75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Mengalami Osteoporosis
02 June 2025 |
11:10 WIB
Data pemindaian tulang atau bone scan yang dilakukan oleh Anlene selama sekitar 9 bulan dari Agustus 2024 sampai Mei 2025 di 12 kota di Indonesia menunjukkan bahwa hampir 75 persen individu dengan lanjut usia memiliki risiko dari sedang hingga tinggi memiliki osteoporisis. Dengan begitu, penting untuk melakukan pencegahan.
Yauwanan Wigneswaran, Presiden Direktur Fonterra Brands Indonesia, mengatakan bahwa lebih dari 340.000 orang dari berbagai rentang usia mengikuti program bone scan yang dilakukan oleh Anlene dalam rentang tersebut.
“Ditemukan bahwa hampir 75 persen lansia memiliki risiko sedang hingga tinggi terhadap osteoporosis. Faktanya, 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko terkena osteoporosis, kondisi yang dapat melemahkan dan merapuhkan tulang sehingga lebih berisiko patah,” katanya dalam siaran pers dikutip pada Senin (2/6/2025).
Baca juga: Waspadai Osteoporosis Menyerang Generasi Muda
Dia menambahkan, data tersebut juga menunjukkan bahwa individu lanjut usia yang jarang menjalani aktivitas olahraga setiap hari memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi. Sementara itu, lansia yang menjalani pola makan bergizi seimbang dan aktif bergerak memiliki risiko keropos tulang yang lebih rendah secara signifikan.
Tidak hanya itu, lansia yang aktif secara fisik setiap hari memiliki hampir 2 kali lipat peluang lebih besar untuk terhindar dari pengeroposan tulang. Adapun, konsumsi rutin kalsium terbukti menurunkan risiko hingga 1,8 kali lipat.
Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) Tirza Z. Tamin mengungkapkan Osteoporosis sering kali tidak terdeteksi terhadap individu hingga terjadi patah tulang. “Padahal, menjaga kesehatan tulang seharusnya dimulai sejak muda dan terus berlanjut hingga lansia,” ujarnya.
Dia menambahkan, langkah mengonsumsi susu tinggi kalsium dan tetap aktif bergerak merupakan kombinasi kunci untuk mempertahankan kepadatan tulang dan mencegah fraktur di usia lanjut.
Haryadi Raharjo, Scientific & Nutrition Manager, Fonterra Brands Indonesia, menuturkan bahwa edukasi mengenai betapa penting nutrisi tulang menjadi sangat relevan di tengah angka prevalensi osteopenia dan osteoporosis yang terus mengalami peningkatan, khususnya di Asia dan Indonesia.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi produk susu lebih dari sekali dalam satu hari berkaitan dengan BMD (bone mineral density) yang lebih tinggi dan risiko osteoporosis yang dialami oleh individu lebih rendah. Dengan begitu, dia menilai bahwa susu adalah investasi penting bagi individu untuk hari tua dan tidak hanya untuk anak-anak.
Baca juga: 4 Asupan Makanan yang Baik untuk Mencegah Osteoporosis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Yauwanan Wigneswaran, Presiden Direktur Fonterra Brands Indonesia, mengatakan bahwa lebih dari 340.000 orang dari berbagai rentang usia mengikuti program bone scan yang dilakukan oleh Anlene dalam rentang tersebut.
“Ditemukan bahwa hampir 75 persen lansia memiliki risiko sedang hingga tinggi terhadap osteoporosis. Faktanya, 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko terkena osteoporosis, kondisi yang dapat melemahkan dan merapuhkan tulang sehingga lebih berisiko patah,” katanya dalam siaran pers dikutip pada Senin (2/6/2025).
Baca juga: Waspadai Osteoporosis Menyerang Generasi Muda
Dia menambahkan, data tersebut juga menunjukkan bahwa individu lanjut usia yang jarang menjalani aktivitas olahraga setiap hari memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi. Sementara itu, lansia yang menjalani pola makan bergizi seimbang dan aktif bergerak memiliki risiko keropos tulang yang lebih rendah secara signifikan.
Tidak hanya itu, lansia yang aktif secara fisik setiap hari memiliki hampir 2 kali lipat peluang lebih besar untuk terhindar dari pengeroposan tulang. Adapun, konsumsi rutin kalsium terbukti menurunkan risiko hingga 1,8 kali lipat.
Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) Tirza Z. Tamin mengungkapkan Osteoporosis sering kali tidak terdeteksi terhadap individu hingga terjadi patah tulang. “Padahal, menjaga kesehatan tulang seharusnya dimulai sejak muda dan terus berlanjut hingga lansia,” ujarnya.
Dia menambahkan, langkah mengonsumsi susu tinggi kalsium dan tetap aktif bergerak merupakan kombinasi kunci untuk mempertahankan kepadatan tulang dan mencegah fraktur di usia lanjut.
Haryadi Raharjo, Scientific & Nutrition Manager, Fonterra Brands Indonesia, menuturkan bahwa edukasi mengenai betapa penting nutrisi tulang menjadi sangat relevan di tengah angka prevalensi osteopenia dan osteoporosis yang terus mengalami peningkatan, khususnya di Asia dan Indonesia.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi produk susu lebih dari sekali dalam satu hari berkaitan dengan BMD (bone mineral density) yang lebih tinggi dan risiko osteoporosis yang dialami oleh individu lebih rendah. Dengan begitu, dia menilai bahwa susu adalah investasi penting bagi individu untuk hari tua dan tidak hanya untuk anak-anak.
Baca juga: 4 Asupan Makanan yang Baik untuk Mencegah Osteoporosis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.