Syuting dengan Kru Korea, Film Keadilan: The Verdict Terapkan Sistem Produksi Sehat
26 September 2025 |
14:30 WIB
1
Like
Like
Like
Industri film kerap diwarnai cerita tentang padatnya jadwal produksi, jam kerja panjang, hingga kelelahan kru dan pemain. Situasi ini sering dianggap sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dalam menciptakan karya layar lebar. Namun, belakangan sejumlah rumah produksi mulai menerapkan standar baru untuk menciptakan syuting yang lebih sehat.
Sutradara Yusron Fuadi mengatakan bahwa penerapan konsep syuting sehat di Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Dalam film terbarunya Keadilan: The Verdict yang disutradarai berdua dengan sineas Korea Selatan, Lee Chang Hee, keduanya mencoba berkomitmen menciptakan standar syuting baru yang mengedepankan keseimbangan, keselamatan, dan kesejahteraan para pemain maupun kru di balik layar.
Baca juga: Tantangan Elang El Gibran Bangun Akting Stillness di Film The Verdict: Keadilan
"Jadi, di film ini, selain sutradara, juga ada 20 persen kru itu dari Korea Selatan. Dan mereka kan punya maksimum kerja. Itu kemudian kita coba pakai dan dijadikan syuting sehat," ungkap Yusron.
Belajar dari disiplin kerja kru Korea, Yusron melihat langsung bagaimana sebuah produksi film dapat berjalan sehat tanpa harus mengorbankan tenaga para kru. Meskipun skala proyek ini besar karena melibatkan rumah produksi dari dua negara, aturan jam kerja ketat nyatanya tetap diterapkan.
Baginya, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa pola kerja sehat sangat mungkin juga untuk dijalankan dalam industri film Indonesia. Yusron berharap penerapan metode ini bisa memberi pengaruh positif lebih luas.
Dia meyakini, jika efek berantai atau ripple effect dari praktik tersebut berhasil, bukan tak mungkin hal ini bisa menjadi standar baru dalam proses produksi di Tanah Air.
"Ternyata bisa loh syuting film bagus, yang entertaining, tanpa membuat kru tipes misalnya," imbuhnya.
Yusron menyampaikan bahwa proses syuting film ini berlangsung dengan lancar berkat penerapan jam kerja yang teratur. Hal tersebut membuat para kru dapat bekerja secara lebih terstruktur sekaligus menjaga efektivitas produksi. Kendati demikian, ruang untuk improvisasi tetap dibuka sehingga energi kreatif para pelaku film tidak sepenuhnya terbatasi oleh sistem yang disiplin.
Dalam kolaborasi ini, Yusron berbagi peran dengan sutradara Lee Chang Hee. Dirinya lebih fokus pada akting dan pengadeganan, sedangkan Lee menekankan blogging dan staging. Pembagian ini menciptakan keseimbangan yang efektif, menjaga kualitas teknis sekaligus memperkuat dimensi artistik dari setiap adegan.
Salah satu momen menarik terjadi saat pengambilan adegan aksi Rio Dewanto yang mengendarai mobil tanpa stuntman. Awalnya, adegan tersebut direncanakan dengan banyak potongan kamera sesuai storyboard. Namun, Yusron mengusulkan untuk menjadikannya sebuah one long take.
"Waktu itu, usulan diterima dan ternyata berhasil juga. Jadi, kita bisa memangkas waktu syuting yang tadinya diperkirakan lima jam karena mesti banyak angle, menjadi jauh lebih singkat, tanpa mengurangi intensitas adegan," jelasnya.
Dari pengalaman tersebut, Yusron belajar tentang profesionalitas dan efektivitas. Lebih jauh, Yusron menilai keberhasilan penerapan syuting sehat ini bisa menjadi momentum transformasi dalam industri film Indonesia.
Selama ini, beban kerja berlebihan sering dianggap konsekuensi yang tidak terhindarkan. Namun pengalaman ini membuktikan bahwa sistem yang lebih manusiawi justru meningkatkan produktivitas dan kualitas. Jika diadopsi lebih luas, standar baru ini dapat mengubah wajah perfilman Indonesia menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Aktor Reza Rahadian juga mengungkapkan pengalaman positifnya selama terlibat dalam proses produksi film Keadilan: The Verdict. Dia menilai sistem kerja yang diterapkan dalam film tersebut sangat terstruktur, yang mana sebenarnya ini telah menjadi karakteristik yang kerap melekat pada industri perfilman Korea Selatan.
Bagi Reza, disiplin dan keteraturan itu menghadirkan suasana produksi yang berbeda. Reza secara khusus juga menyoroti lingkungan kerja yang sehat dan sistematis. Kejelasan jam kerja serta penerapan disiplin waktu dianggap sebagai faktor utama yang membuat proses produksi berjalan efisien.
Menurutnya, suasana yang terbangun tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperlihatkan tingkat profesionalisme tinggi yang mendukung kualitas hasil akhir film. Dari pengalamannya tersebut, Reza berharap praktik serupa dapat semakin banyak diterapkan dalam industri film nasional.
Menurutnya, model kerja terstruktur tidak hanya menjaga kesehatan dan kesejahteraan para pelaku film, tetapi juga mendorong terciptanya standar baru dalam produksi. Jika pola ini terus berkembang, industri film Indonesia berpeluang besar meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat kolaborasi internasional.
"Yang pasti produksinya menyenangkan, prosesnya, syutingnya sangat sehat, jam kerjanya clear, kemudian ada kedisiplinan yang bisa kita pelajari juga," ujar Reza Rahadian
Film Keadilan: The Verdict digarap oleh kolaborasi rumah produksi asal Indonesia, MD Pictures, dengan PH asal Korea Selatan, A Innikor Pictures dan JNC Media Group. Film ini juga mendapat arahan dari dua sutradara lintas negara, yakni Yusron Fuadi dan Lee Chang-hee.
Keadilan: The Verdict bercerita tentang Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang jujur merasa gelisah menyaksikan hukum dimanipulasi oleh uang, koneksi, dan kebohongan.
Hingga akhirnya, istrinya sendiri, Nina (Niken Anjani), pengacara muda yang sedang hamil menjadi korban kejahatan brutal dari anak orang kaya yang mendapat perlindungan dari seorang pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian).
Terjebak dalam sistem yang korup dan sosial media yang mudah dipengaruhi, Raka perlahan kehilangan keyakinannya, hingga dia pun memutuskan untuk mengambil alih persidangan dengan pistol di tangannya. Film yang naskahnya ditulis Yoon Hyeon-ho ini akan dikemas dalam balutan drama dan thriller.
Film yang dibintangi Rio Dewanto, Reza Rahadian, Niken Anjani, Dian Nitami, Elang El Gibran, Karina Salim, Dimas Aditya, Eduward Manalu, Tyan Anugrah, Vonny Anggraini ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 November 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sutradara Yusron Fuadi mengatakan bahwa penerapan konsep syuting sehat di Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Dalam film terbarunya Keadilan: The Verdict yang disutradarai berdua dengan sineas Korea Selatan, Lee Chang Hee, keduanya mencoba berkomitmen menciptakan standar syuting baru yang mengedepankan keseimbangan, keselamatan, dan kesejahteraan para pemain maupun kru di balik layar.
Baca juga: Tantangan Elang El Gibran Bangun Akting Stillness di Film The Verdict: Keadilan
"Jadi, di film ini, selain sutradara, juga ada 20 persen kru itu dari Korea Selatan. Dan mereka kan punya maksimum kerja. Itu kemudian kita coba pakai dan dijadikan syuting sehat," ungkap Yusron.
Belajar dari disiplin kerja kru Korea, Yusron melihat langsung bagaimana sebuah produksi film dapat berjalan sehat tanpa harus mengorbankan tenaga para kru. Meskipun skala proyek ini besar karena melibatkan rumah produksi dari dua negara, aturan jam kerja ketat nyatanya tetap diterapkan.
Baginya, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa pola kerja sehat sangat mungkin juga untuk dijalankan dalam industri film Indonesia. Yusron berharap penerapan metode ini bisa memberi pengaruh positif lebih luas.
Dia meyakini, jika efek berantai atau ripple effect dari praktik tersebut berhasil, bukan tak mungkin hal ini bisa menjadi standar baru dalam proses produksi di Tanah Air.
"Ternyata bisa loh syuting film bagus, yang entertaining, tanpa membuat kru tipes misalnya," imbuhnya.
Yusron menyampaikan bahwa proses syuting film ini berlangsung dengan lancar berkat penerapan jam kerja yang teratur. Hal tersebut membuat para kru dapat bekerja secara lebih terstruktur sekaligus menjaga efektivitas produksi. Kendati demikian, ruang untuk improvisasi tetap dibuka sehingga energi kreatif para pelaku film tidak sepenuhnya terbatasi oleh sistem yang disiplin.
Dalam kolaborasi ini, Yusron berbagi peran dengan sutradara Lee Chang Hee. Dirinya lebih fokus pada akting dan pengadeganan, sedangkan Lee menekankan blogging dan staging. Pembagian ini menciptakan keseimbangan yang efektif, menjaga kualitas teknis sekaligus memperkuat dimensi artistik dari setiap adegan.
Salah satu momen menarik terjadi saat pengambilan adegan aksi Rio Dewanto yang mengendarai mobil tanpa stuntman. Awalnya, adegan tersebut direncanakan dengan banyak potongan kamera sesuai storyboard. Namun, Yusron mengusulkan untuk menjadikannya sebuah one long take.
"Waktu itu, usulan diterima dan ternyata berhasil juga. Jadi, kita bisa memangkas waktu syuting yang tadinya diperkirakan lima jam karena mesti banyak angle, menjadi jauh lebih singkat, tanpa mengurangi intensitas adegan," jelasnya.
Dari pengalaman tersebut, Yusron belajar tentang profesionalitas dan efektivitas. Lebih jauh, Yusron menilai keberhasilan penerapan syuting sehat ini bisa menjadi momentum transformasi dalam industri film Indonesia.
Selama ini, beban kerja berlebihan sering dianggap konsekuensi yang tidak terhindarkan. Namun pengalaman ini membuktikan bahwa sistem yang lebih manusiawi justru meningkatkan produktivitas dan kualitas. Jika diadopsi lebih luas, standar baru ini dapat mengubah wajah perfilman Indonesia menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Aktor Reza Rahadian juga mengungkapkan pengalaman positifnya selama terlibat dalam proses produksi film Keadilan: The Verdict. Dia menilai sistem kerja yang diterapkan dalam film tersebut sangat terstruktur, yang mana sebenarnya ini telah menjadi karakteristik yang kerap melekat pada industri perfilman Korea Selatan.
Bagi Reza, disiplin dan keteraturan itu menghadirkan suasana produksi yang berbeda. Reza secara khusus juga menyoroti lingkungan kerja yang sehat dan sistematis. Kejelasan jam kerja serta penerapan disiplin waktu dianggap sebagai faktor utama yang membuat proses produksi berjalan efisien.
Menurutnya, suasana yang terbangun tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperlihatkan tingkat profesionalisme tinggi yang mendukung kualitas hasil akhir film. Dari pengalamannya tersebut, Reza berharap praktik serupa dapat semakin banyak diterapkan dalam industri film nasional.
Menurutnya, model kerja terstruktur tidak hanya menjaga kesehatan dan kesejahteraan para pelaku film, tetapi juga mendorong terciptanya standar baru dalam produksi. Jika pola ini terus berkembang, industri film Indonesia berpeluang besar meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat kolaborasi internasional.
"Yang pasti produksinya menyenangkan, prosesnya, syutingnya sangat sehat, jam kerjanya clear, kemudian ada kedisiplinan yang bisa kita pelajari juga," ujar Reza Rahadian
Film Keadilan: The Verdict digarap oleh kolaborasi rumah produksi asal Indonesia, MD Pictures, dengan PH asal Korea Selatan, A Innikor Pictures dan JNC Media Group. Film ini juga mendapat arahan dari dua sutradara lintas negara, yakni Yusron Fuadi dan Lee Chang-hee.
Keadilan: The Verdict bercerita tentang Raka (Rio Dewanto), seorang petugas keamanan pengadilan yang jujur merasa gelisah menyaksikan hukum dimanipulasi oleh uang, koneksi, dan kebohongan.
Hingga akhirnya, istrinya sendiri, Nina (Niken Anjani), pengacara muda yang sedang hamil menjadi korban kejahatan brutal dari anak orang kaya yang mendapat perlindungan dari seorang pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian).
Terjebak dalam sistem yang korup dan sosial media yang mudah dipengaruhi, Raka perlahan kehilangan keyakinannya, hingga dia pun memutuskan untuk mengambil alih persidangan dengan pistol di tangannya. Film yang naskahnya ditulis Yoon Hyeon-ho ini akan dikemas dalam balutan drama dan thriller.
Film yang dibintangi Rio Dewanto, Reza Rahadian, Niken Anjani, Dian Nitami, Elang El Gibran, Karina Salim, Dimas Aditya, Eduward Manalu, Tyan Anugrah, Vonny Anggraini ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 November 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.