Ilustrasi Influenza (Sumber gambar: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)

Kasus Influenza A di Indonesia Sedang Tinggi, Cek Penyebab dan Cara Pencegahannya

20 October 2025   |   21:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Belakangan ini, keluhan batuk, pilek, dan demam sedang ramai dirasakan banyak orang di berbagai daerah Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan merasa keluhan-keluhan sakit tersebut terasa menetap lebih lama meski telah menjalani pengobatan ringan.

Ketua Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menjelaskan keluhan-keluhan seperti batuk, pilek, dan demam yang dirasakan sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini umumnya disebabkan oleh virus Influenza A. Saat ini, katanya, angka kasus Influenza A di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memang tengah meningkat. Tak hanya di Asia Tenggara, peningkatan juga terjadi di Afrika Barat.

Baca Juga: Vaksinasi Influenza dan Tdap, Perlindungan Esensial bagi Ibu Hamil dan Bayi

Kendati sama-sama terjadi lonjakan kasus, virus yang beredar di kedua wilayah tersebut memiliki perbedaan subtipe. Di kawasan Asia Tenggara, virus yang dominan adalah Influenza A (H3N2), sedangkan di wilayah Afrika Barat, Timur, dan Tengah, penyebarannya didominasi oleh subtipe lain, yakni Di kawasan Asia Tenggara, virus yang dominan adalah Influenza A (H3N2), sedangkan di wilayah Afrika Barat, Timur, dan Tengah, penyebarannya didominasi oleh subtipe lain.

"Apakah ini berkaitan dengan perubahan musim? saya kira tidak. Secara global, aktivitas influenza di minggu ke 40 (15 Oktober 2025) sebenarnya lebih rendah dari tahun sebelumnya kecuali di 2 regional tersebut saja," ungkapnya kepada Hypeabis.id.

Pada periode Oktober hingga Maret, kata Masdalina, seharusnya peningkatan kasus influenza mestinya lebih banyak terjadi di belahan bumi utara yang sedang memasuki musim dingin. Namun, data menunjukkan hal sebaliknya. Sebab, angka kasus flu di kawasan tersebut justru relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, di wilayah tropis seperti Asia Tenggara dan Afrika, sejauh ini pola penyebaran influenza memang cenderung tidak menentu. Oleh karena itu, peningkatan kasus di kawasan ini tidak selalu dipengaruhi oleh perubahan cuaca semata.

Masdalina justru menduga peningkatan kasus di Asia Tenggara kali ini, termasuk di Indonesia, lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sirkulasi patogen Influenza A (H3N2). Kondisi ini sebaiknya perlu dicermati lebih jauh karena tingkat tingkat positivity rate di kawasan ini sudah cukup tinggi.

"Positivity rate >30% itu sangat tinggi, jadi wajar saja kasus meningkat tinggi, apalagi bila tidak ada tindakan pencegahan yang dilakukan," imbuhnya.


Perhatikan Gejala dan Pencegahan

Masdalina mengingatkan masyarakat untuk mulai lebih peduli pada gejala-gejala Influenza A dan segera lakukan pencegahan. Sebab, jika tidak ada upaya pencegahan, angka kasus bisa makin meningkat.

Gejala utama Influenza A umumnya ditandai dengan demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius, disertai rasa nyeri atau pegal pada otot dan sendi. Penderita juga kerap mengalami batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Pada kasus yang lebih berat, infeksi ini dapat menyebabkan sesak atau kesulitan bernapas.

Langkah pencegahan Influenza A bisa dilakukan dengan beberapa cara, tetapi umumnya sama dengan penyakit lain yang menular melalui droplet. Penggunaan masker di tempat umum penting dilakukan, tidak hanya bagi mereka yang sedang sakit, tetapi juga bagi orang sehat. Dengan begitu, risiko penyebaran virus dapat ditekan, terutama di ruang tertutup atau tempat ramai.

Masdalina juga mengimbau agar mereka yang sedang sakit sebaiknya beristirahat di rumah dan menghindari kontak langsung dengan orang sehat. Penerapan kembali protokol kesehatan dasar seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menjaga jarak masih sangat relevan dilakukan sekarang. 

Selain itu, memperkuat daya tahan tubuh melalui asupan bergizi dan istirahat cukup juga berperan penting. Dia menambahkan, meski obat untuk Influenza A tersedia, efektivitasnya masih terbatas. Terlebih, jika diperhatikan, virus Influenza A (H3N2) memang tidak bersifat mematikan sejauh ini. 

"Kendati demikian, pada kelompok rentan fatalitas bisa relatif lebih tinggi. Jadi, perhatikan gejala pada orang tua, bayi, balita, ibu hamil, atau penderita dengan penyakit komorbid. Kalau mereka sakit, segera bawa ke puskesmas atau RS untuk mendapat penanganan lebih lanjut," tegasnya.

Baca Juga: Waspada, Demam Tifus Berulang Bisa Sebabkan Kanker Kandung Empedu

SEBELUMNYA

Lini Terbaru iQOO Z10 Meluncur Pekan Ini, Jadi yang Pertama Pakai Chipset MediaTek

BERIKUTNYA

Urgensi Perlindungan Data Pribadi Jadi Catatan 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga