Tron: Ares Hidupkan Kembali Dunia Digital Disney, Jared Leto Jadi AI Humanis
10 October 2025 |
07:55 WIB
Lebih dari satu dekade sejak Tron: Legacy (2010), Disney akhirnya menghidupkan kembali dunia digital futuristik lewat film terbarunya, Tron: Ares. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2025 dan langsung mencuri perhatian berkat visualnya yang memukau serta penampilan Jared Leto sebagai kecerdasan buatan dengan sisi manusiawi.
Disutradarai oleh Joachim Rønning, Tron: Ares menjadi babak baru dari waralaba legendaris yang dikenal karena inovasi efek visualnya sejak film pertamanya pada 1982. Rønning mengombinasikan teknologi CGI terbaru dengan pencahayaan neon khas Tron, menciptakan pengalaman sinematik yang terasa megah sekaligus modern.
Film ini diproyeksikan membuka debut kuat di box office Amerika Serikat dengan pendapatan awal antara US$45 juta-US$55 juta, sebagaimana dilaporkan oleh Deadline. Angka tersebut menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kebangkitan dunia Tron yang sempat tertidur panjang.
Baca juga: Disney Ungkap Film Baru di CinemaCon 2025, Ada Zootopia 2 dan Avatar: Fire and Ash
Dalam Tron: Ares, Jared Leto memerankan karakter utama bernama Ares, entitas kecerdasan buatan yang diciptakan di dunia digital dan dikirim ke dunia manusia. Ares bukan sekadar program komputer, melainkan makhluk yang berusaha memahami konsep kemanusiaan seperti empati, identitas, dan perasaan.
Di film ini, Jared Leto memberikan performa yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Karakternya tampil lembut, penuh rasa ingin tahu, dan mampu menggambarkan konflik batin antara logika mesin dan naluri manusia. Pendekatan tersebut membuat film ini terasa lebih emosional dibanding pendahulunya yang lebih fokus pada aksi dan teknologi.
Selain Leto, film ini turut dibintangi Evan Peters, Greta Lee, dan Cameron Monaghan, yang memperkuat dinamika antara dunia digital dan dunia nyata. Interaksi mereka menambah kedalaman cerita tentang pencarian jati diri dan hubungan antara manusia dengan ciptaannya.
Secara naratif, film ini melanjutkan semesta Tron dengan kisah yang berdiri sendiri. Alurnya menyoroti benturan dua realitas antara digital dan manusia, dengan lapisan reflektif mengenai kecerdasan buatan yang mulai menyentuh batas kesadaran.
Secara visual, film ini sangat menarik untuk disaksikan. Pencahayaan futuristik, desain dunia digital yang rinci, serta musik elektronik khas Tron menghadirkan atmosfer yang intens dan imersif. Beberapa kritikus menyebut film ini sebagai salah satu karya sci-fi paling memukau tahun ini, meski tetap menyisakan beberapa kelemahan kecil di ritme cerita.
Meski begitu, Tron: Ares berhasil menghadirkan keseimbangan antara tontonan penuh efek spektakuler dan pesan filosofis tentang hubungan manusia dengan teknologi.
Sejak tayang di bioskop Tanah Air, Tron: Ares langsung mendapat sambutan hangat dari penonton Indonesia. Film ini menarik dua kelompok besar: penggemar lama Tron dan generasi muda yang tertarik dengan isu kecerdasan buatan serta visual futuristik.
Kehadiran Jared Leto sebagai Ares menambah daya tarik tersendiri, sementara kisahnya yang menyinggung moralitas teknologi membuat film ini lebih dari sekadar tontonan aksi digital. Dengan kombinasi cerita emosional, visual menakjubkan, dan atmosfer futuristik yang khas, Tron: Ares menjadi bukti bahwa dunia Tron masih relevan dan mampu beradaptasi dengan zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Disutradarai oleh Joachim Rønning, Tron: Ares menjadi babak baru dari waralaba legendaris yang dikenal karena inovasi efek visualnya sejak film pertamanya pada 1982. Rønning mengombinasikan teknologi CGI terbaru dengan pencahayaan neon khas Tron, menciptakan pengalaman sinematik yang terasa megah sekaligus modern.
Film ini diproyeksikan membuka debut kuat di box office Amerika Serikat dengan pendapatan awal antara US$45 juta-US$55 juta, sebagaimana dilaporkan oleh Deadline. Angka tersebut menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kebangkitan dunia Tron yang sempat tertidur panjang.
Baca juga: Disney Ungkap Film Baru di CinemaCon 2025, Ada Zootopia 2 dan Avatar: Fire and Ash
Dalam Tron: Ares, Jared Leto memerankan karakter utama bernama Ares, entitas kecerdasan buatan yang diciptakan di dunia digital dan dikirim ke dunia manusia. Ares bukan sekadar program komputer, melainkan makhluk yang berusaha memahami konsep kemanusiaan seperti empati, identitas, dan perasaan.
Di film ini, Jared Leto memberikan performa yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Karakternya tampil lembut, penuh rasa ingin tahu, dan mampu menggambarkan konflik batin antara logika mesin dan naluri manusia. Pendekatan tersebut membuat film ini terasa lebih emosional dibanding pendahulunya yang lebih fokus pada aksi dan teknologi.
Selain Leto, film ini turut dibintangi Evan Peters, Greta Lee, dan Cameron Monaghan, yang memperkuat dinamika antara dunia digital dan dunia nyata. Interaksi mereka menambah kedalaman cerita tentang pencarian jati diri dan hubungan antara manusia dengan ciptaannya.
The war for our world begins. Get tickets now and experience Tron: Ares only in theaters October 10: https://t.co/Bg03R6mTJk #FilmedForIMAX pic.twitter.com/8goW4ouC9D
— Walt Disney Studios (@DisneyStudios) September 4, 2025
Secara naratif, film ini melanjutkan semesta Tron dengan kisah yang berdiri sendiri. Alurnya menyoroti benturan dua realitas antara digital dan manusia, dengan lapisan reflektif mengenai kecerdasan buatan yang mulai menyentuh batas kesadaran.
Secara visual, film ini sangat menarik untuk disaksikan. Pencahayaan futuristik, desain dunia digital yang rinci, serta musik elektronik khas Tron menghadirkan atmosfer yang intens dan imersif. Beberapa kritikus menyebut film ini sebagai salah satu karya sci-fi paling memukau tahun ini, meski tetap menyisakan beberapa kelemahan kecil di ritme cerita.
Meski begitu, Tron: Ares berhasil menghadirkan keseimbangan antara tontonan penuh efek spektakuler dan pesan filosofis tentang hubungan manusia dengan teknologi.
Sejak tayang di bioskop Tanah Air, Tron: Ares langsung mendapat sambutan hangat dari penonton Indonesia. Film ini menarik dua kelompok besar: penggemar lama Tron dan generasi muda yang tertarik dengan isu kecerdasan buatan serta visual futuristik.
Kehadiran Jared Leto sebagai Ares menambah daya tarik tersendiri, sementara kisahnya yang menyinggung moralitas teknologi membuat film ini lebih dari sekadar tontonan aksi digital. Dengan kombinasi cerita emosional, visual menakjubkan, dan atmosfer futuristik yang khas, Tron: Ares menjadi bukti bahwa dunia Tron masih relevan dan mampu beradaptasi dengan zaman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.