Hypereport: Stunting Masih jadi PR Besar Kesehatan Indonesia, Pentingnya Pemenuhan Gizi Anak
30 September 2025 |
10:00 WIB
Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia di bidang kesehatan yang perlu ditangani secara serius. Meski angka prevalensinya mulai menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, target pencapaiannya tetap membutuhkan kerja keras.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Tercatat prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen, menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan komitmen kuat pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional menjadi 14,2 persen pada 2029, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun bersama Sekretariat Wakil Presiden dan Bappenas.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Makan Bergizi Gratis, Jalan Panjang nan Terjal Menuju Generasi Sehat Indonesia
“Target ini tidak mudah, tapi cukup menantang untuk dikejar. Dari angka 21,5 persen di 2023, kita harus turun ke 14,2 persen di 2029, artinya kita harus menurunkan sekitar 7,3 persen dalam lima tahun,” ujar Menkes Budi.
Lebih lanjut, dia juga mengingatkan bahwa masih ada tantangan besar ke depannya. Kini pemerintah menetapkan target baru, yaitu 18,8 persen pada 2025. Meski terlihat lebih realistis, pencapaiannya tetap membutuhkan kerja keras.
Khususnya upaya menurunkan jumlah balita stunting di enam provinsi, yaitu Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).
“Kalau enam provinsi dengan jumlah angka stunting terbesar ini bisa kita turunkan 10 persen, maka secara nasional kita bisa turun 4–5 persen. Karena 50 persen anak stunting ada di enam daerah ini,” tegas Menteri Budi.
Sebagai upaya untuk mengejar target 18,8 persen di 2025, pemerintah menyusun sejumlah strategi. Misalnya, memberikan perhatian sejak masa pra-kelahiran, dengan fokus pada 11 intervensi spesifik di sektor kesehatan, khususnya untuk remaja putri dan ibu hamil.
“Stunting itu terjadi bukan setelah lahir, tapi bahkan sejak dalam kandungan. Maka intervensi kepada ibu hamil sangat penting. Jangan sampai ibu-ibu hamil kekurangan gizi atau anemia,” jelasnya.
Lebih lanjut dia juga menekankan pentingnya program pengukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil, distribusi tablet tambah darah, serta suplementasi mikronutrien.
Selain itu, program peningkatan mutu pengukuran di Posyandu juga terus diperkuat melalui distribusi 300.000 alat antropometri, didukung program ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan imunisasi.
Stunting masih menjadi salah satu masalah serius di Indonesia, dengan dampak yang bisa memengaruhi kesehatan anak hingga dewasa. Menurut Cut Nurul Hafifah, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik RS Pondok Indah – Pondok Indah, stunting adalah kondisi kekurangan nutrisi jangka panjang yang ditandai dengan perawakan pendek dengan tinggi badan kurang dari -2 standar deviasi kurva pertumbuhan WHO.
"Penyebabnya adalah kekurangan nutrisi jangka panjang atau peningkatan kebutuhan energi akibat penyakit yang tidak diobati secara tuntas, seperti tuberkulosis (TBC) yang tidak terdeteksi," katanya pada Hypeabis.id.
Stunting bukan hanya soal tinggi badan, katanya, dampaknya juga bisa menurunkan kecerdasan, bahkan rata-rata IQ anak stunting hanya sekitar 70, sedangkan rerata IQ nasional masih di angka 79.
Selain penurunan kecerdasan, anak juga mengalami penurunan kemampuan fisik ditandai dengan massa otot dan tulang lebih kecil, serta kekebalan tubuh lebih lemah akibat asupan makanan yang kurang.
Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini melalui pemantauan pertumbuhan. Bayi usia 0-12 bulan, harus selalu dipantau berat badan (BB), tinggi badan (TB), dan lingkar kepala (LK) setiap bulan. Selain itu, pemberian ASI maupun MPASI yang adekuat serta imunisasi yang tepat waktu juga penting untuk dilakukan.
"Jadi enggak bisa hanya dengan memberikan makan saja, lalu anak menjadi tinggi," katanya.
Faktor lainnya yang juga harus diperhatikan, misalnya tidur tepat waktu sebelum jam 21.00, serta tidak terbangun-bangun di malam hari agar kualitas tidur baik dan hormon pertumbuhan dapat bekerja optimal.
Peran asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sangat besar. Pada periode ini, kesehatan dan status gizi ibu, pemberian nutrisi yang tepat, serta imunisasi menjadi faktor dominan. Sementara faktor genetik hanya berperan 10 persen pada awal kehidupan, kemudian barulah berpengaruh besar ketika anak menginjak usia usia sekolah dan beranjak remaja.
“Kalau berat badan dan tinggi badan anak tidak naik, sebaiknya segera dicari tahu apakah asupan makan kurang atau ada penyakit penyerta yang mengganggu pertumbuhan si Kecil,” jelasnya.
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadi modal awal anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI memiliki komponen makronutrien seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang diperlukan dalam pembentukan sel tubuh serta menambah volume otak, otot, dan tulang.
Selain itu, juga mengandung zat bioaktif seperti antibodi, leukosit, dan enzim untuk menjaga kekebalan tubuh. Anak yang mendapat ASI eksklusif lebih jarang mengalami infeksi, sehingga melindunginya dari penyakit yang menghambat pertumbuhan.
Meski demikian, salah satu tantangan yang dihadapi orang tua dan keluarga di rumah adalah tingginya harga pangan bergizi. Namun, kita tetap bisa memberikan asupan gizi seimbang kepada anak, karena makanan bergizi untuk MPASI tidak harus mahal.
"Satu butir telur dengan harga sekitar Rp2.500 bisa menurunkan risiko stunting hingga 47 persen pada usia 1 tahun. Hati ayam juga kaya protein dan zat besi, harganya terjangkau sekitar Rp2.600,” kata dokter Cut.
Dia mengingatkan orang tua agar lebih memprioritaskan makanan bergizi ketimbang camilan tinggi gula-garam seperti keripik kentang atau permen.
Peran imunisasi dan pemeriksaan tumbuh kembang rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan juga penting untuk menurunkan prevalensi stunting. Imunisasi bisa melindungi anak dari penyakit infeksi, sehingga anak bebas sakit dan bisa mendapatkan kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai potensinya.
Ketika anak tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai target selama 1-2 bulan berturut-turut, maka perlu dilakukan intervensi segera dengan merujuk ke Puskesmas agar penyebabnya dapat dideteksi lebih dini.
Consistania Ribuan, Dokter Spesialis Gizi Klinik, menyoroti pola konsumsi masyarakat yang terlalu sering makan makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan tinggi kalori. Selain itu, mereka juga lebih memilih produk Ultra Processed Food (UPF) dibandingkan real food, karena dinilai lebih simpel
Padahal tubuh manusia ibarat kendaraan yang membutuhkan “bahan bakar” berkualitas. Asupan makanan yang salah bisa membuat tubuh mudah lelah, rentan alergi, dan gampang sakit. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan bakteri baik di usus.
“Kalau bakteri baik kelaparan karena kita jarang konsumsi serat dan real food, mereka akan digantikan bakteri jahat. Dampaknya bisa menurunkan imun, mengganggu hormon, bahkan memicu penyakit kronis,” jelasnya.
Dokter Consistania membagikan panduan sederhana untuk menakar asupan makanan sehat dan bergizi dengan ukuran tangan, seperti berikut ini:
Dengan takaran sederhana tersebut, orang tua bisa menyusun menu makanan sehat dan bergizi tinggi untuk keluarga di rumah. Terakhir dia menekankan, bagi mereka yang masih suka menunda memulai pola hidup sehat, segera mulai dari sekarang.
"Enggak perlu makanan mahal, yang penting real food dan biasakan masak di rumah supaya tahu betul apa yang kita makan. Ingat, gaya hidup sehat itu investasi jangka panjang,” tutupnya.
Baca juga: Pentingnya Edukasi Gizi Demi Mencegah Penyakit Sejak Usia Dini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Tercatat prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen, menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan komitmen kuat pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional menjadi 14,2 persen pada 2029, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang disusun bersama Sekretariat Wakil Presiden dan Bappenas.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Makan Bergizi Gratis, Jalan Panjang nan Terjal Menuju Generasi Sehat Indonesia
“Target ini tidak mudah, tapi cukup menantang untuk dikejar. Dari angka 21,5 persen di 2023, kita harus turun ke 14,2 persen di 2029, artinya kita harus menurunkan sekitar 7,3 persen dalam lima tahun,” ujar Menkes Budi.
Lebih lanjut, dia juga mengingatkan bahwa masih ada tantangan besar ke depannya. Kini pemerintah menetapkan target baru, yaitu 18,8 persen pada 2025. Meski terlihat lebih realistis, pencapaiannya tetap membutuhkan kerja keras.
Khususnya upaya menurunkan jumlah balita stunting di enam provinsi, yaitu Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).
“Kalau enam provinsi dengan jumlah angka stunting terbesar ini bisa kita turunkan 10 persen, maka secara nasional kita bisa turun 4–5 persen. Karena 50 persen anak stunting ada di enam daerah ini,” tegas Menteri Budi.
Sebagai upaya untuk mengejar target 18,8 persen di 2025, pemerintah menyusun sejumlah strategi. Misalnya, memberikan perhatian sejak masa pra-kelahiran, dengan fokus pada 11 intervensi spesifik di sektor kesehatan, khususnya untuk remaja putri dan ibu hamil.
“Stunting itu terjadi bukan setelah lahir, tapi bahkan sejak dalam kandungan. Maka intervensi kepada ibu hamil sangat penting. Jangan sampai ibu-ibu hamil kekurangan gizi atau anemia,” jelasnya.
Lebih lanjut dia juga menekankan pentingnya program pengukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil, distribusi tablet tambah darah, serta suplementasi mikronutrien.
Selain itu, program peningkatan mutu pengukuran di Posyandu juga terus diperkuat melalui distribusi 300.000 alat antropometri, didukung program ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan imunisasi.
Penyebab Stunting dan Penanganannya
Stunting masih menjadi salah satu masalah serius di Indonesia, dengan dampak yang bisa memengaruhi kesehatan anak hingga dewasa. Menurut Cut Nurul Hafifah, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik RS Pondok Indah – Pondok Indah, stunting adalah kondisi kekurangan nutrisi jangka panjang yang ditandai dengan perawakan pendek dengan tinggi badan kurang dari -2 standar deviasi kurva pertumbuhan WHO.
"Penyebabnya adalah kekurangan nutrisi jangka panjang atau peningkatan kebutuhan energi akibat penyakit yang tidak diobati secara tuntas, seperti tuberkulosis (TBC) yang tidak terdeteksi," katanya pada Hypeabis.id.
Stunting bukan hanya soal tinggi badan, katanya, dampaknya juga bisa menurunkan kecerdasan, bahkan rata-rata IQ anak stunting hanya sekitar 70, sedangkan rerata IQ nasional masih di angka 79.
Selain penurunan kecerdasan, anak juga mengalami penurunan kemampuan fisik ditandai dengan massa otot dan tulang lebih kecil, serta kekebalan tubuh lebih lemah akibat asupan makanan yang kurang.
Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini melalui pemantauan pertumbuhan. Bayi usia 0-12 bulan, harus selalu dipantau berat badan (BB), tinggi badan (TB), dan lingkar kepala (LK) setiap bulan. Selain itu, pemberian ASI maupun MPASI yang adekuat serta imunisasi yang tepat waktu juga penting untuk dilakukan.
"Jadi enggak bisa hanya dengan memberikan makan saja, lalu anak menjadi tinggi," katanya.
Faktor lainnya yang juga harus diperhatikan, misalnya tidur tepat waktu sebelum jam 21.00, serta tidak terbangun-bangun di malam hari agar kualitas tidur baik dan hormon pertumbuhan dapat bekerja optimal.
Peran asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sangat besar. Pada periode ini, kesehatan dan status gizi ibu, pemberian nutrisi yang tepat, serta imunisasi menjadi faktor dominan. Sementara faktor genetik hanya berperan 10 persen pada awal kehidupan, kemudian barulah berpengaruh besar ketika anak menginjak usia usia sekolah dan beranjak remaja.
“Kalau berat badan dan tinggi badan anak tidak naik, sebaiknya segera dicari tahu apakah asupan makan kurang atau ada penyakit penyerta yang mengganggu pertumbuhan si Kecil,” jelasnya.
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadi modal awal anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI memiliki komponen makronutrien seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang diperlukan dalam pembentukan sel tubuh serta menambah volume otak, otot, dan tulang.
Selain itu, juga mengandung zat bioaktif seperti antibodi, leukosit, dan enzim untuk menjaga kekebalan tubuh. Anak yang mendapat ASI eksklusif lebih jarang mengalami infeksi, sehingga melindunginya dari penyakit yang menghambat pertumbuhan.
Meski demikian, salah satu tantangan yang dihadapi orang tua dan keluarga di rumah adalah tingginya harga pangan bergizi. Namun, kita tetap bisa memberikan asupan gizi seimbang kepada anak, karena makanan bergizi untuk MPASI tidak harus mahal.
"Satu butir telur dengan harga sekitar Rp2.500 bisa menurunkan risiko stunting hingga 47 persen pada usia 1 tahun. Hati ayam juga kaya protein dan zat besi, harganya terjangkau sekitar Rp2.600,” kata dokter Cut.
Dia mengingatkan orang tua agar lebih memprioritaskan makanan bergizi ketimbang camilan tinggi gula-garam seperti keripik kentang atau permen.
Peran imunisasi dan pemeriksaan tumbuh kembang rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan juga penting untuk menurunkan prevalensi stunting. Imunisasi bisa melindungi anak dari penyakit infeksi, sehingga anak bebas sakit dan bisa mendapatkan kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai potensinya.
Ketika anak tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai target selama 1-2 bulan berturut-turut, maka perlu dilakukan intervensi segera dengan merujuk ke Puskesmas agar penyebabnya dapat dideteksi lebih dini.
Menakar Makanan Sehat dan Bergizi dengan Mudah
Consistania Ribuan, Dokter Spesialis Gizi Klinik, menyoroti pola konsumsi masyarakat yang terlalu sering makan makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan tinggi kalori. Selain itu, mereka juga lebih memilih produk Ultra Processed Food (UPF) dibandingkan real food, karena dinilai lebih simpel
Padahal tubuh manusia ibarat kendaraan yang membutuhkan “bahan bakar” berkualitas. Asupan makanan yang salah bisa membuat tubuh mudah lelah, rentan alergi, dan gampang sakit. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dysbiosis, yaitu ketidakseimbangan bakteri baik di usus.
“Kalau bakteri baik kelaparan karena kita jarang konsumsi serat dan real food, mereka akan digantikan bakteri jahat. Dampaknya bisa menurunkan imun, mengganggu hormon, bahkan memicu penyakit kronis,” jelasnya.
Dokter Consistania membagikan panduan sederhana untuk menakar asupan makanan sehat dan bergizi dengan ukuran tangan, seperti berikut ini:
- Karbohidrat: sebesar satu kepalan tangan
- Protein: setelapak tangan
- Lemak jahat: hanya seujung jempol. Misalnya mayonaise, cukup seujung jempol saja
- Lemak baik: kacang-kacangan, satu genggam
- Serat (sayur): dua genggam tangan
- Buah: satu genggam tangan
Dengan takaran sederhana tersebut, orang tua bisa menyusun menu makanan sehat dan bergizi tinggi untuk keluarga di rumah. Terakhir dia menekankan, bagi mereka yang masih suka menunda memulai pola hidup sehat, segera mulai dari sekarang.
"Enggak perlu makanan mahal, yang penting real food dan biasakan masak di rumah supaya tahu betul apa yang kita makan. Ingat, gaya hidup sehat itu investasi jangka panjang,” tutupnya.
Baca juga: Pentingnya Edukasi Gizi Demi Mencegah Penyakit Sejak Usia Dini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.