Layanan Rekosistem. (Sumber gambar: Rekosistem)

Mengenal Rekosistem, Mengurai Masalah Sampah Jadi Bisnis Berkelanjutan

15 October 2025   |   17:37 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Sampah, terutama organik dan plastik, menjadi salah satu penyumbang utama gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim di Bumi. Namun, di tengah tantangan ini, sejumlah wirausahawan melihat peluang untuk menghadirkan solusi lewat bisnis pengelolaan sampah berkelanjutan yang tak hanya menekan dampak lingkungan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular.

Mereka merupakan para pendiri startup di bidang pengelolaan sampah. Melalui pendekatan berbasis teknologi dan model bisnis sirkular, startup-startup tersebut berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, terutama di kalangan generasi muda.

Jika dulu sampah dianggap sebagai "masalah", kini mereka melihatnya sebagai "bahan baku" yang memiliki nilai ekonomi. Salah satunya datang dari Rekosistem. 

Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Hadirkan Program Bulky Waste, Layanan Buang Sampah Besar Gratis

Berawal dari keresahan akan permasalahan lingkungan, terutama sampah, dua sahabat karib, Ernest Christian Layman dan Joshua Valentin memutuskan untuk terjun ke bidang pengelolaan sampah. Bukan sekadar bisnis biasa, mereka menciptakan sebuah solusi yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan nama Rekosistem.

Platform yang tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga membangun ekosistem berkelanjutan ini diluncurkan pada 21 Februari 2021, bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. “Kami bisa menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan generasi saat ini dan generasi yang akan datang, khususnya di sektor iklim dan persampahan,” ujarnya.

Ernest menyebut Rekosistem mengusung tiga pilar utama yakni prosperity (dampak ekonomi), people (dampak sosial), dan planet (dampak lingkungan). Melalui teknologi, pihaknya menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari individu, perumahan, pelaku usaha, hingga produsen yang terhubung dalam satu sistem operasi yang terstandarisasi, membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih efisien dan transparan.

Pertama individu, terdapat aplikasi Rekosistem yang mengajak individu memilah sampah daur ulang dan menukarkannya dengan poin bernilai ekonomis. Kedua, Rekosistem memiliki aplikasi layanan pengelolaan sampah untuk gedung dan perumahan yang memungkinkan mereka melacak data sampah yang dikelola, tonase, hingga pengurangan emisi karbon. 

Ketiga, dengan platform Reko Mitra, Ernest menyebut pihaknya memberdayakan para pengepul hingga bank sampah dengan akses permodalan, peralatan, edukasi, ketelusuran, hingga akses ke stasiun pabrik daur ulang. Rekosistem juga memiliki Reko Hub, sebuah fasilitas untuk bisa memulihkan sampah-sampah dari pemukiman penduduk ataupun dari area-area kawasan, sehingga bisa dikelola atau diolah sesuai dengan jenisnya. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rekosistem (@rekosistem)


Terakhir, Rekosistem EPR, program yang memungkinkan perusahaan atau produsen, berkolaborasi dengan Rekosistem untuk mengurangi jejak sampah kemasan produk mereka. Berkat sinergi dan integrasi ini, Rekosistem katanya mencatat pertumbuhan yang luar biasa. Sejak diluncurkan pada 2021 hingga 2024, tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) mereka mencapai 442%. 

“Yang buat kita tumbuh cepat, kita bersinergi, kita tidak bisa mengerjakannya sendiri. Kami menghubungkan stakeholder yang selama ini terputus, untuk bisa terhubung dan menstandardisasi prosesnya,” tutur pria yang masuk ke dalam daftar Forbes Asia 30 Under 30 pada 2021 dan 2022 itu.

Penerapan teknologi juga menjadi kunci utama. Setiap proses, mulai dari pemilahan sampah hingga distribusinya, dilacak dengan baik. Data ini memungkinkan Rekosistem mengukur dampak nyata yang mereka hasilkan, termasuk penghematan emisi karbon. 

Hingga Juli 2025, Rekosistem berhasil mengolah dan mendaur ulang 82,8 juta kg sampah dan menekan emisi gas rumah kaca hingga 125.000 ton. Selain itu, volume sampah yang mencapai 5.500 ton per bulan. Angka ini menjadikan mereka sebagai platform ekonomi sirkular terbesar di sektor swasta di Indonesia. 

Keberhasilan ini tidak lepas dari edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat. Rekosistem memiliki lebih dari 90.000 pengguna individu yang terdaftar, yang diajak untuk memilah sampah dengan imbalan poin. Meskipun pertumbuhan pesat, Rekosistem tetap dihadapkan pada tantangan besar.

Pertama, urgensi waktu. Ernest menerangkan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian penuh menuntut adanya solusi yang lebih cepat dan menjangkau lebih banyak area. Kemudian, infrastruktur dan struktur ekonomi. Biaya pengelolaan sampah di Indonesia masih rendah, membuat pendanaan untuk fasilitas pengolahan sampah yang lebih modern sulit diwujudkan.

Ernest melihat bahwa tantangan ini harus diselesaikan bersama. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menutup gap infrastruktur dan menstandarisasi biaya pengelolaan sampah. Dengan begitu, investasi untuk fasilitas baru akan lebih menarik dan permasalahan sampah dapat diatasi secara fundamental.

“Tantangan persampahan ini merupakan tantangan yang urgent untuk diselesaikan. Kita diuber waktu,” tegasnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tak Disangka, 6 Drama Korea Ini Ternyata Adaptasi dari Film dan Serial Lain!

BERIKUTNYA

Pemprov DKI Jakarta Siap Terbitkan Pergub Larangan Konsumsi Daging Anjing dan Kucing

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga