Ilustrasi buku Life As I Know It karya Emte (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Resensi Novel Life As I Know It, Buku Visual Tanpa Kata Karya Emte yang Rayakan Kesendirian

25 August 2025   |   16:27 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Bisakah buku komik, atau novel grafis tetap menyentuh tanpa satu kata pun? Pertanyaan itu muncul saat membuka karya terbaru Emte, alias Muhammad Taufiq. Emte merupakan ilustrator kawakan yang telah lama berkecimpung di dunia buku, terutama dalam desain dan ilustrasi.

Karya terbarunya, Life As I Know It, adalah kelanjutan dari Life As We Know It yang terbit pada 2023. Lewat media cat air, buku ini menyajikan rentetan ilustrasi yang merekam pengalaman personal sang ilustrator sebagai warga urban.

Seperti pendahulunya, buku ini juga hadir tetap tanpa dialog dan narasi teks. Emte menampilkan potret reflektif atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang akrab dengan kehidupan di kota.

Baca Juga: Naskah Buku Baru Pramoedya Ananta Toer Ditemukan di Pasar Loak Senen

Lebih dari 250 ilustrasi cat air di dalamnya menggambarkan momen sehari-hari yang kerap terlewatkan dalam kesibukan kota besar di Indonesia. Alih-alih menyajikan kisah tunggal, buku ini mengajak pembaca menyusuri serpihan adegan yang terasa akrab, namun sering terabaikan.

“Buku ini berangkat dari keresahan sederhana. Memangnya kenapa kalau kita sendirian?” ungkapnya dalam peluncuran buku dan pameran di dia.lo.gue, Jakarta. Dia menyinggung pengalaman sehari-hari seperti menonton, berjalan, atau makan sendiri yang kerap ditanggapi dengan tanya heran dari orang lain.

Buku ini memperlihatkan tokoh utama—yang bisa jadi Emte, bisa pula siapa saja—melakukan aktivitas soliter di berbagai ruang kota. Mulai dari memasak, makan di restoran, bercengkrama dengan hewan peliharaan, hingga duduk termenung dalam keheningan.

Rangkaian visual tersebut mengajak pembaca menimbang ulang arti “kesendirian” yang selama ini distigma negatif. Di tangan Emte, aktivitas sendirian justru tampak damai, utuh, dan bahkan berwarna, kontras dengan hiruk-pikuk kota yang divisualisasikan dalam warna kelabu.
 
 


Pada chapter pertama, misalnya, tokoh digambarkan dalam berbagai pose tidur: dari bermain gawai, mendengar musik, hingga memeluk bantal. Ilustrasi lalu mengalir ke adegan keseharian seperti menimbang berat badan dan bersiap memulai hari.

Di halaman lain, Emte juga menghadirkan kerumunan manusia yang menyebrang jalan pada pagi hari. Palet warna hijau kekuningan menciptakan nuansa hangat, namun latar dan ekspresi tetap memancarkan atmosfer yang suram dan melankolis.

Ketiadaan teks justru jadi kekuatan utama buku ini, karena menghadirkan ruang tafsir yang luas. Tanpa kendala bahasa, buku ini dapat dinikmati lintas suku dan negara melalui bahasa visual yang universal.

Bahkan, buku ini bisa dibuka dari halaman mana pun tanpa kehilangan konteks. Narasi non-linear ini memberi kebebasan penuh bagi pembaca untuk meresapi setiap adegan secara mandiri, tanpa keterikatan urutan atau alur cerita.

Namun, ketiadaan teks dan dialog dalam buku ini bukan tanpa risiko. Meski memberi ruang tafsir yang luas, pendekatan visual murni seperti ini juga berpotensi menyisihkan sebagian pembaca yang tak terbiasa membaca bahasa rupa.

Sebab, tak semua orang memiliki kebiasaan atau literasi visual yang cukup untuk menangkap nuansa atau makna filosofis di balik gestur tubuh, pemilihan warna, atau komposisi ruang. Kodifikasi warna yang dipakai juga tidak konsisten. Atau justru dia ingin menggambarkan suasana.

Kendati begitu, dalam konteks ini, Life As I Know It juga dapat menjadi buku yang menantang. Sebab, dia mengajak pembacanya untuk benar-benar hadir, memperlambat bacaan, dan membuka diri terhadap pengalaman visual yang subtil dan kontemplatif, terutama dalam merefleksikan realitas hari ini.
 
Data Buku

Judul: Life As I Know It
Penulis/Ilustrator: Emte (Muhammad Taufiq)
Ilustrasi Sampul: Emte
Editor: Dini Pandia
Tahun Terbit: Juli, 2025
Jumlah Halaman: 368 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:978-602-06-8384-3

Baca Juga: Cerita Proses Kreatif di Balik Buku Youthquake, Angkat Isu & Keresahan Anak Muda

SEBELUMNYA

Turun Jadi 29%, Porsi MBG di Dana Pendidikan 2026 Tetap Tuai Kritik Keras

BERIKUTNYA

Fakta Menarik Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Kampus Vannes Wijaya Juara COC

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga