East Ventures: GenAI Akan Jadi Game Changer bagi Startup Indonesia
18 July 2025 |
08:00 WIB
Kecerdasan buatan, khususnya Generative AI (GenAI), makin gencar dibicarakan sebagai teknologi masa depan yang dapat mengubah cara bisnis dijalankan. Melihat tren ini, East Ventures merilis laporan berjudul AI-first: Decoding Southeast Asia Trends yang membahas potensi besar AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Menurut laporan tersebut, pada 2025 diperkirakan 1 dari 4 bisnis akan mulai menggunakan GenAI, dan angka ini akan meningkat dua kali lipat pada 2027. Peningkatan ini didorong oleh berbagai inovasi terobosan yang memungkinkan para perusahaan meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan operasional, dan membuka potensi pertumbuhan baru
Sementara itu, AI diprediksi dapat memberikan kontribusi sebesar 10–18 persen terhadap PDB di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia pada 2030.
Baca juga: 5 Strategi Branding UMKM agar Naik Kelas di Tengah Persaingan Ketat
Meski adopsi AI di Indonesia masih dalam tahap awal, tetapi East Venture melihat peluang dan potensi pertumbuhannya masih sangat besar di aplikasi hilir, terutama dalam pemanfaatan GenAI.
Banyak startup dan pelaku usaha lokal mulai menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan membangun layanan yang lebih cerdas. Dalam konteks ini, East Ventures menegaskan kembali keyakinannya untuk terus berinvestasi di sektor AI, dengan menempatkan startup berbasis AI-first sebagai salah satu fokus utama pada tahun 2025.
“AI seharusnya tidak diadopsi hanya karena tren, tapi dimanfaatkan untuk membangun solusi yang lebih intuitif dan efisien,” ujar Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures.
East Ventures meyakini bahwa bisnis harus mampu beradaptasi dan mengadopsi AI agar tetap relevan dan kompetitif dalam lanskap pasar yang terus berubah. East Ventures juga mengamati adanya pipeline startup yang baik dan perusahaan portofolio yang tengah memanfaatkan foundation model yang tersedia dan membangun solusi siap pakai di atasnya.
Willson menambahkan, GenAI juga membuka peluang bagi siapa saja, termasuk anak muda dan pelaku startup di daerah untuk menciptakan produk yang punya dampak nyata. Beberapa startup Indonesia yang didukung East Ventures sudah memanfaatkan AI, seperti Sxored, yang menggunakan AI untuk menganalisis kelayakan kredit, Xendit, yang mengandalkan AI untuk sistem keamanan transaksi, dan Waresix, yang mengoptimalkan logistik berbasis data.
Teknologi AI dikembangkan dengan memanfaatkan model yang sudah tersedia, lalu disesuaikan dengan kebutuhan lokal mulai dari bahasa, kebiasaan, hingga tantangan infrastruktur.
East Ventures percaya Indonesia punya modal besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital berbasis AI, terutama karena punya talenta muda yang adaptif dan semangat inovasi yang tinggi.
“Setiap kawasan memiliki kekuatannya sendiri dalam perlombaan AI, dan kami percaya kekuatan Asia Tenggara terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dan menerapkan model AI siap pakai secara efektif dalam konteks lokal,” ujar Willson.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut laporan tersebut, pada 2025 diperkirakan 1 dari 4 bisnis akan mulai menggunakan GenAI, dan angka ini akan meningkat dua kali lipat pada 2027. Peningkatan ini didorong oleh berbagai inovasi terobosan yang memungkinkan para perusahaan meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan operasional, dan membuka potensi pertumbuhan baru
Sementara itu, AI diprediksi dapat memberikan kontribusi sebesar 10–18 persen terhadap PDB di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia pada 2030.
Baca juga: 5 Strategi Branding UMKM agar Naik Kelas di Tengah Persaingan Ketat
Meski adopsi AI di Indonesia masih dalam tahap awal, tetapi East Venture melihat peluang dan potensi pertumbuhannya masih sangat besar di aplikasi hilir, terutama dalam pemanfaatan GenAI.
Banyak startup dan pelaku usaha lokal mulai menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan membangun layanan yang lebih cerdas. Dalam konteks ini, East Ventures menegaskan kembali keyakinannya untuk terus berinvestasi di sektor AI, dengan menempatkan startup berbasis AI-first sebagai salah satu fokus utama pada tahun 2025.
“AI seharusnya tidak diadopsi hanya karena tren, tapi dimanfaatkan untuk membangun solusi yang lebih intuitif dan efisien,” ujar Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures.
East Ventures meyakini bahwa bisnis harus mampu beradaptasi dan mengadopsi AI agar tetap relevan dan kompetitif dalam lanskap pasar yang terus berubah. East Ventures juga mengamati adanya pipeline startup yang baik dan perusahaan portofolio yang tengah memanfaatkan foundation model yang tersedia dan membangun solusi siap pakai di atasnya.
Willson menambahkan, GenAI juga membuka peluang bagi siapa saja, termasuk anak muda dan pelaku startup di daerah untuk menciptakan produk yang punya dampak nyata. Beberapa startup Indonesia yang didukung East Ventures sudah memanfaatkan AI, seperti Sxored, yang menggunakan AI untuk menganalisis kelayakan kredit, Xendit, yang mengandalkan AI untuk sistem keamanan transaksi, dan Waresix, yang mengoptimalkan logistik berbasis data.
Teknologi AI dikembangkan dengan memanfaatkan model yang sudah tersedia, lalu disesuaikan dengan kebutuhan lokal mulai dari bahasa, kebiasaan, hingga tantangan infrastruktur.
East Ventures percaya Indonesia punya modal besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital berbasis AI, terutama karena punya talenta muda yang adaptif dan semangat inovasi yang tinggi.
“Setiap kawasan memiliki kekuatannya sendiri dalam perlombaan AI, dan kami percaya kekuatan Asia Tenggara terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dan menerapkan model AI siap pakai secara efektif dalam konteks lokal,” ujar Willson.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.