Hypereport: Ancaman Sunyi Penyakit Obesitas, Urgensi Pencegahan & Pengobatan di Indonesia
30 September 2025 |
10:30 WIB
Obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia yang membutuhkan penanganan dan pencegahan yang menyeluruh dari berbagai pihak. Pasalnya, angka prevalensi obesitas di Tanah Air terus mengalami peningkatan, mengindikasikan besarnya ancaman kesehatan bagi masyarakat.
Menurut laporan terbaru World Obesity Atlas 2025, sekitar 13 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia, yakni dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018, dan melonjak lagi menjadi 23,4 persen pada 2023.
Dengan kata lain, hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia kini mengalami obesitas, angka yang meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Adapun, komplikasi seperti diabetes tipe 2 yang dialami 19 juta penduduk serta penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia, kian menambah beban besar pada sistem kesehatan nasional.
Baca Juga:
Hypereport: Makan Bergizi Gratis, Jalan Panjang nan Terjal Menuju Generasi Sehat Indonesia
Hypereport: Stunting Masih jadi PR Besar Kesehatan Indonesia, Pentingnya Pemenuhan Gizi Anak
Selama ini obesitas mungkin dianggap sebatas berubahnya bentuk tubuh yang menggemuk. Padahal, obesitas dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, jantung koroner, hingga kanker. Hal ini membuat obesitas dijuluki sebagai "mother of disease" alias induk dari segala penyakit.
Menurut laporan terbaru World Obesity Atlas 2025, sekitar 13 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia, yakni dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018, dan melonjak lagi menjadi 23,4 persen pada 2023.
Dengan kata lain, hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia kini mengalami obesitas, angka yang meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir. Adapun, komplikasi seperti diabetes tipe 2 yang dialami 19 juta penduduk serta penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia, kian menambah beban besar pada sistem kesehatan nasional.
Baca Juga:
Hypereport: Makan Bergizi Gratis, Jalan Panjang nan Terjal Menuju Generasi Sehat Indonesia
Hypereport: Stunting Masih jadi PR Besar Kesehatan Indonesia, Pentingnya Pemenuhan Gizi Anak
Sementara itu, secara global, jumlah orang dewasa yang hidup dengan obesitas di dunia diperkirakan bakal meningkat lebih dari 115 persen sepanjang 2010 hingga 2030, dari 524 juta orang menjadi 1,13 miliar orang, menurut Federasi Obesitas Dunia.
Adapun, penyakit tidak menular termasuk diabetes, jantung, kanker dan gangguan pernapasan, menyebabkan 75 persen dari seluruh kematian di dunia dengan obesitas sebagai salah satu faktor risiko utamanya.
Berbeda dengan kelebihan berat badan (over weight) yang hanya mengacu pada indeks massa tubuh, obesitas ialah kondisi berat badan berlebih sekaligus penumpukan jaringan lemak yang tidak normal pada tubuh, akibat tidak seimbangnya asupan energi dengan energi yang digunakan.

Prevelansi obesitas di Indonesia (Sumber: World Obesity Atlas 2025)
Berbeda dengan kelebihan berat badan (over weight) yang hanya mengacu pada indeks massa tubuh, obesitas ialah kondisi berat badan berlebih sekaligus penumpukan jaringan lemak yang tidak normal pada tubuh, akibat tidak seimbangnya asupan energi dengan energi yang digunakan.
Obesitas pun terjadi bukan sebatas karena faktor pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik. Tetapi juga mencakup faktor genetik, hormonal, metabolis, dan neurologis yang kompleks hingga faktor lingkungan.
Peneliti dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (PKMK FK-KMK UGM), Digna Niken Purwaningrum, menjelaskan obesitas terjadi karena beberapa tingkatan faktor yang saling berkaitan satu sama lain, yang dapat dilihat dalam model socio-ecological framework.
Di level individu, beberapa penyebabnya bisa mulai dari faktor genetik hingga kebiasaan individu seperti pola makan, aktivitas fisik, hingga kondisi metabolic rate yang mempengaruhi kebutuhan asupan kalori untuk tubuh.
Sementara di level keluarga dan komunitas, kini semakin banyak lingkungan obesogenik baik di perkotaan maupun di pedesaan. Lingkungan obesogenik adalah lingkungan yang mendorong orang untuk makan tidak sehat dan kurang berolahraga.
"Lalu ada juga faktor dari tenaga kesehatan yang mungkin belum memberikan informasi atau promosi kesehatan yang mencakup, dalam upaya pencegahan dan penanganan obesitas," katanya dalam acara forum Bahas Tuntas Obesitas di Jakarta, baru-baru ini.
Obesitas Itu Penyakit Kronis

Penyakit berbahaya karena faktor obesitas (Sumber: Hypeabis)
Selama ini obesitas mungkin dianggap sebatas berubahnya bentuk tubuh yang menggemuk. Padahal, obesitas dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, jantung koroner, hingga kanker. Hal ini membuat obesitas dijuluki sebagai "mother of disease" alias induk dari segala penyakit.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes, Wismandari Wisnu, menegaskan obesitas bukan penyakit yang hanya berkaitan dengan estetika yang ditandai perubahan bentuk badan seseorang, melainkan penyakit kronis alias berlangsung dalam kurun waktu yang lama atau terjadi secara perlahan-lahan.
Menurutnya, penderita obesitas selama ini acapkali hanya dipandang memiliki masalah dari sisi berat badannya saja, sehingga pengobatannya pun sebatas difokuskan untuk menurunkan berat badan. Padahal, seharusnya dilakukan pengecekan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap penderita obesitas untuk mencegah potensi penyakit penyerta yang ditimbulkan dari kelebihan berat badan.
"Jadi kalau ini [obesitas] suatu penyakit, mulai dari sisi deteksinya, diagnosisnya, sampai ke tata laksananya, itu harusnya komprehensif dan kita pengertiannya itu kompleks. Jadikan orang yang menderita obesitas sebagai orang yang punya penyakit, walaupun saat itu dia belum ada penyakit penyertanya," terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Farid Kurniawan menjelaskan penumpukan jaringan lemak berlebih yang dialami penderita obesitas dapat menghasilkan zat-zat dalam jumlah yang banyak dalam tubuh, sehingga berisiko menyebabkan peningkatan inflamasi atau peradangan dalam tubuh.
Dalam jangka panjang, peradangan tersebut akan menyebabkan kondisi resistensi insulin, kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik akibat adanya gangguan dalam merespons insulin. Kondisi ini lah yang menjadi pemicu terjadinya sejumlah penyakit kronis.
"Resistensi insulin ini nantinya menjadi pangkal untuk menyebabkan terjadinya diabetes, kemudian penyakit jantung dan pembuluh darah, dislipidemia atau gangguan lipid [lemak] dalam tubuh, bahkan juga terkait dengan peningkatan produksi hormon yang IGF-1 yang kalau terlalu tinggi itu nanti terkait kejadian kanker yang meningkat," paparnya.
Stigma & Tantangan Pencegahan Obesitas
Meski merupakan pangkal dari sejumlah penyakit kronik, pencegahan obesitas masih menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks. Mulai dari stigma terhadap obesitas yang berkembang di masyarakat hingga belum terjaminnya pengobatan obesitas menggunakan asuransi baik dari pemerintah seperti BPJS kesehatan maupun swasta.
Wsimandari menuturkan selama ini banyak pasien penderita obesitas yang baru melakukan pengecekan dan konsultasi ke dokter setelah mengalami penyakit-penyakit penyertanya seperti diabetes, hipertensi, pengapuran di lutut hingga kanker.
Hal itu terjadi lantaran kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit obesitas masih minim, sehingga baru menyadari bahwa obesitas itu berbahaya setelah mereka mengalami penyakit-penyakit penyertanya. Alih-alih tergerak untuk melakukan pengecekan atau konsultasi medis sejak awal obesitas.
"Kadang-kadang pasien saya datang ke meja praktik saya, kemudian saya cek IMT [indeks massa tubuh]-nya 28 yang udah pasti itu obes. Tapi saat saya minta untuk kurangi berat badannya 5-10 persen aja gitu, and then dia bilang, eh saya udah bagus begini, saya enggak mau dikurangi. Jadi, kesadaran tentang obesitas sendiri itu belum terlalu mumpuni buat masyarakat kita," ucapnya.
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), seseorang akan dikatakan terlalu gemuk atau obesitas apabila skala IMT-nya lebih dari 27. Di sisi lain, indikatornya juga bisa dilihat dari ukuran lingkar perut. Bagi perempuan, tergolong obesitas jika berlingkar perut sama dengan atau lebih dari 80 cm, sedangkan untuk pria sama dengan atau lebih dari 90 cm.
"Yuk datang ke dokter. Jangan sampai periksanya sudah dengan diabetes. Jadi kewaspadaan itu harus ditekankan dari kita semua bahwa obesitas itu tidak hanya masalah estetika atau kecantikan saja, tapi juga masalah kesehatan yang jauh lebih serius bahkan bisa mengancam nyawa orang," tegasnya.
Minimnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit obesitas pun akhirnya melanggengkan stigma yang membuat pencegahannya semakin menantang. Farid mengatakan masih banyak orang yang merasa bahwa tubuhnya terlalu kurus padahal susah berada di angka IMT yang ideal, sehingga memunculkan rasa tidak percaya diri di lingkungannya.
Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab. Menurut Farid, proses distribusi lemak dalam tubuh antara orang Barat dan Asia cenderung berbeda, sehingga orang Barat cenderung tampak ideal untuk bertubuh kurus sedangkan pada orang Asia acapkali terkesan terlalu kurus.
Selain itu, masih banyak juga masyarakat yang beranggapan bahwa anak kecil harus bertubuh gemuk untuk dianggap sehat. Sebaliknya, anak yang kurus biasanya akan menjadi bahan omongan bahkan dicap sebagai anak kurang gizi.
"Tantangan yang lain terkait health care provider atau tenaga kesehatan tidak selalu aware bahwa pasiennya itu obesitas. Kadang-kadang sungkan untuk bilang masalah obesitas ke pasiennya, takut pasien tersinggung nanti malah enggak mau balik lagi untuk kontrol. Nah itu yang memang kita harus bereskan juga di masyarakat," ujarnya.
Pengobatan Obesitas Belum Terjamin
Sistem pengobatan obesitas di Indonesia pun masih menghadapi tantangan yang membutuhkan langkah kebijakan serius dari pemerintah. Digna menjelaskan di Indonesia saat ini ada dua level layanan kesehatan yang menyediakan perawatan dan pengobatan obesitas.
Dia memaparkan secara regulasi, penyakit obesitas seharusnya sudah bisa ditangani di layanan kesehatan level dasar seperti puskesmas. Masalahnya, belum semua tenaga kesehatan di level puskesmas memiliki kompetensi yang komprehensif untuk menangani obesitas secara tuntas.
Sementara itu, pasien bisa melanjutkan pengobatan ke rumah sakit hanya jika diagnosisnya disertai dengan penyakit penyerta dari obesitas yang bisa di-cover oleh BPJS kesehatan. Adapun, untuk pengobatan dengan diagnosis primer obesitas hanya bisa ditangani menggunakan biaya sendiri alias tanpa asuransi.
Kondisi ini lah yang membuat para dokter acapkali tidak mengajukan obesitas sebagai diagnosis primer sebagai rujukan pasien melakukan pengobatan ke rumah sakit, lantaran tidak dijamin oleh fasilitas asuransi baik pemerintah maupun swasta. Akhirnya, para dokter hanya mendiagnosis penyakit penyerta yang memang di-cover asuransi agar tidak memberatkan pasien.
"Puskesmas sebetulnya sudah mulai memiliki daya tawar dan kemampuan yang cukup tinggi untuk bisa melakukan screening obesitas. Tinggal bagaimana nantinya kompetensi tenaga kesehatan ditingkatkan terus-menerus dari waktu ke waktu. Kemudian kalau untuk rumah sakit yang mungkin menjadi catatan, tantangan ke depan adalah bagaimana layanan obesitas itu betul-betul didesain secara terintegrasi," jelas Digna.
Wismandari menambahkan lantaran besarnya ancaman kesehatan dari obesitas, diharapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengambil langkah yang serius di tahap pencegahan. Salah satunya dengan membuat kebijakan yang menjadikan obesitas sebagai penyakit yang bisa dibiayai oleh asuransi.
Sehingga, masyarakat bisa sedini mungkin mencegah penyakit-penyakit penyerta kronik dari obesitas sekaligus bisa meminimalisir biaya pengobatan yang harus dikeluarkan pasien. Pasalnya, jika sudah mengalami penyakit penyertanya, penderita obesitas tentu akan mengeluarkan biaya perawatan yang lebih besar.
"Obesitas itu harus di-cover [asuransi], bahkan belum ada penyakit penyertanya. Kita pengen penanganannya justru fokus dari hulu, jangan sampai ada penyakit penyertanya dulu," tegasnya.
Farid juga sepakat bahwa obesitas harus diperlakukan seperti penyakit-penyakit kronik lainnya yang memang dijamin biaya pengobatannya oleh asuransi baik pemerintah ataupun swasta. Dengan begitu, langkah pencegahan obesitas bisa berjalan efekfif lantaran para dokter tidak segan untuk mendiagnosisnya, agar pasien segera mendapatkan perawatan.
Baca juga: Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Sejumlah Dapur MBG Bakal Ditutup Sementara
Baca juga: Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Sejumlah Dapur MBG Bakal Ditutup Sementara
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.