Program Cek Kesehatan Gratis Dongkrak Permintaan Alat Kesehatan Dalam Negeri
08 August 2025 |
07:00 WIB
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang tengah digencarkan pemerintah tidak hanya berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini penyakit, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan industri alat kesehatan dalam negeri.
Melalui program ini, Indonesia menargetkan 50 juta warga mengikuti skrining kesehatan secara gratis hingga akhir tahun 2025. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hingga pertengahan tahun ini tercatat lebih dari 16 juta masyarakat telah mengikuti program CKG di berbagai daerah.
Baca juga: Dimulai 4 Agustus, Program Cek Kesehatan Gratis Sasar 53 Juta Siswa Hingga Akhir 2025
Hal ini memicu lonjakan permintaan terhadap alat-alat kesehatan dasar seperti tensimeter, alat cek gula darah, timbangan digital, portable EKG, hingga peralatan diagnostik ringan lainnya.
“Dengan masifnya program skrining, terbuka peluang besar bagi produsen dan distributor alat kesehatan nasional untuk menyediakan produk berkualitas yang dapat menjangkau hingga pelosok daerah,” ujar Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI Rizka Andalucia dalam sambutannya di Indohealthcare Gakeslab Expo 2025.
Gelaran Indo Healthcare Gakeslab Expo 2025 yang berlangsung pada 6–8 Agustus di JIExpo Kemayoran ini menjadi momentum penting bagi para pelaku industri alat kesehatan nasional untuk menampilkan inovasi mereka. Diselenggarakan oleh Krista Exhibition bekerja sama dengan Gakeslab Indonesia, acara ini diikuti oleh 60 peserta dari 12 negara, termasuk Indonesia.
CEO Krista Exhibition, Daud D. Salim, menegaskan pentingnya momentum ini dalam membangun kepercayaan terhadap kemampuan industri nasional. “Kita tidak bisa terus menerus bergantung pada impor. Melalui pameran ini, kita tunjukkan bahwa produk dalam negeri pun kini telah memiliki kualitas dan spesifikasi yang mampu bersaing di pasar internasional,” tegasnya.
Menurut Daud, permintaan terhadap produk barang habis pakai (consumable) meningkat drastis dalam mendukung program CKG. Saat ini, banyak produsen lokal yang telah memproduksi alat-alat seperti sarung tangan, alat suntik, masker medis, dan rapid test kit secara mandiri.
Bahkan beberapa di antaranya telah memperoleh Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dan menembus pasar ekspor. Salah satunya adalah OneMed, produsen alat kesehatan nasional yang telah memproduksi lebih dari 7.500 jenis produk, mulai dari plester anti air, masker medis, syringe, hingga selang infus.
Ferry, Product Manager OneMed mengatakan, produk-produk mereka saat ini tidak hanya digunakan di rumah sakit, klinik, dan puskesmas di seluruh Indonesia, tapi juga telah menembus pasar ekspor seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, hingga India.
“Untuk produk seperti plester dan alat habis pakai lainnya, kami sudah produksi sendiri di pabrik kami di Mojoagung, Jombang, lewat PT Jayamas Industri. TKDN kami untuk banyak produk sudah mencapai 100 persen,” ujar Ferry.
Meski persaingan dengan produk luar cukup ketat, OneMed optimistis bersaing dari segi harga dan kualitas. Mereka juga aktif memperluas distribusi melalui 37 cabang di berbagai wilayah Indonesia dan menawarkan paket hemat bagi fasilitas kesehatan serta ritel modern.
Ferry menyebut pertumbuhan omzet perusahaan mencapai 18?lam setahun terakhir, seiring meningkatnya permintaan dari sektor layanan kesehatan primer dan dukungan pemerintah terhadap penggunaan produk lokal.
Meskipun lebih dari 90% alat kesehatan berteknologi tinggi masih diimpor, pemerintah terus mendorong produsen dalam negeri untuk naik kelas, dari produk dasar menuju alat berteknologi menengah seperti CT Scan, Ventilator, hingga Mesin Anestesi.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa saat ini Indonesia telah mampu memproduksi lebih dari 450 jenis alat kesehatan, termasuk hospital bed, jarum suntik, dan tensimeter. Produk-produk ini kini telah memasuki pasar internasional di kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan Asia.
Sejak era Presiden Joko Widodo, pemerintah juga telah menghentikan pengadaan alat kesehatan impor jika produk serupa bisa dibuat di dalam negeri. Pasalnya, menurut data Bank Dunia, belanja alat kesehatan Indonesia mencapai Rp200 triliun per tahun, sebuah potensi substitusi impor yang sangat besar.
Lebih dari sekadar program kesehatan, CKG menjadi strategi negara dalam mendorong akselerasi industri alat kesehatan dalam negeri. Pemerintah menargetkan bahwa pada tahun 2030, 70% alat kesehatan yang digunakan di fasilitas kesehatan Indonesia merupakan produksi lokal.
Upaya ini diiringi dengan berbagai insentif dan fasilitasi seperti sertifikasi TKDN, kemudahan masuk e-katalog sektoral kesehatan, program pelatihan SDM industri alat kesehatan, serta kemitraan dengan rumah sakit dan puskesmas di berbagai daerah. Apalagi saat ini pemerintah telah menjadikan industri alat kesehatan sebagai salah satu sektor prioritas dalam program Making Indonesia 4.0.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui program ini, Indonesia menargetkan 50 juta warga mengikuti skrining kesehatan secara gratis hingga akhir tahun 2025. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hingga pertengahan tahun ini tercatat lebih dari 16 juta masyarakat telah mengikuti program CKG di berbagai daerah.
Baca juga: Dimulai 4 Agustus, Program Cek Kesehatan Gratis Sasar 53 Juta Siswa Hingga Akhir 2025
Hal ini memicu lonjakan permintaan terhadap alat-alat kesehatan dasar seperti tensimeter, alat cek gula darah, timbangan digital, portable EKG, hingga peralatan diagnostik ringan lainnya.
“Dengan masifnya program skrining, terbuka peluang besar bagi produsen dan distributor alat kesehatan nasional untuk menyediakan produk berkualitas yang dapat menjangkau hingga pelosok daerah,” ujar Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI Rizka Andalucia dalam sambutannya di Indohealthcare Gakeslab Expo 2025.
Gelaran Indo Healthcare Gakeslab Expo 2025 yang berlangsung pada 6–8 Agustus di JIExpo Kemayoran ini menjadi momentum penting bagi para pelaku industri alat kesehatan nasional untuk menampilkan inovasi mereka. Diselenggarakan oleh Krista Exhibition bekerja sama dengan Gakeslab Indonesia, acara ini diikuti oleh 60 peserta dari 12 negara, termasuk Indonesia.
CEO Krista Exhibition, Daud D. Salim, menegaskan pentingnya momentum ini dalam membangun kepercayaan terhadap kemampuan industri nasional. “Kita tidak bisa terus menerus bergantung pada impor. Melalui pameran ini, kita tunjukkan bahwa produk dalam negeri pun kini telah memiliki kualitas dan spesifikasi yang mampu bersaing di pasar internasional,” tegasnya.
Menurut Daud, permintaan terhadap produk barang habis pakai (consumable) meningkat drastis dalam mendukung program CKG. Saat ini, banyak produsen lokal yang telah memproduksi alat-alat seperti sarung tangan, alat suntik, masker medis, dan rapid test kit secara mandiri.
Bahkan beberapa di antaranya telah memperoleh Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dan menembus pasar ekspor. Salah satunya adalah OneMed, produsen alat kesehatan nasional yang telah memproduksi lebih dari 7.500 jenis produk, mulai dari plester anti air, masker medis, syringe, hingga selang infus.
Ferry, Product Manager OneMed mengatakan, produk-produk mereka saat ini tidak hanya digunakan di rumah sakit, klinik, dan puskesmas di seluruh Indonesia, tapi juga telah menembus pasar ekspor seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, hingga India.
“Untuk produk seperti plester dan alat habis pakai lainnya, kami sudah produksi sendiri di pabrik kami di Mojoagung, Jombang, lewat PT Jayamas Industri. TKDN kami untuk banyak produk sudah mencapai 100 persen,” ujar Ferry.
Meski persaingan dengan produk luar cukup ketat, OneMed optimistis bersaing dari segi harga dan kualitas. Mereka juga aktif memperluas distribusi melalui 37 cabang di berbagai wilayah Indonesia dan menawarkan paket hemat bagi fasilitas kesehatan serta ritel modern.
Ferry menyebut pertumbuhan omzet perusahaan mencapai 18?lam setahun terakhir, seiring meningkatnya permintaan dari sektor layanan kesehatan primer dan dukungan pemerintah terhadap penggunaan produk lokal.
Meskipun lebih dari 90% alat kesehatan berteknologi tinggi masih diimpor, pemerintah terus mendorong produsen dalam negeri untuk naik kelas, dari produk dasar menuju alat berteknologi menengah seperti CT Scan, Ventilator, hingga Mesin Anestesi.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa saat ini Indonesia telah mampu memproduksi lebih dari 450 jenis alat kesehatan, termasuk hospital bed, jarum suntik, dan tensimeter. Produk-produk ini kini telah memasuki pasar internasional di kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan Asia.
Sejak era Presiden Joko Widodo, pemerintah juga telah menghentikan pengadaan alat kesehatan impor jika produk serupa bisa dibuat di dalam negeri. Pasalnya, menurut data Bank Dunia, belanja alat kesehatan Indonesia mencapai Rp200 triliun per tahun, sebuah potensi substitusi impor yang sangat besar.
Lebih dari sekadar program kesehatan, CKG menjadi strategi negara dalam mendorong akselerasi industri alat kesehatan dalam negeri. Pemerintah menargetkan bahwa pada tahun 2030, 70% alat kesehatan yang digunakan di fasilitas kesehatan Indonesia merupakan produksi lokal.
Upaya ini diiringi dengan berbagai insentif dan fasilitasi seperti sertifikasi TKDN, kemudahan masuk e-katalog sektoral kesehatan, program pelatihan SDM industri alat kesehatan, serta kemitraan dengan rumah sakit dan puskesmas di berbagai daerah. Apalagi saat ini pemerintah telah menjadikan industri alat kesehatan sebagai salah satu sektor prioritas dalam program Making Indonesia 4.0.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.