Waspada Osteoporosis Sang ‘Pencuri Senyap’, Cegah & Tangani Sebelum Terlambat
21 October 2025 |
10:00 WIB
Menjaga kesehatan tulang sering kali luput dari perhatian, padahal hal ini penting untuk mencegah penyakit degeneratif seperti osteoporosis atau tulang keropos. Risiko tersebut dapat menyerang siapa saja, terutama yang kurang aktif, jarang terpapar sinar matahari, atau tidak memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian.
Spesialis Orthopedi Konsultan Tulang Belakang Eka Hospital Cibubur, dr. Omar Luthfi, menerangkan osteoporosis adalah penyakit yang membuat kepadatan tulang semakin berkurang, sehingga menjadi rapuh. Penyakit ini sering disebut ‘pencuri senyap’ karena tidak menimbulkan gejala apapun hingga akhirnya terjadi patah tulang.
“Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang serius yang mengubah hidup,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Senin (20/10/2025).
Baca juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Mengalami Osteoporosis
Adapun patah tulang yang paling ditakuti adalah patah tulang pinggul (hip fracture). Pada lansia, patah tulang ini seringkali membutuhkan operasi besar, pemulihan yang lama, bahkan dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lainnya secara signifikan.
Salah satu jenis patah tulang yang sering luput dari perhatian adalah patah tulang belakang akibat osteoporosis. Patah ini bisa terjadi hanya karena membungkuk atau batuk. Awalnya, mungkin hanya terasa seperti nyeri punggung biasa.
Namun, apabila kondisi ini dialami oleh lansia disertai nyeri punggung yang tak kunjung membaik, dr. Omar mengimbau agar segera memeriksakan diri ke dokter spesialis tulang. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko osteoporosis, karena penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dan ditangani lebih efektif bila terdeteksi sejak dini.
Pencegahan osteoporosis terbilang sanga mudah. Pertama, konsumsi nutrisi yang baik untuk kesehatan tulang. Jika ingin tulang tetap padat, pastikan tubuh mendapatkan nutrisi seperti kalsium, Vitamin D, dan protein seimbang.
Omar menjelaskan, kalsium adalah bahan baku utama tulang. Pastikan asupan dari susu, keju, yogurt, sayuran hijau seperti brokoli, dan ikan kecil seperti teri. Adapun Vitamin D membantu tubuh menyerap Kalsium. Sumber utamanya adalah paparan sinar matahari pagi yang cukup, atau dari makanan seperti kuning telur dan ikan berlemak.
Sementara konsumsi protein yang cukup penting untuk matriks tulang. “Hindari asupan protein berlebihan yang dapat meningkatkan ekskresi kalsium,” tegasnya.
Langkah pencegahan kedua yaitu aktivitas fisik yang tepat dengan beberapa latihan. Bisa dimulai dengan latihan ringan yang penting untuk merangsang sel pembentuk tulang. Contohnya adalah jalan kaki, lari ringan, naik turun tangga, dan menari.
Lalu, latihan otot dengan beban atau bodyweight yang membantu memperkuat otot penyangga dan meningkatkan kepadatan tulang. Latihan keseimbangan juga penting untuk lansia agar mencegah jatuh, yang merupakan penyebab utama patah tulang.
Pencegahan ketiga yakni hindari pemicu pengeroposan. Caranya dengan berhenti merokok, batasi alkohol dan kafein. Omar menerangkan, merokok sangat merusak sel tulang dan mengganggu penyerapan kalsium, konsumsi alkohol berlebihan mengganggu penyerapan Kalsium dan Vitamin D, serta meningkatkan risiko jatuh, sementara konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan pembuangan kalsium melalui urine.
Bagi yang sudah mengalami osteoporosis, tidak perlu khawatir. Omar menyebut saat ini sudah ada penanganan yang dapat dilakukan. Penanganan osteoporosis terbagi dua, yaitu pencegahan dan pengobatan untuk mencegah patah tulang baru, serta penanganan untuk tulang yang sudah patah.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Spesialis Orthopedi Konsultan Tulang Belakang Eka Hospital Cibubur, dr. Omar Luthfi, menerangkan osteoporosis adalah penyakit yang membuat kepadatan tulang semakin berkurang, sehingga menjadi rapuh. Penyakit ini sering disebut ‘pencuri senyap’ karena tidak menimbulkan gejala apapun hingga akhirnya terjadi patah tulang.
“Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang serius yang mengubah hidup,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Senin (20/10/2025).
Baca juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Mengalami Osteoporosis
Adapun patah tulang yang paling ditakuti adalah patah tulang pinggul (hip fracture). Pada lansia, patah tulang ini seringkali membutuhkan operasi besar, pemulihan yang lama, bahkan dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lainnya secara signifikan.
Salah satu jenis patah tulang yang sering luput dari perhatian adalah patah tulang belakang akibat osteoporosis. Patah ini bisa terjadi hanya karena membungkuk atau batuk. Awalnya, mungkin hanya terasa seperti nyeri punggung biasa.
Namun, apabila kondisi ini dialami oleh lansia disertai nyeri punggung yang tak kunjung membaik, dr. Omar mengimbau agar segera memeriksakan diri ke dokter spesialis tulang. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko osteoporosis, karena penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dan ditangani lebih efektif bila terdeteksi sejak dini.
Pencegahan osteoporosis terbilang sanga mudah. Pertama, konsumsi nutrisi yang baik untuk kesehatan tulang. Jika ingin tulang tetap padat, pastikan tubuh mendapatkan nutrisi seperti kalsium, Vitamin D, dan protein seimbang.
Omar menjelaskan, kalsium adalah bahan baku utama tulang. Pastikan asupan dari susu, keju, yogurt, sayuran hijau seperti brokoli, dan ikan kecil seperti teri. Adapun Vitamin D membantu tubuh menyerap Kalsium. Sumber utamanya adalah paparan sinar matahari pagi yang cukup, atau dari makanan seperti kuning telur dan ikan berlemak.
Sementara konsumsi protein yang cukup penting untuk matriks tulang. “Hindari asupan protein berlebihan yang dapat meningkatkan ekskresi kalsium,” tegasnya.
Langkah pencegahan kedua yaitu aktivitas fisik yang tepat dengan beberapa latihan. Bisa dimulai dengan latihan ringan yang penting untuk merangsang sel pembentuk tulang. Contohnya adalah jalan kaki, lari ringan, naik turun tangga, dan menari.
Lalu, latihan otot dengan beban atau bodyweight yang membantu memperkuat otot penyangga dan meningkatkan kepadatan tulang. Latihan keseimbangan juga penting untuk lansia agar mencegah jatuh, yang merupakan penyebab utama patah tulang.
Pencegahan ketiga yakni hindari pemicu pengeroposan. Caranya dengan berhenti merokok, batasi alkohol dan kafein. Omar menerangkan, merokok sangat merusak sel tulang dan mengganggu penyerapan kalsium, konsumsi alkohol berlebihan mengganggu penyerapan Kalsium dan Vitamin D, serta meningkatkan risiko jatuh, sementara konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan pembuangan kalsium melalui urine.
Bagi yang sudah mengalami osteoporosis, tidak perlu khawatir. Omar menyebut saat ini sudah ada penanganan yang dapat dilakukan. Penanganan osteoporosis terbagi dua, yaitu pencegahan dan pengobatan untuk mencegah patah tulang baru, serta penanganan untuk tulang yang sudah patah.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.