Novel Koloni karya Ratih Kumala (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Resensi Novel Koloni: Refleksi Dunia Semut & Manusia Ala Ratih Kumala

21 October 2025   |   22:14 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Dari mana ambisi berasal. Apakah semut memiliki 'ambisi kolektif' untuk bertahan hidup demi memperluas koloni mereka. Bagaimana jika serangga yang memiliki sejumlah persamaan dengan manusia itu hadir sebagai sebuah kritik?

Senarai pertanyaan inilah barangkali yang kelak mencuat setelah membaca novel Koloni karya Ratih Kumala. Fabel berlatar dunia serangga bawah tanah ini, memberi gambaran lain bagaimana mereka memiliki sistem sosial dengan dunia manusia. 

Kita tahu, dalam masyarakat semut, pembagian peran begitu tegas. Ada ratu yang berfungsi sebagai pusat reproduksi, ada semut pekerja yang menopang kehidupan sehari-hari, serta semut prajurit yang siap mati demi mempertahankan sarang. 

Manusia pun sejatinya mirip. Kehidupan kota, dengan segala hiruk-pikuk dan spesialisasi pekerjaan, memperlihatkan bagaimana orang saling bergantung. Tukang sayur, sopir angkutan, guru, hingga pejabat, semuanya berperan menjaga agar kehidupan tetap berjalan. 

Baca juga: Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal 

Bedanya, manusia memiliki pilihan, sementara semut terikat insting atau feromon. Sebuah jejak kimiawi pemicu respons otomatis yang secara naluriah telah terprogram dalam sistem saraf untuk membuat koloni berfungsi sebagai satu tubuh besar.

Ratih Kumala memanfaatkan dunia serangga ini sebagai cermin. Koloni, hadir sebagai alegori sosial, menyinggung bagaimana individu acap kali terhimpit oleh tuntutan kolektif. Apakah manusia benar-benar bebas menentukan jalannya, ataukah sekadar roda kecil dalam mesin besar bernama masyarakat.

Premis ceritanya pun sederhana, yakni pertentangan antara dua ekor semut ratu dalam sebuah koloni. Mereka adalah Ratu Darojak, dan Ratu Gegana, yang berusaha menjadi alfa. Gegana sudah tidak mampu melahirkan semut pekerja, sedangkan Darojak adalah semut ratu yang 'nyasar' lalu dibaiat Mak Momong.

Bahasa Ratih pun tetap lincah dan mudah diikuti meski membicarakan sesuatu yang rumit. Lewat  fabel ini dia bisa mengabstraksikan persoalan sosial tanpa harus menunjuk langsung. Tentang sesuatu yang terstruktur, dan sistematis tak ubahnya intrik perebutan kekuasan di dunia manusia.

Konflik muncul ketika ada individu yang mulai mempertanyakan peran. Semut dalam novel ini bukan sekadar hewan instingtif, melainkan karakter yang punya pikiran dan perasaan. Dengan cara ini, Ratih membuka ruang bagi pembaca untuk mengaitkan kembali pada diri mereka sendiri terhadap realitas di sekitar.

Simak saja kutipan percakapan antara Darojak dan Sunar berikut: "Lahir sebagai semut adalah lahir dalam koloni yang pincang, tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yang prajurit bisa semena-mena, yang jantan harus menunggu yang tak pasti, yang menjadi ratu selamanya dilayani." (hlmn: 49).

Namun, Ratih tidak serta-merta menegaskan bahwa sistem itu buruk. Ada sisi lain seperti ketahanan, disiplin, dan kerja sama. Koloni semut bisa bertahan karena semua anggotanya taat pada fungsi masing-masing. Pertanyaannya, apakah manusia juga masih setia pada nilai kolektif, atau lebih sering terseret ambisi pribadi?

Di titik inilah novel Koloni terasa menggelitik. Dunia bawah tanah yang diciptakan Ratih, lengkap dengan aturan dan struktur sosialnya, memantulkan wajah manusia modern. Setiap semut yang patuh pada perannya, mengingatkan kita pada karyawan yang terjebak rutinitas, atau warga kota yang tak bisa lepas dari sistem.

Dunia serangga bawah tanah yang tampak sederhana, ternyata menyimpan kompleksitas. Sama halnya dengan kehidupan manusia yang penuh aturan tak tertulis. Dari sinilah Koloni mengajukan kritik halus tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam senyap, atau mereka hadir tapi tak terlihat? 

Fabel ini pada akhirnya bukan hanya cerita tentang hewan. Koloni adalah cermin untuk melihat sejauh mana manusia masih punya ruang bagi ambisi personal, atau justru sepenuhnya terserap dalam logika kolektif yang menuntut semua orang berjalan seragam demi ketertiban.

Akhir kata, Koloni menjadi bacaan yang memikat sekaligus reflektif. Dia menggabungkan hiburan, imajinasi, dan renungan sosial dalam satu tarikan napas. Membaca novel ini, kita diajak bertanya ulang: apakah kita hidup sebagai individu merdeka, atau hanya semut lain dalam koloni yang lebih besar?

Data Buku
Judul: Koloni
Penulis: Ratih Kumala
Ilustrasi Sampul & Isi: Alit Ambara
Editor: Mirna Yulistianti
Tahun Terbit: Agustus, 2025
Jumlah Halaman: 245 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:978-602-06-8445-1 

Baca juga: Resensi Novel Life As I Know It, Buku Visual Tanpa Kata Karya Emte yang Rayakan Kesendirian 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Allpack Indonesia 2025 Digelar, Melirik Tren dan Inovasi Kemasan yang Berkelanjutan

BERIKUTNYA

Wisata Kebugaran Kian Diminati, Wisman Korea Selatan Serbu Yogyakarta dan Surakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga