Mayoritas Warga Indonesia Punya Masalah Gigi dan Mulut, Tapi Hanya 11% yang Berobat
29 September 2025 |
09:56 WIB
Temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang digalakkan pemerintah menunjukkan hasil mencengangkan soal masalah gigi dan mulut masyarakat Indonesia. Setengah dari masyarakat Indonesia yang mengikuti program CKG diklaim mengalami masalah gigi dan mulut yang masih kerap dianggap sepele.
Padahal, dampak dari rusaknya gigi dan mulut ini bisa meluas hingga ke kesehatan organ vital lain. Infeksi pada gigi, misalnya, dapat menyebar ke aliran darah dan memicu gangguan jantung termasuk pada janin ketika infeksi dialami ibu hamil. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap masalah gigi yang sering terabaikan di masyarakat.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa isu ini belum terselesaikan. “Ini masih merupakan PR yang cukup besar. Dari data yang ada, mungkin kita melihat bahwa permasalahan gigi masih merupakan masalah yang harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Baca juga: BKGN 2025 Resmi Digelar, Siapkan 28.000 Layanan Perawatan Gigi & Gusi Gratis
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan 57% penduduk usia lebih dari 3 tahun mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2% atau sekitar 3 juta orang saja yang mencari pengobatan. Artinya, mayoritas penderita tidak mendapat perawatan medis yang seharusnya.
Karies masih mendominasi penyakit gigi yang dilaporkan. Nadia menjelaskan, meskipun indeks kerusakan gigi menurun dari 7,1 pada 2018 menjadi 5,4 pada 2023, angkanya relatif stagnan jika dibandingkan survei tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menunjukkan belum ada perubahan signifikan dalam kesehatan gigi masyarakat.
“Kalau masih sakit gigi saja, masih bisa ditahan ataupun menggunakan cara tradisional, maka masyarakat tidak datang ke pelayanan kesehatan. Padahal, sebenarnya kita harus tahu apa penyebab sakit gigi tersebut,” jelas Nadia.
Rendahnya kualitas kesehatan gigi banyak dipengaruhi perilaku sehari-hari. Sebagian besar masyarakat memang menyikat gigi setiap hari, tetapi waktunya tidak sesuai anjuran. Mayoritas hanya melakukannya pagi saat mandi dan malam sebelum tidur, padahal menyikat gigi yang benar seharusnya dilakukan setelah makan.
Selain itu, teknik menyikat gigi yang kurang tepat juga berperan. Nadia menyebut, banyak orang juga hanya menggosok gigi selama 1 menit tanpa membersihkan seluruh permukaan gigi dan gusi. Akibatnya, plak tetap menempel dan memicu karies maupun radang gusi.
Konsumsi makanan manis sejak usia dini menambah persoalan. Pemberian permen kepada anak sebagai bentuk hiburan atau penenang sudah menjadi budaya yang melekat. Namun sayangnya, sering kali tidak diimbangi dengan kebiasaan menyikat gigi. Kondisi ini membuat anak-anak usia prasekolah hingga sekolah dasar banyak mengalami kerusakan gigi susu.
Masalah gigi tidak hanya menimbulkan rasa sakit atau gigi tanggal. Ini juga berisiko menimbulkan penyakit serius. Infeksi gigi dapat masuk ke peredaran darah dan memicu komplikasi di organ lain. Pada ibu hamil, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko infeksi jantung bawaan pada bayi.
Kerusakan gigi pada anak-anak berdampak pada pola makan, perkembangan bicara, hingga pertumbuhan gigi permanen. Pada usia dewasa, masalah gigi yang tidak dirawat bisa menyebabkan gangguan produktivitas, sementara pada lansia, gigi yang tanggal atau ompong membatasi kualitas hidup.
Di sisi lain, tantangan lainnya juga datang dari keterbatasan tenaga kesehatan. Saat ini, Nadia menyebut baru sekitar 73% puskesmas yang memiliki dokter gigi. Sementara sekitar 30% diantaranya masih belum memiliki tenaga khusus layanan gigi sama sekali. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 280 juta jiwa, Nadia menilai ketersediaan SDM ini belum mencukupi.
Saat ini, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan berbagai langkah untuk menekan prevalensi masalah gigi. Pemeriksaan kesehatan gratis kini mencakup deteksi dini gigi berlubang, karies, maupun radang gusi. “Kira-kira sudah lebih dari 20 juta orang usia 18 tahun yang ikut serta,” katanya.
Untuk usia anak, program edukasi kesehatan gigi juga diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dasar disertai kegiatan seperti sikat gigi bersama yang dihidupkan kembali.
Selain itu, pemberian fluoride topikal mulai diterapkan sebagai langkah preventif bagi anak-anak dengan risiko karies tinggi. Pemerintah juga berupaya menambah jumlah dokter gigi dan terapis gigi termasuk melalui program rekrutmen ASN dan penempatan khusus di puskesmas.
Siapa sangka, kesehatan gigi dan mulut bisa berdampak pada status gizi anak. Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Usman Sumantri menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa lagi dianggap ringan.
“Kesehatan gigi sering sekali diabaikan di masyarakat kita, padahal pengaruhnya langsung pada kualitas hidup, produktivitas, dan kesehatan secara umum,” ujarnya.
Usman menyayangkan lebih dari separuh masyarakat yang mengalami kesehatan gigi dan mulut, tapi akses layanan kesehatan gigi hanya di rata-rata 10-11% saja. Jika ditarik balik dengan data Riskesdas 2018. kondisi ini tidak jauh berbeda. Artinya, ini menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi di Indonesia masih sangat tinggi dan relatif stagnan meski sudah 5 tahun berselang.
Meski 94,7% masyarakat Indonesia menyikat gigi, hanya 2,8% saja yang melakukannya dengan benar pada waktu yang tepat. Hal ini menyebabkan karies, gigi ompong, dan penyakit gusi tetap mendominasi di berbagai kelompok usia. Rendahnya literasi kesehatan dan kebiasaan pencegahan membuat permasalahan gigi menempati peringkat satu hingga dua dalam hasil pemeriksaan kesehatan gratis di berbagai daerah.
Menurut Usman, rendahnya kunjungan ke dokter gigi dipengaruhi oleh beberapa hal. “Ada rasa takut secara psikis menghadapi alat-alat dokter gigi, dan ada juga ketakutan terhadap biaya yang mahal. Walaupun sebagian besar sudah bisa menggunakan BPJS, alternatif di luar itu banyak yang belum terdeteksi,” jelasnya.
Padahal, Usman menyarankan agar masyarakat rutin memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali untuk memastikan gigi dan mulut sehat.
Selain perilaku menyikat gigi, konsumsi gula juga menjadi perhatian penting. Pada pertemuan negara-negara Asia di Malaysia Agustus 2025 lalu, Usman mengatakan isu konsumsi gula tinggi menjadi pembahasan utama. Negara-negara peserta termasuk Indonesia menyepakati perlunya kebijakan membatasi asupan gula dari produk industri makanan khususnya bagi anak-anak.
PDGI menilai hal ini harus diikuti dengan political will pemerintah terutama dalam regulasi industri makanan. Pajak gula, pembatasan iklan produk tinggi gula, serta kebijakan sekolah sehat dinilai sebagai langkah yang perlu dipertimbangkan.
Di sisi lain, ketidakmerataan tenaga kesehatan juga menjadi hambatan. Dari sekitar 73% puskesmas yang memiliki dokter gigi, 26% lainnya masih belum bisa memberikan layanan tersebut. Secara nasional, PDGI mencatat baru terdapat sekitar 63.000 dokter gigi dengan 5.000 di antaranya spesialis. Sebagian besar berpusat di kota-kota besar sehingga distribusi tidak merata di daerah.
Usman menekankan, program PDGI terus menitikberatkan pada promotif dan preventif. Edukasi kesehatan gigi, skrining massal, pemberian perawatan dasar di sekolah, hingga depurasi karang gigi untuk anak-anak menjadi fokus utama. Layanan ini melibatkan ribuan dokter gigi di lebih dari 55 cabang dengan target kegiatan berlangsung sejak September hingga Desember 2025 secara gratis.
Baca juga: Ternyata Ini Masalah Gigi Paling Umum di Indonesia dan Cara Menjaganya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Padahal, dampak dari rusaknya gigi dan mulut ini bisa meluas hingga ke kesehatan organ vital lain. Infeksi pada gigi, misalnya, dapat menyebar ke aliran darah dan memicu gangguan jantung termasuk pada janin ketika infeksi dialami ibu hamil. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap masalah gigi yang sering terabaikan di masyarakat.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa isu ini belum terselesaikan. “Ini masih merupakan PR yang cukup besar. Dari data yang ada, mungkin kita melihat bahwa permasalahan gigi masih merupakan masalah yang harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Baca juga: BKGN 2025 Resmi Digelar, Siapkan 28.000 Layanan Perawatan Gigi & Gusi Gratis
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan 57% penduduk usia lebih dari 3 tahun mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2% atau sekitar 3 juta orang saja yang mencari pengobatan. Artinya, mayoritas penderita tidak mendapat perawatan medis yang seharusnya.
Karies masih mendominasi penyakit gigi yang dilaporkan. Nadia menjelaskan, meskipun indeks kerusakan gigi menurun dari 7,1 pada 2018 menjadi 5,4 pada 2023, angkanya relatif stagnan jika dibandingkan survei tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menunjukkan belum ada perubahan signifikan dalam kesehatan gigi masyarakat.
“Kalau masih sakit gigi saja, masih bisa ditahan ataupun menggunakan cara tradisional, maka masyarakat tidak datang ke pelayanan kesehatan. Padahal, sebenarnya kita harus tahu apa penyebab sakit gigi tersebut,” jelas Nadia.
Rendahnya kualitas kesehatan gigi banyak dipengaruhi perilaku sehari-hari. Sebagian besar masyarakat memang menyikat gigi setiap hari, tetapi waktunya tidak sesuai anjuran. Mayoritas hanya melakukannya pagi saat mandi dan malam sebelum tidur, padahal menyikat gigi yang benar seharusnya dilakukan setelah makan.
Selain itu, teknik menyikat gigi yang kurang tepat juga berperan. Nadia menyebut, banyak orang juga hanya menggosok gigi selama 1 menit tanpa membersihkan seluruh permukaan gigi dan gusi. Akibatnya, plak tetap menempel dan memicu karies maupun radang gusi.
Konsumsi makanan manis sejak usia dini menambah persoalan. Pemberian permen kepada anak sebagai bentuk hiburan atau penenang sudah menjadi budaya yang melekat. Namun sayangnya, sering kali tidak diimbangi dengan kebiasaan menyikat gigi. Kondisi ini membuat anak-anak usia prasekolah hingga sekolah dasar banyak mengalami kerusakan gigi susu.
Masalah gigi tidak hanya menimbulkan rasa sakit atau gigi tanggal. Ini juga berisiko menimbulkan penyakit serius. Infeksi gigi dapat masuk ke peredaran darah dan memicu komplikasi di organ lain. Pada ibu hamil, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko infeksi jantung bawaan pada bayi.
Kerusakan gigi pada anak-anak berdampak pada pola makan, perkembangan bicara, hingga pertumbuhan gigi permanen. Pada usia dewasa, masalah gigi yang tidak dirawat bisa menyebabkan gangguan produktivitas, sementara pada lansia, gigi yang tanggal atau ompong membatasi kualitas hidup.
Di sisi lain, tantangan lainnya juga datang dari keterbatasan tenaga kesehatan. Saat ini, Nadia menyebut baru sekitar 73% puskesmas yang memiliki dokter gigi. Sementara sekitar 30% diantaranya masih belum memiliki tenaga khusus layanan gigi sama sekali. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 280 juta jiwa, Nadia menilai ketersediaan SDM ini belum mencukupi.
Saat ini, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan berbagai langkah untuk menekan prevalensi masalah gigi. Pemeriksaan kesehatan gratis kini mencakup deteksi dini gigi berlubang, karies, maupun radang gusi. “Kira-kira sudah lebih dari 20 juta orang usia 18 tahun yang ikut serta,” katanya.
Untuk usia anak, program edukasi kesehatan gigi juga diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dasar disertai kegiatan seperti sikat gigi bersama yang dihidupkan kembali.
Selain itu, pemberian fluoride topikal mulai diterapkan sebagai langkah preventif bagi anak-anak dengan risiko karies tinggi. Pemerintah juga berupaya menambah jumlah dokter gigi dan terapis gigi termasuk melalui program rekrutmen ASN dan penempatan khusus di puskesmas.
Masyarakat Indonesia Masih Salah dalam Menyikat Gigi

Ilustrasi menyikat gigi (Sumber gambar: Pexels)
“Kesehatan gigi sering sekali diabaikan di masyarakat kita, padahal pengaruhnya langsung pada kualitas hidup, produktivitas, dan kesehatan secara umum,” ujarnya.
Usman menyayangkan lebih dari separuh masyarakat yang mengalami kesehatan gigi dan mulut, tapi akses layanan kesehatan gigi hanya di rata-rata 10-11% saja. Jika ditarik balik dengan data Riskesdas 2018. kondisi ini tidak jauh berbeda. Artinya, ini menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi di Indonesia masih sangat tinggi dan relatif stagnan meski sudah 5 tahun berselang.
Meski 94,7% masyarakat Indonesia menyikat gigi, hanya 2,8% saja yang melakukannya dengan benar pada waktu yang tepat. Hal ini menyebabkan karies, gigi ompong, dan penyakit gusi tetap mendominasi di berbagai kelompok usia. Rendahnya literasi kesehatan dan kebiasaan pencegahan membuat permasalahan gigi menempati peringkat satu hingga dua dalam hasil pemeriksaan kesehatan gratis di berbagai daerah.
Menurut Usman, rendahnya kunjungan ke dokter gigi dipengaruhi oleh beberapa hal. “Ada rasa takut secara psikis menghadapi alat-alat dokter gigi, dan ada juga ketakutan terhadap biaya yang mahal. Walaupun sebagian besar sudah bisa menggunakan BPJS, alternatif di luar itu banyak yang belum terdeteksi,” jelasnya.
Padahal, Usman menyarankan agar masyarakat rutin memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali untuk memastikan gigi dan mulut sehat.
Selain perilaku menyikat gigi, konsumsi gula juga menjadi perhatian penting. Pada pertemuan negara-negara Asia di Malaysia Agustus 2025 lalu, Usman mengatakan isu konsumsi gula tinggi menjadi pembahasan utama. Negara-negara peserta termasuk Indonesia menyepakati perlunya kebijakan membatasi asupan gula dari produk industri makanan khususnya bagi anak-anak.
PDGI menilai hal ini harus diikuti dengan political will pemerintah terutama dalam regulasi industri makanan. Pajak gula, pembatasan iklan produk tinggi gula, serta kebijakan sekolah sehat dinilai sebagai langkah yang perlu dipertimbangkan.
Di sisi lain, ketidakmerataan tenaga kesehatan juga menjadi hambatan. Dari sekitar 73% puskesmas yang memiliki dokter gigi, 26% lainnya masih belum bisa memberikan layanan tersebut. Secara nasional, PDGI mencatat baru terdapat sekitar 63.000 dokter gigi dengan 5.000 di antaranya spesialis. Sebagian besar berpusat di kota-kota besar sehingga distribusi tidak merata di daerah.
Usman menekankan, program PDGI terus menitikberatkan pada promotif dan preventif. Edukasi kesehatan gigi, skrining massal, pemberian perawatan dasar di sekolah, hingga depurasi karang gigi untuk anak-anak menjadi fokus utama. Layanan ini melibatkan ribuan dokter gigi di lebih dari 55 cabang dengan target kegiatan berlangsung sejak September hingga Desember 2025 secara gratis.
Baca juga: Ternyata Ini Masalah Gigi Paling Umum di Indonesia dan Cara Menjaganya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.