, Unconference, dan Connection Hub sebagai platform yang mendorong kolaborasi dan membuka peluang kemitraan antara startup, investor, serta para pemangku kepentingan ekosistem digital.
Lebih dari 50 pembicara ternama hadir berbagi wawasan, mulai dari investor ventura, pendiri startup, hingga pemimpin teknologi kawasan. Diskusi-diskusi panel membahas beragam topik penting mulai dari profitabilitas, relevansi produk dengan pasar (market-fit), hingga transparansi dan tata kelola bisnis yang semakin krusial di era pasca-tech winter.
“Tema tahun ini, Defy Expectations, tidak sekadar soal optimisme, ini tentang komitmen kami untuk terus hadir mendukung para founder di masa-masa sulit,” ujar Maria Li, Chief Operating Officer Tech in Asia.
Menurutnya, selain menjadi wadah koneksi dan pendanaan, konferensi ini juga bertujuan membangun kembali kepercayaan dan memperkuat fondasi ekosistem yang siap melahirkan generasi baru startup di kawasan.
Maria menambahkan, topik seputar AI mendominasi pembahasan tahun ini, seiring meningkatnya gelombang adopsi teknologi tersebut di berbagai sektor. “Kami yakin kecerdasan buatan akan menjadi hal besar di Asia Tenggara. Kini sudah banyak startup yang membantu meningkatkan produktivitas perusahaan melalui AI mulai dari otomasi logistik, layanan pelanggan, hingga pengembangan konten kreatif,” ujarnya.
Seiring waktu, arah pembicaraan dalam ekosistem startup pun berkembang. Jika sebelumnya berfokus pada pendanaan dan pertumbuhan cepat, kini perhatiannya beralih ke profitabilitas, tata kelola yang transparan, dan dampak sosial yang berkelanjutan.
Baca juga: Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025
Berdasarkan Tech in Asia Report 2025, Indonesia bersama tiga negara dengan aktivitas startup paling dinamis yakni Singapura, Malaysia, dan Filipina menunjukkan optimisme tinggi terhadap arah industri.
Sebanyak 76 persen pelaku menyatakan yakin prospek bisnis rintisan akan membaik tahun ini, bahkan 59 persen di antaranya telah membukukan keuntungan sepanjang 2025.
Baca juga: East Ventures: GenAI Akan Jadi Game Changer bagi Startup Indonesia
Lebih menarik lagi, meski jumlah pendanaan menurun menjadi 68 putaran senilai US$1,2 juta pada kuartal II/2025, hampir 40 persen founder tetap berencana mencari investor baru. Ini menjadi sinyal kuat bahwa fase “rebuilding” telah dimulai, di mana para inovator tak lagi hanya bertahan, tapi siap tumbuh dengan strategi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Fenomena ini juga tercermin dalam gelaran Tech in Asia Conference 2025, salah satu konferensi teknologi terbesar di kawasan yang kembali digelar di Jakarta. Diselenggarakan oleh Tech in Asia dengan dukungan dari The Business Times, edisi ke-14 konferensi ini menarik lebih dari 2.500 pengunjung dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Mengusung tema “Defy Expectations”, konferensi ini menjadi ruang berkumpul bagi para inovator, investor, dan pemimpin industri untuk berbagi pandangan tentang ketahanan dan arah baru ekosistem digital. Tema tersebut menggambarkan semangat untuk menantang batas sekaligus membangun kembali kepercayaan di tengah perubahan besar industri teknologi global.
Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi kekuatan utama ekonomi digital di kawasan ASEAN. “Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di kawasan, sekaligus rumah bagi lebih dari 3.000 startup hingga pertengahan tahun ini, dengan Gross Merchandise Value (GMV) mencapai US$90 miliar atau sekitar Rp1.420 triliun pada 2024,” ujarnya saat menyampaikan kata sambutan.
Menurutnya, salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah kecerdasan buatan (AI), yang kini makin banyak diadopsi di berbagai industri, mulai dari logistik, keuangan, hingga sektor kreatif.
“Pertumbuhan ini perlu dikelola dengan baik agar startup tidak hanya mampu menjawab tantangan, tetapi juga berkelanjutan dari sisi bisnis,” imbuhnya.
Konferensi dua hari yang digelar di The Ritz-Carlton Jakarta ini menghadirkan sejumlah segmen utama seperti Startup Arena, Unconference, dan Connection Hub sebagai platform yang mendorong kolaborasi dan membuka peluang kemitraan antara startup, investor, serta para pemangku kepentingan ekosistem digital.
Lebih dari 50 pembicara ternama hadir berbagi wawasan, mulai dari investor ventura, pendiri startup, hingga pemimpin teknologi kawasan. Diskusi-diskusi panel membahas beragam topik penting mulai dari profitabilitas, relevansi produk dengan pasar (market-fit), hingga transparansi dan tata kelola bisnis yang semakin krusial di era pasca-tech winter.
“Tema tahun ini, Defy Expectations, tidak sekadar soal optimisme, ini tentang komitmen kami untuk terus hadir mendukung para founder di masa-masa sulit,” ujar Maria Li, Chief Operating Officer Tech in Asia.
Menurutnya, selain menjadi wadah koneksi dan pendanaan, konferensi ini juga bertujuan membangun kembali kepercayaan dan memperkuat fondasi ekosistem yang siap melahirkan generasi baru startup di kawasan.
Maria menambahkan, topik seputar AI mendominasi pembahasan tahun ini, seiring meningkatnya gelombang adopsi teknologi tersebut di berbagai sektor. “Kami yakin kecerdasan buatan akan menjadi hal besar di Asia Tenggara. Kini sudah banyak startup yang membantu meningkatkan produktivitas perusahaan melalui AI mulai dari otomasi logistik, layanan pelanggan, hingga pengembangan konten kreatif,” ujarnya.
Seiring waktu, arah pembicaraan dalam ekosistem startup pun berkembang. Jika sebelumnya berfokus pada pendanaan dan pertumbuhan cepat, kini perhatiannya beralih ke profitabilitas, tata kelola yang transparan, dan dampak sosial yang berkelanjutan.
Baca juga: Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.