Banyak Gen Z Lakukan Quiet Covering di Tempat Kerja, Apa Itu?
30 September 2025 |
22:26 WIB
Satu fenomena kini tengah dialami oleh banyak karyawan termasuk Gen Z di dunia kerja profesional yakni quiet covering. Istilah ini merujuk pada kecenderungan karyawan untuk menyembunyikan versi asli diri mereka demi menghindari penilaian dan stereotip, sehingga bisa diterima dan lebih mudah dipromosikan.
Survei yang dilakukan oleh lembaga pelatihan karier Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia menemukan bahwa sebanyak 58 persen dari mereka mengaku melakukan quiet covering, mengindikasikan sebuah krisis tersembunyi dalam dunia kerja saat ini.
Alasan utama mereka melakukan quiet covering adalah untuk menyembunyikan kesenjangan pengetahuan atau kompetensi sehingga terhindar dari penilaian buruk. Hampir setengah dari mereka mengaku berpura-pura memahami sesuatu di tempat kerja, serta 40 persen lainnya menghindari untuk meminta bantuan meski mereka tidak yakin bagaimana cara melakukannya.
Baca juga: Pekerja Bisa Alami Luka Psikologis di Kantor, Apa Tandanya?
Dikutip dari Forbes, fenomena quiet covering dicetuskan oleh peneliti hukum Amerika, Profesor Kenji Yoshino sebagai praktik menyembunyikan aspek pribadi khususnya di dunia profesional kerja agar sesuai dengan lingkungannya atau menghindari stereotip, penilaian, dan diskriminasi.
Beberapa contoh praktik quiet covering yang paling menonjol adalah ketika karyawan meminimalkan aspek-aspek identitas pribadi mereka seperti ras/etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, disabilitas, atau karakteristik lainnya, agar merasa diterima, terhindar dari PHK, dan mendapatkan promosi.
Pada tingkat tertentu, tindakan quiet covering dinilai normal dan wajar, karena mencerminkan kemampuan beradaptasi dan kecerdasan emosional individu yang memungkinkan mereka untuk menavigasi beragam konteks sosial dan profesional.
Namun, jika sikap ini diadopsi terlalu sering atau kronis di tempat kerja, justru dapat berbahaya, menyebabkan stres, kelelahan, hingga perasaan terputus dengan pekerjaan itu sendiri, yang pada akhirnya merusak kesejahteraan dan kinerja organisasi perusahaan.
Sebuah studi terbaru dari Hu-X x Hi-Bob melaporkan bahwa sebagian besar karyawan yang melakukan quiet covering adalah atasan, seperti pimpinan senior (55 persen) atau manajer operasional (54 persen). Seorang peserta studi mengatakan dia menutupi identitasnya karena usianya 60 tahun alias karyawan tertua di timnya.
Sementara yang lain menutupi identitasnya karena takut dihakimi. Pekerja lain juga mengatakan mereka menutupi identitasnya karena malu mengidap attention deficit disorder (ADD), takut akan pandangan politik mereka, dan berbohong bahwa mereka telah mendapatkan vaksin wajib dari perusahaan padahal belum.
Baca juga: 10 Ciri-Ciri Lowongan Kerja Red Flag yang Harus Diwaspadai
Tia Katz, pendiri firma konsultan Hu-X, mengatakan mayoritas Gen Z menyembunyikan isu kesehatan mental mereka, kebiasaan merawat diri, atau pengalaman masa lalu untuk menampilkan citra profesional yang kuat agar lebih mudah dipromosikan di tempat kerja. Menurutnya, sikap ini menjadi respons protektif dari Gen Z terhadap norma-norma di tempat kerja yang mungkin terasa menuntut mereka secara emosional.
"Sikap Gen Z mungkin tenang, tapi tidak pasif. Apa yang tampak seperti ketidakpedulian seringkali merupakan bentuk perlindungan diri yang aktif dan terukur. Itu adalah batasan nonverbal yang mereka adaptasi untuk menghadapi lingkungan kerja yang dibentuk oleh budaya yang selalu aktif, di mana kepercayaan diri, ketersediaan emosional, dan antusiasme yang terlihat terhadap budaya perusahaan dianggap sebagai metrik kinerja," jelasnya.
Mempertahankan citra profesional yang kuat menjadi motivasi utama bagi kebanyakan Gen Z dalam melakukan quiet covering. Pekerja yang lebih muda kemungkinan besar lebih cenderung menyembunyikan aspek-aspek kehidupan pribadi mereka yang mungkin tidak sejalan dengan ekspektasi tempat kerja konvensional.
Menurut Katz, seiring waktu, hal ini menguras kinerja, memperlambat pertumbuhan, dan mengikis kepercayaan diri seseorang. Bukan hanya melelahkan tetapi juga tidak membuat perkembangan diri secara berkelanjutan. "Energinya terbuang untuk mengelola persepsi, alih-alih hadir, kreatif, dan terlibat sepenuhnya," terangnya.
Studi dari Hu-X x Hi-Bob menemukan setidaknya 7 konsekuensi dari sikap quiet covering Gen Z di tempat kerja berikut ini.
Para peneliti menduga Gen Z terus-menerus menyinggung penggunaan AI karena takut kehilangan pekerjaan. Sebanyak 47 persen karyawan Gen Z dan Milenial dilaporkan khawatir AI dapat menggantikan pekerjaan mereka, sementara 30 persen lainnya tidak familiar dengan kebijakan AI perusahaan.
Adapun, 63 persen responden survei melaporkan penggunaan aplikasi atau perangkat lunak pribadi untuk keperluan pekerjaan. Para peneliti menyimpulkan bahwa hal ini dapat menimbulkan risiko keamanan yang signifikan bagi organisasi.
Katz menuturkan kedua studi penelitian tersebut menunjukkan bahwa generasi muda lebih sering menutupi diri di hampir setiap aspek identitas mereka. Menurutnya, hal ini menunjukkan tekanan besar yang dirasakan Gen Z untuk menyesuaikan diri, meraih kesuksesan, dan membangun kredibilitas dalam karier mereka, sekaligus menjadi risiko nyata bagi perusahaan.
"Ketika keaslian dianggap sebagai beban, perusahaan kehilangan kreativitas, produktivitas, dan inovasi. Hal ini juga meningkatkan stres dan menurunkan keterlibatan dengan cara-cara yang seringkali tidak terlihat hingga memengaruhi retensi dan kinerja," jelasnya.
Katz menganjurkan agar perusahaan memandang tindakan quiet covering yang dilakukan Gen Z di tempat kerja sebagai respons situasi tempat kerja alih-alih perlawanan. Sikap itu, katanya, merupakan bentuk penyesuaian diri untuk memutuskan bagian mana dari diri mereka yang akan ditunjukkan di tempat kerja dan bagian mana yang harus dirahasiakan tanpa konsekuensi atau penghakiman.
"Mereka ingin dilihat dan dihargai apa adanya atas kontribusi unik yang mereka berikan, alih-alih seberapa cocok mereka dengan suatu standar," imbuhnya.
Baca juga: Tren Dunia Kerja, Penguasaan Generative AI & Micro-Credentials Jadi Kunci Daya Saing Pekerja
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Survei yang dilakukan oleh lembaga pelatihan karier Attensi terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri dan kelompok usia menemukan bahwa sebanyak 58 persen dari mereka mengaku melakukan quiet covering, mengindikasikan sebuah krisis tersembunyi dalam dunia kerja saat ini.
Alasan utama mereka melakukan quiet covering adalah untuk menyembunyikan kesenjangan pengetahuan atau kompetensi sehingga terhindar dari penilaian buruk. Hampir setengah dari mereka mengaku berpura-pura memahami sesuatu di tempat kerja, serta 40 persen lainnya menghindari untuk meminta bantuan meski mereka tidak yakin bagaimana cara melakukannya.
Baca juga: Pekerja Bisa Alami Luka Psikologis di Kantor, Apa Tandanya?
Dikutip dari Forbes, fenomena quiet covering dicetuskan oleh peneliti hukum Amerika, Profesor Kenji Yoshino sebagai praktik menyembunyikan aspek pribadi khususnya di dunia profesional kerja agar sesuai dengan lingkungannya atau menghindari stereotip, penilaian, dan diskriminasi.
Beberapa contoh praktik quiet covering yang paling menonjol adalah ketika karyawan meminimalkan aspek-aspek identitas pribadi mereka seperti ras/etnis, gender, orientasi seksual, usia, agama, disabilitas, atau karakteristik lainnya, agar merasa diterima, terhindar dari PHK, dan mendapatkan promosi.
Pada tingkat tertentu, tindakan quiet covering dinilai normal dan wajar, karena mencerminkan kemampuan beradaptasi dan kecerdasan emosional individu yang memungkinkan mereka untuk menavigasi beragam konteks sosial dan profesional.
Namun, jika sikap ini diadopsi terlalu sering atau kronis di tempat kerja, justru dapat berbahaya, menyebabkan stres, kelelahan, hingga perasaan terputus dengan pekerjaan itu sendiri, yang pada akhirnya merusak kesejahteraan dan kinerja organisasi perusahaan.
Sebuah studi terbaru dari Hu-X x Hi-Bob melaporkan bahwa sebagian besar karyawan yang melakukan quiet covering adalah atasan, seperti pimpinan senior (55 persen) atau manajer operasional (54 persen). Seorang peserta studi mengatakan dia menutupi identitasnya karena usianya 60 tahun alias karyawan tertua di timnya.
Sementara yang lain menutupi identitasnya karena takut dihakimi. Pekerja lain juga mengatakan mereka menutupi identitasnya karena malu mengidap attention deficit disorder (ADD), takut akan pandangan politik mereka, dan berbohong bahwa mereka telah mendapatkan vaksin wajib dari perusahaan padahal belum.
Baca juga: 10 Ciri-Ciri Lowongan Kerja Red Flag yang Harus Diwaspadai
Quiet Covering Versi Gen Z
Gen Z menjadi salah satu kelompok yang kerap melakukan quiet covering di tempat kerja. Dilaporkan kalangan Gen Z dua kali lebih mungkin dibandingkan generasi Boomer untuk menyembunyikan sebagian dari diri mereka di tempat kerja, yang mana 56 persen dari mereka mengaku bahkan telah melakukannya saat proses rekrutmen bersama HR.Tia Katz, pendiri firma konsultan Hu-X, mengatakan mayoritas Gen Z menyembunyikan isu kesehatan mental mereka, kebiasaan merawat diri, atau pengalaman masa lalu untuk menampilkan citra profesional yang kuat agar lebih mudah dipromosikan di tempat kerja. Menurutnya, sikap ini menjadi respons protektif dari Gen Z terhadap norma-norma di tempat kerja yang mungkin terasa menuntut mereka secara emosional.
"Sikap Gen Z mungkin tenang, tapi tidak pasif. Apa yang tampak seperti ketidakpedulian seringkali merupakan bentuk perlindungan diri yang aktif dan terukur. Itu adalah batasan nonverbal yang mereka adaptasi untuk menghadapi lingkungan kerja yang dibentuk oleh budaya yang selalu aktif, di mana kepercayaan diri, ketersediaan emosional, dan antusiasme yang terlihat terhadap budaya perusahaan dianggap sebagai metrik kinerja," jelasnya.
Mempertahankan citra profesional yang kuat menjadi motivasi utama bagi kebanyakan Gen Z dalam melakukan quiet covering. Pekerja yang lebih muda kemungkinan besar lebih cenderung menyembunyikan aspek-aspek kehidupan pribadi mereka yang mungkin tidak sejalan dengan ekspektasi tempat kerja konvensional.
Menurut Katz, seiring waktu, hal ini menguras kinerja, memperlambat pertumbuhan, dan mengikis kepercayaan diri seseorang. Bukan hanya melelahkan tetapi juga tidak membuat perkembangan diri secara berkelanjutan. "Energinya terbuang untuk mengelola persepsi, alih-alih hadir, kreatif, dan terlibat sepenuhnya," terangnya.
Studi dari Hu-X x Hi-Bob menemukan setidaknya 7 konsekuensi dari sikap quiet covering Gen Z di tempat kerja berikut ini.
- Menyebabkan stres sedang hingga berat (64 persen)
- Mengurangi produktivitas dan efisiensi (54 persen)
- Menghambat kemajuan karier (40 persen)
- Mengurangi peran di perusahaan (56 persen)
- Berdampak pada kehidupan di luar pekerjaan (43 persen)
- Membatasi kreativitas dan inovasi (55 persen)
- Menurunkan kinerja (47 persen)
Para peneliti menduga Gen Z terus-menerus menyinggung penggunaan AI karena takut kehilangan pekerjaan. Sebanyak 47 persen karyawan Gen Z dan Milenial dilaporkan khawatir AI dapat menggantikan pekerjaan mereka, sementara 30 persen lainnya tidak familiar dengan kebijakan AI perusahaan.
Adapun, 63 persen responden survei melaporkan penggunaan aplikasi atau perangkat lunak pribadi untuk keperluan pekerjaan. Para peneliti menyimpulkan bahwa hal ini dapat menimbulkan risiko keamanan yang signifikan bagi organisasi.
Katz menuturkan kedua studi penelitian tersebut menunjukkan bahwa generasi muda lebih sering menutupi diri di hampir setiap aspek identitas mereka. Menurutnya, hal ini menunjukkan tekanan besar yang dirasakan Gen Z untuk menyesuaikan diri, meraih kesuksesan, dan membangun kredibilitas dalam karier mereka, sekaligus menjadi risiko nyata bagi perusahaan.
"Ketika keaslian dianggap sebagai beban, perusahaan kehilangan kreativitas, produktivitas, dan inovasi. Hal ini juga meningkatkan stres dan menurunkan keterlibatan dengan cara-cara yang seringkali tidak terlihat hingga memengaruhi retensi dan kinerja," jelasnya.
Katz menganjurkan agar perusahaan memandang tindakan quiet covering yang dilakukan Gen Z di tempat kerja sebagai respons situasi tempat kerja alih-alih perlawanan. Sikap itu, katanya, merupakan bentuk penyesuaian diri untuk memutuskan bagian mana dari diri mereka yang akan ditunjukkan di tempat kerja dan bagian mana yang harus dirahasiakan tanpa konsekuensi atau penghakiman.
"Mereka ingin dilihat dan dihargai apa adanya atas kontribusi unik yang mereka berikan, alih-alih seberapa cocok mereka dengan suatu standar," imbuhnya.
Baca juga: Tren Dunia Kerja, Penguasaan Generative AI & Micro-Credentials Jadi Kunci Daya Saing Pekerja
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.