Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025
02 September 2025 |
22:18 WIB
Indonesia kembali mencatatkan prestasi di kancah internasional. Sebanyak delapan startup Tanah Air berhasil masuk ke dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025, yang menyoroti perusahaan rintisan dan skala kecil paling menjanjikan di kawasan Asia-Pasifik.
Daftar edisi kelima ini menegaskan semangat inovasi Asia, mulai dari kecerdasan buatan (AI), teknologi hijau, hingga solusi ekonomi sirkular. Secara kolektif, 100 startup terpilih tahun ini telah mengantongi hampir US$3 miliar pendanaan, naik dari US$2 miliar pada edisi sebelumnya. Indonesia sejajar dengan Korea Selatan, masing-masing menyumbang delapan startup.
Baca juga: East Ventures: GenAI Akan Jadi Game Changer bagi Startup Indonesia
Sepanjang 2023, Rekosistem berhasil mengelola 35.000 ton sampah, naik 84,2 persen dari tahun sebelumnya dengan 13.100 ton berhasil didaur ulang dan 5.800 ton diolah menjadi biofuel serta energi terbarukan.
Rekosistem kini melayani 90.000 rumah tangga dan lebih dari 200 perusahaan. Mei lalu, mereka mengantongi pendanaan seri A senilai US$7 juta yang dipimpin Saratoga Investama Sedaya dan K3 Ventures, sehingga total dana terkumpul mencapai US$12 juta.
Selain itu, nasabah dapat mengalihkan KPR ke bank lain dengan bunga lebih rendah. Pada Mei 2025, Ringkas meraih US$5,1 juta pendanaan pra-seri A untuk memperkuat teknologi, memperluas tim, dan mempersiapkan ekspansi ke Asia Tenggara.
ESB berdiri pada 2018 dengan misi digitalisasi industri makanan dan minuman (F&B). Perusahaan ini menawarkan solusi software terintegrasi, mulai dari POS, ERP, loyalty system, hingga dapur digital.
Tahun lalu, ESB meluncurkan OLIN, asisten AI yang membantu restoran menyesuaikan harga, memberi rekomendasi promosi, mendeteksi fraud, hingga membuat proyeksi bisnis secara real-time.
ESB kini digunakan oleh lebih dari 30.000 merchant, termasuk Starbucks dan Genki Sushi. Total pendanaan yang sudah dikantongi mencapai US$40 juta, dengan suntikan terbesar US$29 juta dari seri B pada 2022.
Pada April 2025, startup ini mengamankan US$9,7 juta pendanaan seri A dari Insignia Ventures. Dana tersebut digunakan untuk ekspansi dari dua outlet menjadi 30 gerai di Jawa, sekaligus menyiapkan langkah masuk ke pasar regional.
Klien BRIK mencakup pengembang besar seperti Ciputra dan Sinarmas Land hingga pemain kecil-menengah. Pada Mei 2025, BRIK mengamankan pendanaan seri A sebesar US$10 juta dari Jungle Ventures, setelah sebelumnya meraih US$12 juta pre-series A.
Beberapa klien besar mereka adalah Ciputra Group dan Astro. Pada Juli 2025, Monit mengumumkan pendanaan seri A senilai US$2,5 juta dari Cento Ventures untuk mengembangkan produk dan memperluas pasar.
Total pendanaan yang telah dikumpulkan lebih dari US$12 juta, termasuk US$6,2 juta pra-seri A yang diperoleh pada Januari 2025 dari Argor Capital.
Tahun lalu, Torch mendapat investasi dari Init 6, sebuah firma ventura milik Co-founder Bukalapak, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono untuk mendukung ekspansi ini.
Delapan nama di atas membuktikan kekuatan ekosistem startup Indonesia yang semakin beragam, dari teknologi hijau, kuliner, fintech, hingga ritel. Kehadiran mereka di daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025 menjadi sinyal kuat bahwa inovasi lokal mampu bersaing di tingkat regional dan global.
Baca juga: Dari Senopati ke Lantai Bursa: IPO Fore Coffee Bukti Startup Kopi Lokal Tetap Punya Gigi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Daftar edisi kelima ini menegaskan semangat inovasi Asia, mulai dari kecerdasan buatan (AI), teknologi hijau, hingga solusi ekonomi sirkular. Secara kolektif, 100 startup terpilih tahun ini telah mengantongi hampir US$3 miliar pendanaan, naik dari US$2 miliar pada edisi sebelumnya. Indonesia sejajar dengan Korea Selatan, masing-masing menyumbang delapan startup.
Baca juga: East Ventures: GenAI Akan Jadi Game Changer bagi Startup Indonesia
1. Rekosistem – Climate Tech
Jakarta menjadi rumah bagi Rekosistem, startup teknologi iklim yang lahir pada 2021. Perusahaan yang didirikan Joshua Valentino dan Ernest Layman ini fokus pada digitalisasi rantai pasok limbah untuk membangun ekosistem hijau.Sepanjang 2023, Rekosistem berhasil mengelola 35.000 ton sampah, naik 84,2 persen dari tahun sebelumnya dengan 13.100 ton berhasil didaur ulang dan 5.800 ton diolah menjadi biofuel serta energi terbarukan.
Rekosistem kini melayani 90.000 rumah tangga dan lebih dari 200 perusahaan. Mei lalu, mereka mengantongi pendanaan seri A senilai US$7 juta yang dipimpin Saratoga Investama Sedaya dan K3 Ventures, sehingga total dana terkumpul mencapai US$12 juta.
2. Ringkas – Fintech (KPR)
Startup fintech Ringkas hadir dengan ambisi mengubah cara masyarakat Indonesia mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Berdiri pada 2022, Ringkas menggunakan teknologi AI untuk melakukan KYC, credit scoring, hingga refinancing, sehingga proses pengajuan KPR menjadi lebih cepat dan efisien.Selain itu, nasabah dapat mengalihkan KPR ke bank lain dengan bunga lebih rendah. Pada Mei 2025, Ringkas meraih US$5,1 juta pendanaan pra-seri A untuk memperkuat teknologi, memperluas tim, dan mempersiapkan ekspansi ke Asia Tenggara.
3. ESB (Esensi Solusi Buana) – Enterprise Tech (F&B)
ESB berdiri pada 2018 dengan misi digitalisasi industri makanan dan minuman (F&B). Perusahaan ini menawarkan solusi software terintegrasi, mulai dari POS, ERP, loyalty system, hingga dapur digital.Tahun lalu, ESB meluncurkan OLIN, asisten AI yang membantu restoran menyesuaikan harga, memberi rekomendasi promosi, mendeteksi fraud, hingga membuat proyeksi bisnis secara real-time.
ESB kini digunakan oleh lebih dari 30.000 merchant, termasuk Starbucks dan Genki Sushi. Total pendanaan yang sudah dikantongi mencapai US$40 juta, dengan suntikan terbesar US$29 juta dari seri B pada 2022.
4. Se’Indonesia – F&B
Hidangan tradisional khas Nusa Tenggara Timur kini naik kelas lewat Se’Indonesia, startup kuliner cepat saji yang berdiri pada 2022. Dengan mengusung se’i atau daging asap, Se’Indonesia berhasil menjual lebih dari 2 juta porsi per bulan dengan harga terjangkau mulai Rp25.000.Pada April 2025, startup ini mengamankan US$9,7 juta pendanaan seri A dari Insignia Ventures. Dana tersebut digunakan untuk ekspansi dari dua outlet menjadi 30 gerai di Jawa, sekaligus menyiapkan langkah masuk ke pasar regional.
5. BRIK – Industry & Manufacturing
Startup distribusi bahan bangunan BRIK didirikan pada 2022 oleh Francis Anugrah. Melalui platform daring, BRIK menyediakan semen ramah lingkungan, cat pereduksi panas, dan material konstruksi lain secara transparan serta efisien. Layanan ini memotong jalur distribusi tradisional yang seringkali mahal dan berbelit.Klien BRIK mencakup pengembang besar seperti Ciputra dan Sinarmas Land hingga pemain kecil-menengah. Pada Mei 2025, BRIK mengamankan pendanaan seri A sebesar US$10 juta dari Jungle Ventures, setelah sebelumnya meraih US$12 juta pre-series A.
6. Monit – Fintech (Expense Management)
Berdiri di Jakarta pada 2022, Monit menawarkan platform manajemen pengeluaran berbasis kartu debit korporasi. Layanannya memungkinkan perusahaan memantau belanja karyawan secara real-time sekaligus mengotomatisasi reimbursement, langganan, hingga pembayaran invoice.Beberapa klien besar mereka adalah Ciputra Group dan Astro. Pada Juli 2025, Monit mengumumkan pendanaan seri A senilai US$2,5 juta dari Cento Ventures untuk mengembangkan produk dan memperluas pasar.
7. Skor Technologies – Fintech (Credit)
Lewat aplikasi Skorlife, Skor Technologies berfokus membantu masyarakat Indonesia memahami kondisi keuangan dan skor kredit pribadi. Pada 2024, perusahaan ini bekerja sama dengan Bank Mayapada untuk meluncurkan Skorcard, kartu kredit yang menargetkan segmen masyarakat dengan penetrasi kartu kredit rendah.Total pendanaan yang telah dikumpulkan lebih dari US$12 juta, termasuk US$6,2 juta pra-seri A yang diperoleh pada Januari 2025 dari Argor Capital.
8. Torch – Retail (Travel Accessories)
Menutup daftar ini, ada Torch, brand lokal aksesori perjalanan yang berdiri sejak 2015. Torch dikenal dengan produk terjangkau seperti tas, dompet, hingga card holder. Selain kanal online, Torch kini memiliki 14 toko fisik di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 50 gerai pada 2029, dengan proyeksi pendapatan US$70 juta.Tahun lalu, Torch mendapat investasi dari Init 6, sebuah firma ventura milik Co-founder Bukalapak, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono untuk mendukung ekspansi ini.
Delapan nama di atas membuktikan kekuatan ekosistem startup Indonesia yang semakin beragam, dari teknologi hijau, kuliner, fintech, hingga ritel. Kehadiran mereka di daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025 menjadi sinyal kuat bahwa inovasi lokal mampu bersaing di tingkat regional dan global.
Baca juga: Dari Senopati ke Lantai Bursa: IPO Fore Coffee Bukti Startup Kopi Lokal Tetap Punya Gigi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.