Nyamuk Pertama Ditemukan di Islandia (Sumber Gambar Freepik)

Penemuan Nyamuk Pertama di Islandia, Tanda Nyata Pemanasan Global Kian Parah

23 October 2025   |   10:52 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Selama bertahun-tahun, Islandia dikenal sebagai salah satu dari sedikit tempat di dunia yang bebas dari nyamuk, serangga kecil yang kerap menjadi simbol daerah tropis dan penyakit menular. Namun, ketenangan itu kini berakhir. Untuk pertama kalinya, nyamuk ditemukan di negara yang selama ini dianggap terlalu dingin bagi serangga tersebut untuk bertahan hidup.

Dilansir dari The Guardian dan BBC, penemuan ini menjadi sinyal jelas bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman jauh di masa depan, melainkan kenyataan yang tengah berlangsung. Baru-baru ini, Islandia termasuk salah satu dari sedikit tempat di dunia yang tidak memiliki populasi nyamuk, bersama dengan Antartika.

Baca juga: 2024 Jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah, Ancaman Pemanasan Global Meningkat

Para ilmuwan sebenarnya telah lama memprediksi bahwa nyamuk suatu hari nanti bisa hidup di Islandia, mengingat negara ini memiliki banyak habitat potensial seperti rawa dan danau. Namun, iklim ekstrem di sana selama ini membuat nyamuk sulit bertahan hidup.

Kini, perubahan iklim mengubah segalanya. Islandia disebut mengalami pemanasan empat kali lebih cepat dibandingkan wilayah lain di belahan bumi utara. Gletser-gletser mencair, dan spesies laut dari perairan selatan yang lebih hangat seperti makarel mulai bermigrasi ke perairan Islandia.

Penemuan nyamuk ini dikonfirmasi oleh Matthías Alfreðsson, seorang entomolog di Institut Ilmu Pengetahuan Alam Islandia. Ia mengidentifikasi spesies tersebut sebagai Culiseta annulata, jenis nyamuk yang tahan terhadap suhu dingin, setelah menerima tiga spesimen dari seorang ilmuwan warga.

“Tiga spesimen dua betina dan satu jantan ditemukan di Kiðafell, Kjós,” jelas Alfreðsson. “Serangga itu dikumpulkan dari tali anggur selama kegiatan penarikan yang biasanya digunakan untuk menarik ngengat.”

Meskipun tampaknya kecil, keberadaan tiga spesimen saja bisa menjadi awal dari koloni baru yang menetap di negara tersebut. Dengan suhu musim panas yang kini menembus 26,6°C dan gelombang panas yang berlangsung lebih lama dari biasanya, kondisi ini semakin memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak.

Sebuah studi dari Jaringan Informasi Kesehatan Panas Global memperingatkan bahwa perubahan iklim semacam ini bisa berdampak “signifikan” pada ekosistem yang sensitif terhadap suhu, terutama di wilayah kutub. Tahun 2024 sendiri tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dan badan iklim PBB menegaskan bahwa aktivitas manusia “tanpa keraguan” telah memanaskan atmosfer, lautan, dan daratan.

Baca juga: Yuk, Mulai Konsumsi Makanan Sehat untuk Kurangi Pemanasan Global

Sementara itu, ilmuwan warga bernama Hjaltason, yang pertama kali menemukan nyamuk tersebut, menduga bahwa serangga itu mungkin datang melalui kontainer atau kapal yang berlabuh di Grundartangi, hanya beberapa kilometer dari rumahnya.
“Tapi jika tiga di antaranya sudah sampai di kebun saya,” ujarnya kepada Morgunblaðið, “kemungkinan besar ada lebih banyak lagi.”

Kehadiran nyamuk di Islandia bukan sekadar keanehan ilmiah; ia adalah cermin dari dunia yang memanas. Di balik sayap mungil serangga itu, tersimpan pesan besar: bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas geografis dan kini, bahkan negeri tanpa nyamuk pun tak lagi kebal dari dampaknya.

SEBELUMNYA

Fakta-fakta Menarik Film 28 Years Later: Bone Temple

BERIKUTNYA

Viral Kue Pancong Lumer, Amankah Dikonsumsi Setengah Matang?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga