Waspada, Demam Tifus Berulang Bisa Sebabkan Kanker Kandung Empedu
30 June 2025 |
17:41 WIB
Infeksi tifus yang berulang diam-diam bisa membuka jalan bagi kanker. Temuan terbaru mengungkap bahwa bakteri Salmonella typhi, penyebab utama tifus, berpotensi menjadi agen pemicu kanker kandung empedu bila dibiarkan menetap dalam tubuh dalam jangka panjang.
Sorotan ini mengemuka dalam Global Conference on One Health di Shenzhen, China, yang menyoroti risiko lintas sektor dari penyakit infeksi seperti tifoid, tak hanya bagi manusia, tetapi juga hewan dan lingkungan.
“Salmonella typhi, bakteri penyebab tifus, bisa menjadi agen karsinogenik terutama bila infeksi terjadi berulang atau menetap dalam jangka panjang di kantong empedu (carrier state),” ujar Dr. Dicky Budiman, Ph.D., epidemiolog global dari Griffith University.
Baca juga: Awas! Kalap Makan Daging Olahan Bisa Bikin Batu Empedu
Menurutnya, kolonisasi kronis di kandung empedu yang tidak sembuh total memungkinkan bakteri bertahan dalam biofilm dan batu empedu. Bakteri tersebut menghasilkan toksin dan senyawa pro-inflamasi (seperti nitrosamin) yang bisa menyebabkan kerusakan DNA sel epitel kandung empedu.
“Inflamasi kronik ini mempercepat transformasi sel normal menjadi sel kanker [adenokarsinoma]. Terutama bagi mereka yang memiliki batu empedu [gallstone], karena Salmonella typhi mudah menempel dan bertahan dalam biofilm batu empedu,” jelasnya.
Di Indonesia, di mana tifus masih tergolong penyakit endemik, kondisi ini menjadi sangat relevan. Banyak pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan antibiotiknya atau tidak terdiagnosis secara tepat. Akibatnya, infeksi tidak sepenuhnya tuntas hingga bisa terjadi secara berulang.
Kebiasaan makan makanan pinggir jalan, air minum yang belum tentu bersih, serta minimnya kesadaran terhadap pemeriksaan lanjutan membuat risiko ini makin nyata.
Menurut Dr. Dicky, gejala kanker kandung empedu sendiri kerap tak kentara di awal. Keluhan seperti nyeri perut kanan atas bisa tumpul atau tajam, terutama setelah makan berlemak. Rasa begah, mual, demam ringan hingga penurunan berat badan sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa.
Namun jika dibiarkan, kanker ini bisa berkembang diam-diam hingga menimbulkan gejala kuning (ikterik) karena saluran empedu tersumbat serta warna feses yang pucat atau urin yang gelap.
“Di lapangan, kita masih melihat rendahnya akses masyarakat ke pemeriksaan USG perut untuk mendeteksi batu empedu atau infeksi kronik. Padahal ini sangat penting, terutama bagi mereka yang pernah menderita tifus lebih dari sekali,” katanya.
Untuk itu, Dr. Dicky menekankan pentingnya pendekatan pencegahan yang holistik.
1. Mencegah Tifoid
“Infeksi kronik, apapun jenisnya, selalu punya potensi merusak. Dan tifus bukan pengecualian. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, kita bisa menghadapi masalah kesehatan yang jauh lebih serius beberapa tahun ke depan,” tutup Dr. Dicky.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sorotan ini mengemuka dalam Global Conference on One Health di Shenzhen, China, yang menyoroti risiko lintas sektor dari penyakit infeksi seperti tifoid, tak hanya bagi manusia, tetapi juga hewan dan lingkungan.
“Salmonella typhi, bakteri penyebab tifus, bisa menjadi agen karsinogenik terutama bila infeksi terjadi berulang atau menetap dalam jangka panjang di kantong empedu (carrier state),” ujar Dr. Dicky Budiman, Ph.D., epidemiolog global dari Griffith University.
Baca juga: Awas! Kalap Makan Daging Olahan Bisa Bikin Batu Empedu
Menurutnya, kolonisasi kronis di kandung empedu yang tidak sembuh total memungkinkan bakteri bertahan dalam biofilm dan batu empedu. Bakteri tersebut menghasilkan toksin dan senyawa pro-inflamasi (seperti nitrosamin) yang bisa menyebabkan kerusakan DNA sel epitel kandung empedu.
“Inflamasi kronik ini mempercepat transformasi sel normal menjadi sel kanker [adenokarsinoma]. Terutama bagi mereka yang memiliki batu empedu [gallstone], karena Salmonella typhi mudah menempel dan bertahan dalam biofilm batu empedu,” jelasnya.
Di Indonesia, di mana tifus masih tergolong penyakit endemik, kondisi ini menjadi sangat relevan. Banyak pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan antibiotiknya atau tidak terdiagnosis secara tepat. Akibatnya, infeksi tidak sepenuhnya tuntas hingga bisa terjadi secara berulang.
Kebiasaan makan makanan pinggir jalan, air minum yang belum tentu bersih, serta minimnya kesadaran terhadap pemeriksaan lanjutan membuat risiko ini makin nyata.
Menurut Dr. Dicky, gejala kanker kandung empedu sendiri kerap tak kentara di awal. Keluhan seperti nyeri perut kanan atas bisa tumpul atau tajam, terutama setelah makan berlemak. Rasa begah, mual, demam ringan hingga penurunan berat badan sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa.
Namun jika dibiarkan, kanker ini bisa berkembang diam-diam hingga menimbulkan gejala kuning (ikterik) karena saluran empedu tersumbat serta warna feses yang pucat atau urin yang gelap.
“Di lapangan, kita masih melihat rendahnya akses masyarakat ke pemeriksaan USG perut untuk mendeteksi batu empedu atau infeksi kronik. Padahal ini sangat penting, terutama bagi mereka yang pernah menderita tifus lebih dari sekali,” katanya.
Untuk itu, Dr. Dicky menekankan pentingnya pendekatan pencegahan yang holistik.
1. Mencegah Tifoid
- Air minum harus direbus atau diklorinasi.
- Hindari makanan yang terbuka dan tidak higienis, terutama di pinggir jalan.
- Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air.
- Vaksin tifoid setiap 3 tahun (terutama anak-anak dan orang di daerah endemis).
- Jangan menghentikan antibiotik sebelum waktunya, walaupun gejala hilang.
- Lakukan pemeriksaan feses/urin ulang untuk memastikan bakteri hilang.
- USG abdomen rutin bila ada gejala dispepsia, riwayat tifus berulang, atau usia >40 tahun.
- Pemeriksaan pembawa S. typhi kronik (carrier screening) pada yang pernah kena tifus berulang.
- Hindari makanan tinggi kolesterol dan gorengan (faktor batu empedu).
- Perbanyak serat, sayur, air putih.
- Olahraga teratur.
“Infeksi kronik, apapun jenisnya, selalu punya potensi merusak. Dan tifus bukan pengecualian. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, kita bisa menghadapi masalah kesehatan yang jauh lebih serius beberapa tahun ke depan,” tutup Dr. Dicky.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.