Ilustrasi anak muda yang melamar pekerjaan. (Sumber gambar : Freepik/Jcomp)

Daya Saing Dunia Kerja Makin Ketat, Begini Kiat Menghadapinya

30 November 2023   |   22:00 WIB

Tantangan dunia kerja makin berat. Generasi muda kini tidak cukup hanya membekali diri dengan soft skills, namun juga harus memiliki daya saing dan daya tahan. Menurut Wakil Presiden Direktur PT. Bank Central Asia Armand W. Hartono, semangat survival ini menjadi kunci utama yang dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia di masa sekarang.

Tidak hanya sekadar mampu bertahan hidup di tengah perkembangan zaman, tetapi memberikan manfaat seluas-luasnya untuk orang lain. “Anak muda perlu menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter kuat, serta memiliki inovasi tinggi sebagai kunci keberhasilan mereka,” ujar Armand W. Hartono dalam keterangannya dikutip Hypeabis.id, Kamis (30/11/2023). 

Di tingkat perusahaan, manajemen perlu bersiap membuka diri dan mengadopsi inovasi sesuai perkembangan zaman. Kolaborasi antara generasi muda yang penuh semangat dan manajemen yang terbuka terhadap perkembangan teknologi adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang dinamis dan kompetitif. 

Indra Rudiansyah, salah satu peneliti pengembangan vaksin AstraZeneca menerangkan perkembangan zaman mendorong anak muda untuk memperluas zona nyaman, sehingga keberanian untuk berkembang semakin meningkat. Kemampuan masing-masing individu dalam meningkatkan kapabilitasnya penting disadari oleh generasi muda. 

Untuk meningkatkan kemampuan ini, akses untuk mendapatkan informasi sudah jauh lebih mudah, banyak pula institusi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi. Hanya saja, dibutuhkan komitmen dan konsistensi dalam belajar agar nantinya generasi muda Indonesia mampu bersaing secara global. 

Indra menyebut ada banyak medium untuk berkembang. Salah satunya mencoba keikutsertaan beasiswa yang beragam, baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta. 

Indra sendiri menjadi penerima  Djarum Beasiswa Plus. Pengalaman sebagai Beswan Djarum membentuk dirinya karena setiap individu didorong untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. “Kesempatan mendapatkan berbagai pelatihan yang tidak hanya mengasah kemampuan berpikir tetapi juga soft skills yang diberikan, memotivasi saya untuk terus berkembang dan bersaing secara global,” sebutnya.

Sementara itu, Aang Permana yang meraih Kick Andy HERO pada 2017 dalam acara Dreamfest mengungkapkan dia meninggalkan pekerjaan di Jakarta pada bidang industri perminyakan dan gas, kemudian memilih untuk mengembangkan usaha di kampung halaman. Dukungan Djarum Beasiswa Plus yang diterimanya dulu saat di bangku perkuliahan menginspirasi dirinya untuk dapat memberikan manfaat juga kepada orang sekitar, minimal di lingkungan tempat tinggalnya.

Aang kemudian membuka lapangan pekerjaan dan mendirikan Sipetek Crispy. Dari Ikan Sipetek yang dijual dengan Rp20.000an, Aang berhasil meriah omzet hingga Rp500 juta setiap bulannya.

Primadi H. Serad, Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation menyebut Program Djarum Beasiswa Plus yang berlangsung sejak 1984 memberikan dukungan kepada generasi muda Indonesia berprestasi untuk mengembangkan diri dan pelatihan keterampilan soft skills.

Program beasiswa ini memiliki tujuan melahirkan ribuan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul akademis, tetapi memiliki keterampilan dan karakter yang tangguh. Djarum Beasiswa Plus sudah memberikan dana beasiswa kepada lebih dari 13.397 mahasiswa berprestasi di lebih dari 127 perguruan tinggi unggulan di Indonesia.

Primadi menyebut pihaknya ingin para Beswan Djarum sadar bahwa kemampuan untuk bertahan dan bersaing perlu diiringi dengan pengembangan soft skills yang sesuai dengan kebutuhan zaman. “Sehingga, nantinya mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang layak guna mewujukan Indonesia yang digdaya seutuhnya,” tuturnya.

Deel, platform SDM all-in-one untuk manajemen tim global, dalam riset barunya bertajuk Global Expansion and Hiring Research yang disusun bersama Rakuten mencatat perusahaan di Indonesia memiliki minat yang tinggi untuk ekspansi ke pasar luar negeri dan telah mengalokasikan sumber daya yang signifikan dalam proses tersebut, bersamaan dengan semakin pentingnya pengembangan SDM yang berkualitas.  

Salah satu temuan riset Deel tersebut menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia memiliki minat yang tinggi untuk ekspansi ke pasar luar negeri dan telah mengalokasikan sumber daya yang signifikan dalam proses tersebut, bersamaan dengan semakin pentingnya pengembangan SDM yang berkualitas.  Sayangnya, 42 persen bisnis di Indonesia tidak mempekerjakan tenaga lokal di pasar internasional. Alasannya cukup beragam, mulai dari biaya (52 persen), kesulitan mencari tenaga kerja yang sesuai (44 persen), sampai kesulitan mengelola karyawan jarak jauh (30 persen). 

Sementara itu, 92 persen pengambil keputusan bisnis dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia percaya bahwa mempekerjakan tenaga kerja global mampu meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga kerja lokal. Di Indonesia sendiri, angka ini mencapai 91 persen.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Roni Yunianto

 

SEBELUMNYA

Mengenal Penyakit Mata Ikan di Kaki, Mulai dari Penyebab sampai Pengobatannya

BERIKUTNYA

IDI Beberkan Probabilitas Kasus Pneumonia China Bisa Masuk ke Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: