Startup Mahasiswa RI Manfaatkan AI Buka Akses Informasi Ekonomi ke Investor Global
26 September 2025 |
10:00 WIB
Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menyumbang sekitar 36,7% total produk domestik bruto (PDB) kawasan. Besarnya porsi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan, sekaligus peluang besar bagi para investor global.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap karena hambatan informasi dan keterbatasan akses data yang komprehensif. Realisasi investasi asing langsung (FDI) masih relatif tertinggal dibandingkan Vietnam atau Malaysia. Salah satu faktornya adalah akses informasi.
Baca juga: Bikin Untung, Banyak Perusahaan Indonesia Pilih Investasi AI Open Source
Pemerintah Indonesia sebetulnya sangat gencar mendorong hilirisasi nikel, energi terbarukan, hingga transformasi digital.
Hanya saja, sebagian besar berita ekonomi dan kebijakan masih ditulis dalam bahasa Indonesia, sementara investor mancanegara membutuhkan data cepat, ringkas, dan berbahasa internasional.
Celah inilah yang kemudian ditangkap oleh dua pelajar Indonesia, Kimderson Ho dan Kimderren Ho, yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melahirkan IFC News Portal, sebuah platform berita finansial yang berusaha menjembatani kebutuhan informasi lintas bahasa dan waktu.
“Potensi Indonesia sangat besar, tetapi seringkali tidak terlihat di luar negeri karena hambatan bahasa dan fragmentasi informasi,” ujar Kimderson Ho, mahasiswa University of Melbourne, sekaligus salah satu pendiri portal.
Alih-alih hanya melihat masalah, kedua anak muda ini mencoba mengeksekusinya dengan pendekatan teknologi. IFC News Portal menggunakan natural language processing (NLP) untuk membaca ribuan artikel ekonomi setiap hari. Kontennya kemudian diringkas dan diterjemahkan ke bahasa Inggris serta Mandarin, dengan pengelompokan berdasarkan sektor seperti energi, perbankan, manufaktur, hingga teknologi.
Mereka juga menambahkan agen AI untuk melakukan verifikasi silang antar sumber, serta algoritme rekomendasi agar pembaca hanya menerima informasi yang relevan.
Tidak berhenti di situ, IFC sedang mengembangkan model prediktif berbasis pembelajaran mesin untuk membaca tren harga energi, kebijakan suku bunga, hingga arah investasi industri.
“Kalau sebelumnya investor perlu berjam-jam membaca banyak laporan, sekarang hanya butuh hitungan menit untuk mendapatkan intisarinya,” jelas Kimderren Ho, co-founder yang juga masih menempuh pendidikan di Cambridge.
Sejak diluncurkan secara terbatas, portal ini mencatat pertumbuhan pengguna dengan kecepatan dua digit setiap minggu. Ribuan artikel telah diproses setiap bulan, dengan pengguna awal berasal dari analis modal ventura, peneliti, hingga korporasi di Singapura, Hong Kong, dan London.
Saat ini IFC News Portal masih dibuka secara gratis, tetapi tidak menutup kemungkinan akan menambahkan layanan analisis premium di masa depan. Rencana jangka panjangnya adalah memperluas cakupan ke kawasan Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai basis utama.
Namun, perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Sebagai pelajar yang membangun bisnis lintas negara, mereka perlu menghadapi keterbatasan sumber daya, membangun kredibilitas di hadapan investor senior, serta menjaga keseimbangan antara studi dan pengembangan startup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap karena hambatan informasi dan keterbatasan akses data yang komprehensif. Realisasi investasi asing langsung (FDI) masih relatif tertinggal dibandingkan Vietnam atau Malaysia. Salah satu faktornya adalah akses informasi.
Baca juga: Bikin Untung, Banyak Perusahaan Indonesia Pilih Investasi AI Open Source
Pemerintah Indonesia sebetulnya sangat gencar mendorong hilirisasi nikel, energi terbarukan, hingga transformasi digital.
Hanya saja, sebagian besar berita ekonomi dan kebijakan masih ditulis dalam bahasa Indonesia, sementara investor mancanegara membutuhkan data cepat, ringkas, dan berbahasa internasional.
Celah inilah yang kemudian ditangkap oleh dua pelajar Indonesia, Kimderson Ho dan Kimderren Ho, yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melahirkan IFC News Portal, sebuah platform berita finansial yang berusaha menjembatani kebutuhan informasi lintas bahasa dan waktu.
“Potensi Indonesia sangat besar, tetapi seringkali tidak terlihat di luar negeri karena hambatan bahasa dan fragmentasi informasi,” ujar Kimderson Ho, mahasiswa University of Melbourne, sekaligus salah satu pendiri portal.
Alih-alih hanya melihat masalah, kedua anak muda ini mencoba mengeksekusinya dengan pendekatan teknologi. IFC News Portal menggunakan natural language processing (NLP) untuk membaca ribuan artikel ekonomi setiap hari. Kontennya kemudian diringkas dan diterjemahkan ke bahasa Inggris serta Mandarin, dengan pengelompokan berdasarkan sektor seperti energi, perbankan, manufaktur, hingga teknologi.
Mereka juga menambahkan agen AI untuk melakukan verifikasi silang antar sumber, serta algoritme rekomendasi agar pembaca hanya menerima informasi yang relevan.
Tidak berhenti di situ, IFC sedang mengembangkan model prediktif berbasis pembelajaran mesin untuk membaca tren harga energi, kebijakan suku bunga, hingga arah investasi industri.
“Kalau sebelumnya investor perlu berjam-jam membaca banyak laporan, sekarang hanya butuh hitungan menit untuk mendapatkan intisarinya,” jelas Kimderren Ho, co-founder yang juga masih menempuh pendidikan di Cambridge.
Sejak diluncurkan secara terbatas, portal ini mencatat pertumbuhan pengguna dengan kecepatan dua digit setiap minggu. Ribuan artikel telah diproses setiap bulan, dengan pengguna awal berasal dari analis modal ventura, peneliti, hingga korporasi di Singapura, Hong Kong, dan London.
Saat ini IFC News Portal masih dibuka secara gratis, tetapi tidak menutup kemungkinan akan menambahkan layanan analisis premium di masa depan. Rencana jangka panjangnya adalah memperluas cakupan ke kawasan Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai basis utama.
Namun, perjalanan ini tentu tidak tanpa tantangan. Sebagai pelajar yang membangun bisnis lintas negara, mereka perlu menghadapi keterbatasan sumber daya, membangun kredibilitas di hadapan investor senior, serta menjaga keseimbangan antara studi dan pengembangan startup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.