Resmi Dibuka, ICAD 2025 Hadirkan Dialog Seni & Alam dalam Tema Earth Society
09 October 2025 |
23:10 WIB
Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) resmi dibuka pada Kamis (9/10/2025) di Hotel Grandkemang, Jakarta Selatan. Memasuki edisi ke-15, ICAD menghadirkan karya dari 50 seniman dan desainer, baik individu maupun kolektif, dari dalam dan luar negeri. Pameran ini dibuka untuk publik mulai 10 Oktober hingga 10 November 2025.
Sejak pertama kali digelar pada 2009, ICAD dikenal sebagai pameran yang menjembatani seni dan desain lintas disiplin. Festival ini memadukan bidang fesyen, film, perhotelan, teknologi, makanan, minuman, hingga arsitektur dalam satu ruang. Tujuannya sederhana: membawa seni dan desain lebih dekat ke masyarakat melalui pengalaman yang kontekstual dan interaktif.
Baca juga: ICAD Siap Digelar 10 Oktober-10 November 2024, Cek Rangkaian Agenda Menariknya
Tahun ini, ICAD mengusung tema “Earth Society” sebagai upaya membaca ulang hubungan manusia dengan alam. Tema tersebut menjadi panggilan bagi para pekerja kreatif untuk menumbuhkan kesadaran akan kepedulian dan kolektivitas, sekaligus aksi nyata terhadap keberlanjutan bumi.
Festival Director ICAD 15, Edwin Nazir, mengatakan, tema tersebut berangkat dari refleksi terhadap kondisi bumi dan kehidupan masyarakat yang terus berubah. Dia berharap, ICAD dapat menjadi ruang pertemuan antara seni, desain, dan publik dalam membicarakan masa depan bersama.
“Di ICAD 15, kami ingin menegaskan kembali semangat kebersamaan dan kolaborasi yang menjadi inti dari festival ini. Bukan hanya untuk merayakan kreativitas, tetapi juga berdialog tentang masa depan kita bersama,” ujar Edwin saat konferensi pers di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Kamis (9/10/25).
Selaras Kurator Prananda L. Malasan, dalam catatan kuratorial menambahkan, ICAD 2025 menghadirkan lebih banyak program interaktif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan pendekatan ini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari pengalaman pameran. “Kami ingin audiens bisa menikmati dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan di ICAD,” ujarnya.
Salah satu sorotan utama tahun ini adalah kehadiran karya terbaru Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melalui pendekatan personal dan reflektif, SBY menafsirkan tema Earth Society lewat lukisan-lukisan panorama alam yang merekam keindahan sekaligus kerentanan lingkungan.
ICAD 15 juga mempersembahkan Special Appearance dari Profesor Emeritus Imam Buchori Zainuddin, pelopor desain produk Indonesia. Kehadirannya menghadirkan kisah dan pemikiran seputar perjalanan panjang desain di Indonesia, termasuk kontribusinya dalam membentuk identitas desain nasional.
Dalam kategori In Focus, pengunjung dapat menemukan karya pematung Yani Mariani Sastranegara dan desainer senior Ghea Panggabean. Keduanya menampilkan interpretasi visual tentang hubungan manusia, tradisi, dan alam melalui medium dan pendekatan khas masing-masing.
Sementara dalam kategori Featured, Earth Society menampilkan karya para praktisi kreatif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat. Salah satunya adalah Wishulada Panthanuvong, seniman-aktivis asal Thailand yang mengubah material bekas menjadi karya seni bernilai tinggi.
ICAD juga membuka ruang bagi seniman muda dan kolektif lewat kategori Open Call, yang menyoroti isu-isu krisis iklim, sosial, politik, hingga kehidupan perkotaan. Di antaranya Kreaby, studio kreatif berbasis di Jakarta yang memberi ruang bagi seniman autistik, menghadirkan karya tentang pentingnya ruang hijau di kota.
Seniman Gevi Noviyanti bersama Arka Kinari turut menampilkan karya yang merefleksikan eksploitasi laut dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi pengingat bahwa isu lingkungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial dan budaya.
Selain pameran utama, ICAD 15 bekerja sama dengan sejumlah seniman, pelaku kreatif, asosiasi, dan pusat kebudayaan asing untuk menghadirkan berbagai program publik. Rangkaian kegiatan ini meliputi talkshow, workshop, performance art, dan pemutaran film yang bisa diikuti oleh masyarakat luas.
Salah satu program menarik adalah lokakarya dari MOTE, kolektif seni dan desain multidisipliner yang mengajak peserta membuat karya petridish art mereka sendiri. Aktivitas ini menjadi contoh bagaimana seni dan sains dapat bersinggungan untuk memperluas cara pandang terhadap kreativitas dan keberlanjutan.
Melalui tema Earth Society, ICAD 2025 tidak hanya menjadi ruang pamer bagi karya visual, tetapi juga ajakan untuk merefleksikan kembali cara manusia berelasi dengan alam. Di tengah krisis lingkungan global, festival ini berupaya menunjukkan bahwa seni dan desain dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran ekologis bersama.
Baca juga: Menyajikan Interaksi Manusia & Alam dalam Karya Blanket Talks - Series 2 dan My Mother is Cicada
Sejak pertama kali digelar pada 2009, ICAD dikenal sebagai pameran yang menjembatani seni dan desain lintas disiplin. Festival ini memadukan bidang fesyen, film, perhotelan, teknologi, makanan, minuman, hingga arsitektur dalam satu ruang. Tujuannya sederhana: membawa seni dan desain lebih dekat ke masyarakat melalui pengalaman yang kontekstual dan interaktif.
Baca juga: ICAD Siap Digelar 10 Oktober-10 November 2024, Cek Rangkaian Agenda Menariknya
Tahun ini, ICAD mengusung tema “Earth Society” sebagai upaya membaca ulang hubungan manusia dengan alam. Tema tersebut menjadi panggilan bagi para pekerja kreatif untuk menumbuhkan kesadaran akan kepedulian dan kolektivitas, sekaligus aksi nyata terhadap keberlanjutan bumi.
Festival Director ICAD 15, Edwin Nazir, mengatakan, tema tersebut berangkat dari refleksi terhadap kondisi bumi dan kehidupan masyarakat yang terus berubah. Dia berharap, ICAD dapat menjadi ruang pertemuan antara seni, desain, dan publik dalam membicarakan masa depan bersama.
“Di ICAD 15, kami ingin menegaskan kembali semangat kebersamaan dan kolaborasi yang menjadi inti dari festival ini. Bukan hanya untuk merayakan kreativitas, tetapi juga berdialog tentang masa depan kita bersama,” ujar Edwin saat konferensi pers di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Kamis (9/10/25).
Selaras Kurator Prananda L. Malasan, dalam catatan kuratorial menambahkan, ICAD 2025 menghadirkan lebih banyak program interaktif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan pendekatan ini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari pengalaman pameran. “Kami ingin audiens bisa menikmati dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan di ICAD,” ujarnya.
Salah satu sorotan utama tahun ini adalah kehadiran karya terbaru Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Melalui pendekatan personal dan reflektif, SBY menafsirkan tema Earth Society lewat lukisan-lukisan panorama alam yang merekam keindahan sekaligus kerentanan lingkungan.
ICAD 15 juga mempersembahkan Special Appearance dari Profesor Emeritus Imam Buchori Zainuddin, pelopor desain produk Indonesia. Kehadirannya menghadirkan kisah dan pemikiran seputar perjalanan panjang desain di Indonesia, termasuk kontribusinya dalam membentuk identitas desain nasional.
Dalam kategori In Focus, pengunjung dapat menemukan karya pematung Yani Mariani Sastranegara dan desainer senior Ghea Panggabean. Keduanya menampilkan interpretasi visual tentang hubungan manusia, tradisi, dan alam melalui medium dan pendekatan khas masing-masing.
Sementara dalam kategori Featured, Earth Society menampilkan karya para praktisi kreatif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat. Salah satunya adalah Wishulada Panthanuvong, seniman-aktivis asal Thailand yang mengubah material bekas menjadi karya seni bernilai tinggi.
ICAD juga membuka ruang bagi seniman muda dan kolektif lewat kategori Open Call, yang menyoroti isu-isu krisis iklim, sosial, politik, hingga kehidupan perkotaan. Di antaranya Kreaby, studio kreatif berbasis di Jakarta yang memberi ruang bagi seniman autistik, menghadirkan karya tentang pentingnya ruang hijau di kota.
Seniman Gevi Noviyanti bersama Arka Kinari turut menampilkan karya yang merefleksikan eksploitasi laut dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi pengingat bahwa isu lingkungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial dan budaya.
Selain pameran utama, ICAD 15 bekerja sama dengan sejumlah seniman, pelaku kreatif, asosiasi, dan pusat kebudayaan asing untuk menghadirkan berbagai program publik. Rangkaian kegiatan ini meliputi talkshow, workshop, performance art, dan pemutaran film yang bisa diikuti oleh masyarakat luas.
Salah satu program menarik adalah lokakarya dari MOTE, kolektif seni dan desain multidisipliner yang mengajak peserta membuat karya petridish art mereka sendiri. Aktivitas ini menjadi contoh bagaimana seni dan sains dapat bersinggungan untuk memperluas cara pandang terhadap kreativitas dan keberlanjutan.
Melalui tema Earth Society, ICAD 2025 tidak hanya menjadi ruang pamer bagi karya visual, tetapi juga ajakan untuk merefleksikan kembali cara manusia berelasi dengan alam. Di tengah krisis lingkungan global, festival ini berupaya menunjukkan bahwa seni dan desain dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran ekologis bersama.
Baca juga: Menyajikan Interaksi Manusia & Alam dalam Karya Blanket Talks - Series 2 dan My Mother is Cicada
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.