23.000 Kasus Suspek Campak 2025, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi
10 October 2025 |
09:00 WIB
Penyakit campak kembali menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak di Indonesia. Meski termasuk penyakit lama yang seharusnya bisa dicegah, kasusnya terus bermunculan di berbagai wilayah. Bahkan, pemerintah kembali menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk campak di sejumlah daerah sepanjang 2025 ini.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI Prima Yosephine menegaskan bahwa imunisasi adalah cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Baca juga: Daftar Mitos Campak yang Keliru di Masyarakat
“Imunisasi campak sudah kita masukkan sebagai salah satu dari 14 jenis antigen yang masuk ke dalam program imunisasi nasional,” ujarnya. Dia juga menambahkan, imunisasi campak harus diberikan tepat waktu atau sesuai jadwal yang sudah ditentukan agar perlindungan optimal bisa terbentuk pada anak-anak.
Dalam program imunisasi nasional, vaksin campak rubella diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi pertama dilakukan pada bayi usia 9 bulan, imunisasi kedua pada usia 18 bulan, dan booster diberikan ketika anak memasuki kelas 1 sekolah dasar atau sekitar usia 7 tahun. Vaksin yang digunakan sudah dikombinasikan dengan rubella, sehingga sekali pemberian dapat melindungi anak dari dua penyakit sekaligus.
Prima menjelaskan, pemilihan usia 9 bulan sebagai awal pemberian didasarkan pada hasil penelitian medis bahwa antibodi yang diturunkan dari ibu mulai menurun pada usia tersebut. Dengan imunisasi, tubuh anak dapat membentuk kekebalan aktif terhadap campak. Minimal 2 kali pemberian imunisasi dianggap perlu untuk memberikan perlindungan yang efektif.
Namun, capaian imunisasi campak rubella dalam 3 tahun terakhir dilaporkan mengalami penurunan. Data menunjukkan bahwa cakupan dosis pertama lebih tinggi dibandingkan dosis kedua, sehingga kekebalan masyarakat belum sepenuhnya optimal.
Target nasional sebesar 95% pun belum tercapai. Padahal, angka tersebut diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok yang dapat melindungi seluruh populasi anak.
Pemerataan cakupan juga masih menjadi tantangan besar. Secara nasional, angka imunisasi terlihat cukup tinggi, tetapi ketika data diuraikan per provinsi hingga ke tingkat desa, ditemukan masih banyak wilayah dengan capaian rendah. Ketidakseimbangan ini, menurut Prima, berkontribusi pada meningkatnya kasus campak yang pada akhirnya menimbulkan KLB di sejumlah daerah.
Dampak penurunan cakupan terlihat jelas dari peningkatan jumlah kasus. Sepanjang tahun 2025 hingga akhir Agustus, tercatat 23.128 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 3.444 kasus terkonfirmasi positif dengan angka positivity rate mencapai 16,6%.
Sebagai langkah penanggulangan, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah dan mitra lintas sektor telah melaksanakan berbagai upaya. Tindakan yang dilakukan mencakup rapat koordinasi, pengiriman vaksin tambahan, advokasi kepada kepala daerah, serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah terdampak KLB. Vaksin dipastikan tersedia di puskesmas dan fasilitas kesehatan yang ditunjuk dengan jaminan keamanan dan mutu.
Prima meminta masyarakat untuk segera melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal maupun pada kegiatan tambahan saat KLB. Selain itu, upaya pencegahan lain seperti perilaku hidup bersih dan sehat, pemeriksaan dini bagi anak dengan gejala demam disertai bercak merah, serta isolasi penderita campak juga menjadi langkah penting untuk menghentikan rantai penularan.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis Anak Anggraini Alam menekankan bahwa campak tidak boleh dianggap ringan.
“Campak itu penyakit virus yang sangat menular. Dari satu orang yang sakit, bisa menular hingga ke 12 sampai 18 orang lainnya,” ujarnya. Dia juga menambahkan, orang tua harus memahami bahwa campak bukan penyakit biasa, melainkan penyakit yang berat, menular, dan bisa menimbulkan komplikasi hingga bertahun-tahun kemudian.
Anggraini menjelaskan, penyakit campak biasanya diawali dengan demam, batuk, pilek, dan mata merah. Ruam khas muncul beberapa hari kemudian, bermula di sekitar garis rambut lalu menyebar ke seluruh tubuh. Gejala dapat disertai infeksi pada mata hingga timbul belekan atau nanah, sariawan hebat di mulut, serta kulit kering yang membuat anak tidak nyaman.
Komplikasi campak sangat beragam, dari infeksi telinga, diare berat yang berisiko menyebabkan dehidrasi, pneumonia, hingga infeksi pada otak. Salah satu komplikasi paling berat adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), kondisi fatal yang dapat muncul sepuluh tahun setelah infeksi awal.
Selain itu, campak juga dapat menurunkan kadar vitamin A secara drastis, merusak epitel tubuh, serta menurunkan kekebalan tubuh secara umum. Akibatnya, daya tahan terhadap penyakit lain ikut melemah.
Anggraini menyebut, bila seseorang terinfeksi tanpa pernah mendapat imunisasi, daya tahan tubuhnya bisa menurun hingga 73%. Artinya, bukan hanya rentan terhadap campak, tetapi juga terhadap berbagai penyakit lain. “Risiko komplikasi lebih besar pada anak dengan gizi buruk, penderita HIV, pasien kanker, atau mereka yang sedang menjalani terapi yang menekan sistem imun,” imbuhnya.
Menurut Anggraini, program pemberian vitamin A setiap Februari dan Agustus di Indonesia menjadi salah satu langkah penting yang harus dimanfaatkan masyarakat. “Setidaknya jika KLB sampai terjadi, anak tidak terlalu drop,” ujarnya, sambil mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk tidak mengabaikan program pemerintah tersebut.
Dia menegaskan bahwa partisipasi orang tua dalam melengkapi imunisasi sangat penting. Vaksin campak terbukti aman, efektif, dan gratis karena dijamin pemerintah.
Setiap anak yang mengalami demam disertai ruam sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Anak yang sakit pun disarankan tidak bersekolah atau berinteraksi di tempat umum, demi mencegah penularan lebih lanjut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI Prima Yosephine menegaskan bahwa imunisasi adalah cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Baca juga: Daftar Mitos Campak yang Keliru di Masyarakat
“Imunisasi campak sudah kita masukkan sebagai salah satu dari 14 jenis antigen yang masuk ke dalam program imunisasi nasional,” ujarnya. Dia juga menambahkan, imunisasi campak harus diberikan tepat waktu atau sesuai jadwal yang sudah ditentukan agar perlindungan optimal bisa terbentuk pada anak-anak.
Dalam program imunisasi nasional, vaksin campak rubella diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi pertama dilakukan pada bayi usia 9 bulan, imunisasi kedua pada usia 18 bulan, dan booster diberikan ketika anak memasuki kelas 1 sekolah dasar atau sekitar usia 7 tahun. Vaksin yang digunakan sudah dikombinasikan dengan rubella, sehingga sekali pemberian dapat melindungi anak dari dua penyakit sekaligus.
Prima menjelaskan, pemilihan usia 9 bulan sebagai awal pemberian didasarkan pada hasil penelitian medis bahwa antibodi yang diturunkan dari ibu mulai menurun pada usia tersebut. Dengan imunisasi, tubuh anak dapat membentuk kekebalan aktif terhadap campak. Minimal 2 kali pemberian imunisasi dianggap perlu untuk memberikan perlindungan yang efektif.
Namun, capaian imunisasi campak rubella dalam 3 tahun terakhir dilaporkan mengalami penurunan. Data menunjukkan bahwa cakupan dosis pertama lebih tinggi dibandingkan dosis kedua, sehingga kekebalan masyarakat belum sepenuhnya optimal.
Target nasional sebesar 95% pun belum tercapai. Padahal, angka tersebut diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok yang dapat melindungi seluruh populasi anak.
Pemerataan cakupan juga masih menjadi tantangan besar. Secara nasional, angka imunisasi terlihat cukup tinggi, tetapi ketika data diuraikan per provinsi hingga ke tingkat desa, ditemukan masih banyak wilayah dengan capaian rendah. Ketidakseimbangan ini, menurut Prima, berkontribusi pada meningkatnya kasus campak yang pada akhirnya menimbulkan KLB di sejumlah daerah.
Dampak penurunan cakupan terlihat jelas dari peningkatan jumlah kasus. Sepanjang tahun 2025 hingga akhir Agustus, tercatat 23.128 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 3.444 kasus terkonfirmasi positif dengan angka positivity rate mencapai 16,6%.
Sebagai langkah penanggulangan, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah dan mitra lintas sektor telah melaksanakan berbagai upaya. Tindakan yang dilakukan mencakup rapat koordinasi, pengiriman vaksin tambahan, advokasi kepada kepala daerah, serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah terdampak KLB. Vaksin dipastikan tersedia di puskesmas dan fasilitas kesehatan yang ditunjuk dengan jaminan keamanan dan mutu.
Prima meminta masyarakat untuk segera melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal maupun pada kegiatan tambahan saat KLB. Selain itu, upaya pencegahan lain seperti perilaku hidup bersih dan sehat, pemeriksaan dini bagi anak dengan gejala demam disertai bercak merah, serta isolasi penderita campak juga menjadi langkah penting untuk menghentikan rantai penularan.
Penyakit Lama yang Tak Kunjung Pergi
Jika ditarik ke belakang, campak adalah salah satu penyakit menular yang sudah dikenal lebih dari 1.000 tahun lalu. Meski termasuk penyakit lama, ancaman yang ditimbulkannya masih saja nyata hingga kini. Terlebih, risiko komplikasi berat menghantui anak-anak maupun orang dewasa yang belum diimunisasi.Dokter Spesialis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis Anak Anggraini Alam menekankan bahwa campak tidak boleh dianggap ringan.
“Campak itu penyakit virus yang sangat menular. Dari satu orang yang sakit, bisa menular hingga ke 12 sampai 18 orang lainnya,” ujarnya. Dia juga menambahkan, orang tua harus memahami bahwa campak bukan penyakit biasa, melainkan penyakit yang berat, menular, dan bisa menimbulkan komplikasi hingga bertahun-tahun kemudian.
Anggraini menjelaskan, penyakit campak biasanya diawali dengan demam, batuk, pilek, dan mata merah. Ruam khas muncul beberapa hari kemudian, bermula di sekitar garis rambut lalu menyebar ke seluruh tubuh. Gejala dapat disertai infeksi pada mata hingga timbul belekan atau nanah, sariawan hebat di mulut, serta kulit kering yang membuat anak tidak nyaman.
Komplikasi campak sangat beragam, dari infeksi telinga, diare berat yang berisiko menyebabkan dehidrasi, pneumonia, hingga infeksi pada otak. Salah satu komplikasi paling berat adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), kondisi fatal yang dapat muncul sepuluh tahun setelah infeksi awal.
Selain itu, campak juga dapat menurunkan kadar vitamin A secara drastis, merusak epitel tubuh, serta menurunkan kekebalan tubuh secara umum. Akibatnya, daya tahan terhadap penyakit lain ikut melemah.
Anggraini menyebut, bila seseorang terinfeksi tanpa pernah mendapat imunisasi, daya tahan tubuhnya bisa menurun hingga 73%. Artinya, bukan hanya rentan terhadap campak, tetapi juga terhadap berbagai penyakit lain. “Risiko komplikasi lebih besar pada anak dengan gizi buruk, penderita HIV, pasien kanker, atau mereka yang sedang menjalani terapi yang menekan sistem imun,” imbuhnya.
Kembali ke Dasar: Imunisasi dan Nutrisi
Saat ini, belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan campak. Penanganan hanya bersifat suportif, misalnya pemberian obat untuk meredakan gejala, menjaga asupan cairan dan nutrisi, serta istirahat yang cukup. Dalam banyak kasus, suplementasi vitamin A dosis tinggi diberikan untuk mengurangi risiko komplikasi serius.Menurut Anggraini, program pemberian vitamin A setiap Februari dan Agustus di Indonesia menjadi salah satu langkah penting yang harus dimanfaatkan masyarakat. “Setidaknya jika KLB sampai terjadi, anak tidak terlalu drop,” ujarnya, sambil mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk tidak mengabaikan program pemerintah tersebut.
Dia menegaskan bahwa partisipasi orang tua dalam melengkapi imunisasi sangat penting. Vaksin campak terbukti aman, efektif, dan gratis karena dijamin pemerintah.
Setiap anak yang mengalami demam disertai ruam sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Anak yang sakit pun disarankan tidak bersekolah atau berinteraksi di tempat umum, demi mencegah penularan lebih lanjut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.