Viral Kue Pancong Lumer, Amankah Dikonsumsi Setengah Matang?
23 October 2025 |
14:36 WIB
Kue pancong lumer belakangan kembali naik daun dan ramai dibicarakan di media sosial. Teksturnya yang lembut di bagian dalam dan sedikit kenyal di luar membuat banyak orang tergoda untuk mencobanya. Tak heran, jajanan tradisional ini kembali populer di kalangan pencinta kuliner manis.
Namun, di tengah tren tersebut, muncul pula perbincangan tentang keamanan makanan setengah matang. Beberapa orang mengaku mengalami gangguan pencernaan seperti diare setelah mengonsumsi pancong lumer. Lantas, di balik cita rasanya yang menggoda, adakah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai dari kue pancong lumer?
Baca juga: Kata Dokter M Sjahrir Soal Panduan Memakai Skincare dengan Kandungan Parfum, Amankah?
Dokter Spesialis Gizi dan Nutrisi RS Siloam MRCCC, Inge Permadhi, menjelaskan bahwa potensi risiko kesehatan dari makanan bisa dilihat dari berbagai faktor. Salah satunya adalah bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatannya. Menurutnya, tidak semua pancong dibuat dengan bahan yang sama, sehingga melihat faktor risikonya pun juga berbeda.
Beberapa penjual pancong lumer menggunakan resep dengan tambahan telur, sementara sebagian lainnya tidak. Untuk pancong tanpa telur, umumnya masih relatif aman dikonsumsi meski sedikit kuenya masih lembek atau setengah matang.
Hal ini karena bahan utamanya berupa tepung beras yang tergolong karbohidrat dan tidak mudah menyebabkan infeksi. Adapun bahan lainnya juga relatif aman, seperti kelapa setengah tua, santan, dan minyak nabati.
Namun, situasinya berbeda jika adonan pancong mengandung telur. Telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna rentan terkontaminasi bakteri. Kontaminasi inilah yang dapat memicu gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare setelah dikonsumsi.
"Telur memang sebaiknya tidak dimakan setengah matang karena rentan terkontaminasi Salmonella," ungkap Inge.
Selain bahan baku, kebersihan juga menjadi faktor penting yang menentukan keamanan makanan. Mulai dari tempat pengolahan, peralatan yang digunakan, hingga cara pemilihan bahan, semuanya perlu memenuhi standar kebersihan yang baik agar makanan tetap aman dikonsumsi.
Sebab, jika proses pengolahan dilakukan di lingkungan yang kurang higienis, risiko munculnya bakteri akan meningkat. Bahkan, bahan yang sebenarnya berkualitas baik pun bisa menjadi sumber penyakit bila dimasak atau disimpan dengan cara yang tidak tepat.
"Misalnya, kue pancongnya disimpan di luar, lalu tanpa disengaja ada lalat di sana. Itu kan sudah lain cerita lagi. Jadi, banyak faktor," imbuhnya.
Terakhir, yang juga perlu diperhatikan adalah daya tahan tubuh masing-masing individu. Setiap orang memiliki tingkat imunitas yang berbeda, sehingga ada yang lebih rentan terhadap efek negatif dari makanan yang tidak dimasak sempurna. Bagi mereka dengan sistem kekebalan tubuh lemah, konsumsi makanan setengah matang bisa menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius.
Baca juga: Paparan Sinar Ultraviolet di Jakarta Tinggi, Masih Amankah Berjemur Pagi Hari?
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Premier Bintaro, Yohan Samudra, menjelaskan bahwa makanan setengah matang sebaiknya dihindari oleh kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. “Khusus untuk ibu hamil, makanan yang tidak matang bisa berdampak pula pada kesehatan janin,” ujarnya.
Gejala yang dapat timbul meliputi mual, muntah, hingga diare. Jika terpapar bakteri Salmonella, seseorang bahkan berisiko mengalami penyakit tipes.
Namun, di tengah tren tersebut, muncul pula perbincangan tentang keamanan makanan setengah matang. Beberapa orang mengaku mengalami gangguan pencernaan seperti diare setelah mengonsumsi pancong lumer. Lantas, di balik cita rasanya yang menggoda, adakah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai dari kue pancong lumer?
Baca juga: Kata Dokter M Sjahrir Soal Panduan Memakai Skincare dengan Kandungan Parfum, Amankah?
Dokter Spesialis Gizi dan Nutrisi RS Siloam MRCCC, Inge Permadhi, menjelaskan bahwa potensi risiko kesehatan dari makanan bisa dilihat dari berbagai faktor. Salah satunya adalah bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatannya. Menurutnya, tidak semua pancong dibuat dengan bahan yang sama, sehingga melihat faktor risikonya pun juga berbeda.
Beberapa penjual pancong lumer menggunakan resep dengan tambahan telur, sementara sebagian lainnya tidak. Untuk pancong tanpa telur, umumnya masih relatif aman dikonsumsi meski sedikit kuenya masih lembek atau setengah matang.
Hal ini karena bahan utamanya berupa tepung beras yang tergolong karbohidrat dan tidak mudah menyebabkan infeksi. Adapun bahan lainnya juga relatif aman, seperti kelapa setengah tua, santan, dan minyak nabati.
Namun, situasinya berbeda jika adonan pancong mengandung telur. Telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna rentan terkontaminasi bakteri. Kontaminasi inilah yang dapat memicu gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare setelah dikonsumsi.
"Telur memang sebaiknya tidak dimakan setengah matang karena rentan terkontaminasi Salmonella," ungkap Inge.
Selain bahan baku, kebersihan juga menjadi faktor penting yang menentukan keamanan makanan. Mulai dari tempat pengolahan, peralatan yang digunakan, hingga cara pemilihan bahan, semuanya perlu memenuhi standar kebersihan yang baik agar makanan tetap aman dikonsumsi.
Sebab, jika proses pengolahan dilakukan di lingkungan yang kurang higienis, risiko munculnya bakteri akan meningkat. Bahkan, bahan yang sebenarnya berkualitas baik pun bisa menjadi sumber penyakit bila dimasak atau disimpan dengan cara yang tidak tepat.
"Misalnya, kue pancongnya disimpan di luar, lalu tanpa disengaja ada lalat di sana. Itu kan sudah lain cerita lagi. Jadi, banyak faktor," imbuhnya.
Terakhir, yang juga perlu diperhatikan adalah daya tahan tubuh masing-masing individu. Setiap orang memiliki tingkat imunitas yang berbeda, sehingga ada yang lebih rentan terhadap efek negatif dari makanan yang tidak dimasak sempurna. Bagi mereka dengan sistem kekebalan tubuh lemah, konsumsi makanan setengah matang bisa menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius.
Baca juga: Paparan Sinar Ultraviolet di Jakarta Tinggi, Masih Amankah Berjemur Pagi Hari?
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Premier Bintaro, Yohan Samudra, menjelaskan bahwa makanan setengah matang sebaiknya dihindari oleh kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. “Khusus untuk ibu hamil, makanan yang tidak matang bisa berdampak pula pada kesehatan janin,” ujarnya.
Gejala yang dapat timbul meliputi mual, muntah, hingga diare. Jika terpapar bakteri Salmonella, seseorang bahkan berisiko mengalami penyakit tipes.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.