Ilustrasi pekerja (Sumber gambar: Freepik)

Pekerja Bisa Alami Luka Psikologis di Kantor, Apa Tandanya?

16 June 2025   |   21:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja makin menguat seiring dengan meningkatnya kasus gangguan psikologis yang dialami para pekerja. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, persaingan, dan tuntutan tinggi kerap kali menjadi pemicu munculnya luka psikologis.

Kini, pemerintah kini mulai menaruh perhatian serius terhadap isu ini. Sebab, dampaknya bukan hanya dirasakan individu saja, tetapi juga produktivitas perusahaan dan beban ekonomi negara secara keseluruhan.

“Permasalahan kesehatan jiwa saat ini bagaikan fenomena gunung es. Kasusnya makin meningkat, tapi masih banyak yang tidak terlihat dan tidak tertangani,” ucap Plh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI  Minerva Theodora Simatupang.

Baca juga: Istilah Baru Gen Z Tentang Mental Health: Bed Rotting, Lazy Girl Jobs, dan Toxic productivity

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2024, Indonesia memiliki 152 juta angkatan kerja dengan 144 juta di antaranya aktif bekerja. Tekanan di tempat kerja disebut sebagai faktor signifikan dalam menurunnya kesehatan mental pekerja.

WHO mencatat, pada 2019, lebih dari 1 miliar orang di dunia mengalami gangguan jiwa. 15 persen di antaranya berada dalam usia kerja. “Pekerjaan bisa menjadi faktor pemicu stres yang berujung pada gangguan mental, seperti burnout, depresi, hingga keinginan menyakiti diri sendiri,” ujar Minerva.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa 2 persen penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa dengan 1,4 persen di antaranya mengalami depresi terutama pada kelompok usia 15-24 tahun.

Stres kronis akibat beban kerja, diskriminasi, pelecehan, atau relasi kerja yang tidak sehat menjadi penyebab umum luka psikologis yang tidak terlihat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menurunkan produktivitas dan menambah beban ekonomi negara.

Minerva menjelaskan bahwa luka psikologis adalah perasaan tidak nyaman yang berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari akibat kejadian yang dianggap sebagai krisis oleh individu. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba atau berkembang dari tekanan berkepanjangan di lingkungan kerja.

“Sama seperti luka fisik yang memerlukan pertolongan pertama, luka psikologis juga membutuhkan penanganan awal. Di sinilah pentingnya Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis atau P3LP,” jelasnya.

P3LP didefinisikan sebagai bantuan psikologis dasar yang diberikan secara cepat kepada individu yang mengalami krisis emosional di tempat kerja. Prinsipnya sederhana tetapi efektif yaitu memperhatikan, mendengarkan, dan menghubungkan dengan layanan profesional bila diperlukan.

Minerva menyebut, keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa, rendahnya literasi psikologis, serta stigma yang melekat pada penderita gangguan mental disebut sebagai hambatan utama dalam penanganan kasus di tempat kerja. 
 

Berawal dari Krisis Individu

Luka psikologis ini merupakan kondisi yang tak kasat mata tetapi berdampak besar pada kesejahteraan individu. Psikolog dan psikoterapis Anna Surti Ariani menjelaskan bahwa luka psikologis biasanya dipicu oleh sebuah krisis yaitu peristiwa luar biasa yang dipersepsi berat oleh individu.

Ketika krisis terjadi, maka risiko terjadinya luka psikologis pun meningkat. Luka ini bisa muncul secara bertahap dan menunjukkan tanda-tanda yang dikenal sebagai 4D (Deviant, Distress, Dysfunction, dan Dangerous). Setiap tingkatan menandai kedalaman luka yang makin berat. Oleh karena itu, luka psikologis itu bukan yang tiba-tiba ada dan pasti ada pemicunya.

“Kalau sudah masuk deviant, kita cegah agar tidak jadi distress. Kalau sudah distress, kita cegah agar tidak lanjut ke dysfunction, dan seterusnya," terang Anna.

Langkah ini bisa dimulai dengan kesadaran diri terhadap kondisi mental yang sedang dialami, memberikan ruang aman untuk curhat, mendorong konsultasi ke profesional, serta memastikan bahwa pekerja merasa didukung, bukan dihakimi.

Luka psikologis memiliki bentuk yang sangat subjektif. Suatu peristiwa bisa terasa ringan bagi satu orang, tetapi menjadi beban berat bagi orang lain. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus sensitif terhadap pengalaman personal tiap-tiap individu, termasuk dalam konteks dunia kerja.

Secara umum, luka psikologis tidak hanya tampak pada aspek emosional. Ini juga berdampak pada fisiologis, pikiran, perilaku, dan relasi sosial. Beberapa gejala umum yang bisa diamati melipui gejala fisik, perasaan, pikiran, hingga relasi sosial.

Baca juga: Kenali Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental dan Cara Menghentikannya

Anna menyebut, di lingkungan kerja, luka psikologis bisa menyebabkan masalah multidimensi, mulai dari dampak fisik, psikologis, sosial, hingga performa kerja. Di antara dampaknya bisa berupa fisik berupa sakit kepala, kelelahan kronis, gangguan tidur, daya tahan tubuh menurun.

Selain itu, dari sisi psikologis juga bisa berupa mudah tersinggung, kesulitan mengambil keputusan, emosi tidak stabil.
Secara sosial, dampak dalam dunia kerja bisa berupa sulit bekerjasama, konflik dengan rekan kerja, kecenderungan menyendiri. Selain itu, secara kinerja, bisa terlihat dari menurunnya kepuasan kerja, sering absen, produktivitas rendah.

Sebetulnya, luka psikologis juga bisa diintervensi demi mencegah luka psikologis makin memburuk. Oleh karena itu, pertolongan psikologis menjadi langkah krusial yang dapat dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri atau oleh rekan kerja.

SEBELUMNYA

Penyelenggara Ajang Kusala Sastra Khatulistiwa Rilis Daftar Pendek

BERIKUTNYA

Fadli Zon Beri Penjelasan Soal Pemerkosaan Massal 1998  yang Kontroversial

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga