Wawancara Co-founder Torch, Perjalanan Merintis Usaha hingga Target Melantai di Bursa
30 September 2025 |
22:01 WIB
Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade sejak pertama kali berdiri, Torch, merek aksesori perjalanan asal Bandung berhasil mencatat pertumbuhan bisnis hingga lebih dari 100 kali lipat. Meski begitu, ini bukan titik akhir perjalanan mereka. Justru menjadi awal untuk capaian pada masa mendatang.
Torch menargetkan omzet hingga US$70 juta pada 2029, dengan strategi ekspansi ke 50 hingga 100 toko offline, memperkuat kanal digital, hingga menyiapkan diri menuju initial public offering (IPO) setelah berhasil masuk dalam Forbes Asia 100 to Watch.
Bagaimana perjalanan mereka dari awal membangun brand, menjaga kualitas produk, hingga menghadapi tantangan scale-up?Berikut petikan wawancara dengan dua co-founder Torch, Ben Wirawan dan Hanafi Salman.
Baca juga: Wawancara CEO Se'Indonesia Rinaldi Dharma Utama, Membawa Kuliner NTT Mendunia
Torch dikenal sebagai brand lokal yang fokus pada aksesoris perjalanan. Boleh diceritakan apa yang menginspirasi untuk mendirikan brand ini, dan kapan pertama kali hadir?
Ben: Torch didirikan oleh saya dan Hanafi. Kami sama-sama berlatar belakang desainer produk industri dari ITB. Awalnya bukan pengusaha tas, saya pernah menjadi desainer di salah satu perusahaan tas adventure di Indonesia. Hanafi sempat membangun bisnis kaos. Dari sana kami sadar bahwa bisnis retail di Indonesia masih jarang yang benar-benar membuat produk inovasi sendiri.
Kami bertemu mentor-mentor berpengalaman di industri fesyen muslim yang banyak mengajari kami tentang retail secara intensif selama satu hingga dua tahun. Dari situ lahirlah Torch pada 2015. Kami melihat peluang dari tren generasi muda yang menjadikan traveling bukan sekadar kebutuhan fungsional, tetapi juga bagian dari identitas diri. Saat itu, pasar tas adventure kuat di segmen pendakian, tetapi belum ada yang fokus pada urban travel. Itulah celah yang coba kami isi.
Produk Torch identik dengan harga terjangkau namun tetap fungsional dan stylish. Bagaimana strategi menjaga keseimbangan antara kualitas dan affordability?
Ben: Konsumen Indonesia sangat peduli pada kualitas. Maka sejak awal kami memutuskan membuat produk dengan kualitas yang bagus, mendekati premium, tapi dengan harga yang affordable untuk pasar menengah karena memang market Indonesia mayoritas ada di segmen ini. Rahasianya ada di riset maka sejak awal desain kami memilih material yang tahan lama tapi tetap efisien tanpa mengorbankan kualitas.
Hanafi: Dari sisi desain, kami menyiasati dengan menyederhanakan pola agar biaya produksi lebih efisien. Itu membuat harga bisa ditekan, tapi tetap stylish. Selain itu, ada nilai tambah seperti kompartemen laptop dengan penahan khusus agar lebih aman. Jadi konsumen dapat kejutan positif, bukan hanya tampilan luar tapi juga fungsionalitas. Menggunakan material yang ringan tapi kuat.
Dengan target revenue US$70 juta pada 2029, apa strategi jangka panjang Torch dalam inovasi produk dan ekspansi pasar? Apakah ada rencana go regional?
Ben: Target US$70 juta akan kami dekati lewat inovasi produk dan perluasan pasar yang bertahap dalam lima tahun ke depan. Kami harus benar-benar stabil di Indonesia dulu, itu prioritas utama.
Kalau pasar domestik sudah kuat, barulah kami melakukan ekspansi ke regional bahkan global. Sebetulnya kami sudah masuk ke Amerika dengan pendekatan digital first. Sebulan terakhir Torch juga masuk ke Malaysia dan diikuti rencana ekspansi ke Thailand dan Filipina.
Torch saat ini memiliki 14 toko fisik dan menargetkan 50 toko pada 2029. Bagaimana strategi ekspansi offline dan online Torch agar tetap efisien dan sustainable dalam beberapa tahun ke depan?
Ben: Sejak 2015 kami sudah tumbuh lebih dari 100 kali lipat. Namun, tantangan ke depan berbeda karena venture capital menargetkan kami untuk tumbuh delapan kali lipat lagi dalam lima tahun ke depan agar siap menuju IPO. Kalau dulu fokusnya zero to one yaitu mencari product market fit sekarang kami sudah masuk fase scale-up.
Kami percaya untuk bisa besar tidak bisa hanya mengandalkan e-commerce. Karena itu, sejak dua tahun terakhir ini kami mengembangkan model online-to-offline (O2O) sehingga bisa diakses seluruh Masyarakat Indonesia.
Saat ini kami 14 toko fisik dan 6 cloud store yang memungkinkan pengiriman instan di kota tertentu. Untuk ekspansi jangka Panjang, Torch menargetkan memiliki 50 hingga 100 toko dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Namun formatnya bukan hanya fisik tetapi mengusung konsep online to offline (O2O) sehingga bisa menjangkau lebih banyak segmen dengan pengalaman belanja yang konsisten.
Tahun lalu Torch mendapatkan investasi dari Init 6. Bisa ceritakan prosesnya?
Ben: Sejak 2018 banyak Venture Capital yang sudah menghubungi kami, tapi waktu itu belum cocok karena hampir semua mencari pertumbuhan eksponensial. Untuk brand seperti kami, itu tidak realistis.
Baru ketika skala sudah lebih besar, kami yang merupakan tech-enabled consumer startup ini mulai terbuka terhadap pendanaan dan ada kecocokan visi saat bertemu dengan Achmad Zaky pemilik Init 6 yang ingin membesarkan lapak-lapak pengusaha lokal.
Pendanaan ini kami gunakan untuk scale-up seperti membuka toko O2O, cloud store, hingga uji coba model bisnis baru, agar bisnis bisa tumbuh lebih cepat.
Apa tantangan terbesar Torch di industri retail, terutama setelah pandemi?
Ben: Tantangan terbesar adalah adaptasi terhadap perubahan platform digital. Dari website, marketplace, hingga kini social commerce, setiap kanal punya ilmu baru yang harus dipelajari. Selain itu, daya beli masyarakat juga beragam, sehingga strategi multi tiers sangat penting. Torch harus bisa hadir di segmen bawah, menengah, hingga atas dengan positioning yang tepat.
Torch masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025. Apa artinya bagi Anda?
Hanafi: Bagi saya, ini pengingat bahwa perjalanan Torch masih panjang. Masuk Forbes artinya brand lokal seperti kami sudah diakui layak untuk scale-up dan siap menembus pasar global. Tapi ini juga tantangan baru. Kami ingin brand Indonesia bisa sejajar dengan global players, meski jalannya masih jauh.
Ben: Saya melihat ini sebagai pesan untuk sektor consumer di Indonesia. Dulu investor kurang melirik sektor ini, tapi sekarang pengakuan Forbes menjadi semacam wake-up call bahwa sektor consumer punya masa depan cerah.
Bagi Torch sendiri, ini afirmasi bahwa kami sudah masuk fase scale-up. Banyak VC kini mendekati kami, dan itu menunjukkan kepercayaan terhadap sektor consumer di Indonesia semakin tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Torch menargetkan omzet hingga US$70 juta pada 2029, dengan strategi ekspansi ke 50 hingga 100 toko offline, memperkuat kanal digital, hingga menyiapkan diri menuju initial public offering (IPO) setelah berhasil masuk dalam Forbes Asia 100 to Watch.
Bagaimana perjalanan mereka dari awal membangun brand, menjaga kualitas produk, hingga menghadapi tantangan scale-up?Berikut petikan wawancara dengan dua co-founder Torch, Ben Wirawan dan Hanafi Salman.
Baca juga: Wawancara CEO Se'Indonesia Rinaldi Dharma Utama, Membawa Kuliner NTT Mendunia
Torch dikenal sebagai brand lokal yang fokus pada aksesoris perjalanan. Boleh diceritakan apa yang menginspirasi untuk mendirikan brand ini, dan kapan pertama kali hadir?
Ben: Torch didirikan oleh saya dan Hanafi. Kami sama-sama berlatar belakang desainer produk industri dari ITB. Awalnya bukan pengusaha tas, saya pernah menjadi desainer di salah satu perusahaan tas adventure di Indonesia. Hanafi sempat membangun bisnis kaos. Dari sana kami sadar bahwa bisnis retail di Indonesia masih jarang yang benar-benar membuat produk inovasi sendiri.
Kami bertemu mentor-mentor berpengalaman di industri fesyen muslim yang banyak mengajari kami tentang retail secara intensif selama satu hingga dua tahun. Dari situ lahirlah Torch pada 2015. Kami melihat peluang dari tren generasi muda yang menjadikan traveling bukan sekadar kebutuhan fungsional, tetapi juga bagian dari identitas diri. Saat itu, pasar tas adventure kuat di segmen pendakian, tetapi belum ada yang fokus pada urban travel. Itulah celah yang coba kami isi.
Produk Torch identik dengan harga terjangkau namun tetap fungsional dan stylish. Bagaimana strategi menjaga keseimbangan antara kualitas dan affordability?
Ben: Konsumen Indonesia sangat peduli pada kualitas. Maka sejak awal kami memutuskan membuat produk dengan kualitas yang bagus, mendekati premium, tapi dengan harga yang affordable untuk pasar menengah karena memang market Indonesia mayoritas ada di segmen ini. Rahasianya ada di riset maka sejak awal desain kami memilih material yang tahan lama tapi tetap efisien tanpa mengorbankan kualitas.
Hanafi: Dari sisi desain, kami menyiasati dengan menyederhanakan pola agar biaya produksi lebih efisien. Itu membuat harga bisa ditekan, tapi tetap stylish. Selain itu, ada nilai tambah seperti kompartemen laptop dengan penahan khusus agar lebih aman. Jadi konsumen dapat kejutan positif, bukan hanya tampilan luar tapi juga fungsionalitas. Menggunakan material yang ringan tapi kuat.
Dengan target revenue US$70 juta pada 2029, apa strategi jangka panjang Torch dalam inovasi produk dan ekspansi pasar? Apakah ada rencana go regional?
Ben: Target US$70 juta akan kami dekati lewat inovasi produk dan perluasan pasar yang bertahap dalam lima tahun ke depan. Kami harus benar-benar stabil di Indonesia dulu, itu prioritas utama.
Kalau pasar domestik sudah kuat, barulah kami melakukan ekspansi ke regional bahkan global. Sebetulnya kami sudah masuk ke Amerika dengan pendekatan digital first. Sebulan terakhir Torch juga masuk ke Malaysia dan diikuti rencana ekspansi ke Thailand dan Filipina.
Torch saat ini memiliki 14 toko fisik dan menargetkan 50 toko pada 2029. Bagaimana strategi ekspansi offline dan online Torch agar tetap efisien dan sustainable dalam beberapa tahun ke depan?
Ben: Sejak 2015 kami sudah tumbuh lebih dari 100 kali lipat. Namun, tantangan ke depan berbeda karena venture capital menargetkan kami untuk tumbuh delapan kali lipat lagi dalam lima tahun ke depan agar siap menuju IPO. Kalau dulu fokusnya zero to one yaitu mencari product market fit sekarang kami sudah masuk fase scale-up.
Kami percaya untuk bisa besar tidak bisa hanya mengandalkan e-commerce. Karena itu, sejak dua tahun terakhir ini kami mengembangkan model online-to-offline (O2O) sehingga bisa diakses seluruh Masyarakat Indonesia.
Saat ini kami 14 toko fisik dan 6 cloud store yang memungkinkan pengiriman instan di kota tertentu. Untuk ekspansi jangka Panjang, Torch menargetkan memiliki 50 hingga 100 toko dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Namun formatnya bukan hanya fisik tetapi mengusung konsep online to offline (O2O) sehingga bisa menjangkau lebih banyak segmen dengan pengalaman belanja yang konsisten.
Tahun lalu Torch mendapatkan investasi dari Init 6. Bisa ceritakan prosesnya?
Ben: Sejak 2018 banyak Venture Capital yang sudah menghubungi kami, tapi waktu itu belum cocok karena hampir semua mencari pertumbuhan eksponensial. Untuk brand seperti kami, itu tidak realistis.
Baru ketika skala sudah lebih besar, kami yang merupakan tech-enabled consumer startup ini mulai terbuka terhadap pendanaan dan ada kecocokan visi saat bertemu dengan Achmad Zaky pemilik Init 6 yang ingin membesarkan lapak-lapak pengusaha lokal.
Pendanaan ini kami gunakan untuk scale-up seperti membuka toko O2O, cloud store, hingga uji coba model bisnis baru, agar bisnis bisa tumbuh lebih cepat.
Apa tantangan terbesar Torch di industri retail, terutama setelah pandemi?
Ben: Tantangan terbesar adalah adaptasi terhadap perubahan platform digital. Dari website, marketplace, hingga kini social commerce, setiap kanal punya ilmu baru yang harus dipelajari. Selain itu, daya beli masyarakat juga beragam, sehingga strategi multi tiers sangat penting. Torch harus bisa hadir di segmen bawah, menengah, hingga atas dengan positioning yang tepat.
Torch masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025. Apa artinya bagi Anda?
Hanafi: Bagi saya, ini pengingat bahwa perjalanan Torch masih panjang. Masuk Forbes artinya brand lokal seperti kami sudah diakui layak untuk scale-up dan siap menembus pasar global. Tapi ini juga tantangan baru. Kami ingin brand Indonesia bisa sejajar dengan global players, meski jalannya masih jauh.
Ben: Saya melihat ini sebagai pesan untuk sektor consumer di Indonesia. Dulu investor kurang melirik sektor ini, tapi sekarang pengakuan Forbes menjadi semacam wake-up call bahwa sektor consumer punya masa depan cerah.
Bagi Torch sendiri, ini afirmasi bahwa kami sudah masuk fase scale-up. Banyak VC kini mendekati kami, dan itu menunjukkan kepercayaan terhadap sektor consumer di Indonesia semakin tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.