Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale 2025 Kembali Digelar, Soroti Fenomena Paska-Fotografis

22 September 2025   |   13:53 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Kota Bandung kembali menjadi tuan rumah gelaran seni fotografi berskala internasional bertajuk Bandung Photography Triennale (BPT) 2025. Setelah sukses dengan edisi perdana pada 2022, ajang ini kini kembali hadir sebagai ruang pertemuan bagi seniman, peneliti, dan pencinta foto untuk mengkaji perkembangan visual kontemporer. 

Pada penyelenggaraan keduanya, BPT mengangkat tema Synthetic Vision: The Age of Fictionalizing in Our Culture. Tema ini dirancang untuk menyoroti bagaimana akal imitasi dan daya pencitraan dapat memengaruhi cara manusia membentuk budaya.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak merenungkan relasi antara realitas dan rekayasa dalam dunia gambar. Catatan kuratorial BPT menekankan bahwa dalam lanskap kontemporer yang dikuasai teknologi, citra tidak lagi sekadar cermin kenyataan. Gambar kini hadir sebagai konstruksi kompleks yang dapat menghapus batas antara fakta dan manipulasi. 

Baca juga: JIPFest 2025 Hadirkan 300 Karya Fotografi Dunia di Taman Ismail Marzuki Jakarta 

Dalam hal ini, manusia tengah memasuki fenomena paska-fotografis, yang mana gambar tidak hanya lahir dari kamera, tetapi juga dari sintesis, simulasi, serta algoritma yang digerakkan kecerdasan buatan. Perubahan radikal ini juga menggeser peran estetika dan epistemologi visual. 

Otoritas gambar dalam mendefinisikan kebenaran kini dipertanyakan, seiring sejarah yang menunjukkan bahwa imaji kerap dipakai untuk memperkuat narasi dominan sekaligus menantang kekuasaan. Dengan demikian, fotografi tidak hanya menjadi medium estetis, tetapi juga perangkat politis.
 

 Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok  Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Pada era digital, gambar berfungsi ganda sebagai representasi sekaligus produksi fiksi. Praktik manipulasi visual seperti propaganda, disinformasi, hingga deepfake memperlihatkan bagaimana batas antara fakta dan fabrikasi semakin kabur. Persaingan persepsi publik pun menjadikan ruang visual sebagai arena pertarungan baru.

Untuk merespons kondisi ini, para seniman yang terlibat di BPT 2025 mengeksplorasi beragam medium berbasis imaji fotografis. Mulai dari karya yang dihasilkan kecerdasan buatan, video generatif, pemetaan digital, hingga instalasi data dan fotografi klasik, semua dipertemukan dalam pameran ini.

Lewat karya-karya tersebut, mereka tidak hanya menyuguhkan estetika visual, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis tentang tubuh, identitas, politik, dan realitas di era gambar sintetis.

"Urgensi BPT diadakan ialah untuk menempatkan diri sebagai respons kritis terhadap penggunaan imaji atau citra dalam berbagai kepentingan hari ini. Dalam era ketika informasi visual dengan mudah dimanipulasi untuk membentuk opini publik, mempengaruhi kebijakan, atau bahkan menjustifikasi kekerasan, Synthetic Vision menawarkan platform bagi seniman untuk mendekonstruksi strategi tersebut dan mengungkap mekanisme tersembunyi di balik produksi imaji atau citra," tulis tim kuratorial BPT. 

Dengan beragam pendekatan, para seniman di BPT tidak hanya menyingkap bagaimana teknologi memengaruhi cara pandang manusia terhadap dunia, tetapi juga membuka peluang untuk merebut kembali kendali atas produksi citra.

Melalui praktik membongkar, meretas ulang, dan mempertanyakan logika sistem penglihatan mutakhir, mereka menghadirkan alternatif cara untuk memahami, menggoyang, sekaligus membayangkan kembali masa depan visual kita.

Hal menariknya, tema besar tersebut akan diuraikan lagi ke dalam beberapa subtema. Karena pameran berlangsung di berbagai lokasi, masing-masing subtema akan mendapat ruang tersendiri agar dapat dipahami lebih mendalam sekaligus menjadi sorotan bagi publik.


1. Selasar Sunaryo Art Space 

 Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok  Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Salah satu program BPT berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Cimenyan, Bandung, pada 12 September hingga 12 Oktober 2025. Di ruang ini,  subtema yang diangkat adalah Synthetic Vision: Aeviternity. Kurator Heru Hikayat dan Puja Anindita mengatakan Aeviternity merupakan kondisi unik yang berada di antara kefanaan dan keabadian.

Istilah ini berakar dari kata Latin aevum, yang bermakna “seumur hidup” atau “waktu lestari”. Dalam konteks ini, sebuah citra dapat hidup “abadi” karena ditenagai oleh tatapan para penontonnya. Setiap tatapan baru membuka ruang bagi imajinasi dan tafsir yang tak pernah berhenti. 

Kini, perkembangan teknologi pencitraan yang begitu cepat membuat pengaruh tersebut semakin kompleks. Fotografi, dengan spektrum interpretasinya yang luas, berada tepat di jantung persoalan ini, terus-menerus menelisik bagaimana cara kita melihat dan memaknai ulang realitas.

Merespons fenomena ini, para seniman yang berpartisipasi di Bale Paragon SSAS menampilkan karya dengan pendekatan visual dan teknik yang sangat beragam. Karya-karya yang dipamerkan mencakup praktik klasik seperti wet plate collodion, citra yang digenerasi dengan kecerdasan buatan, hingga eksplorasi eksperimental yang menggabungkan berbagai medium demi melahirkan gejala visual baru. 

Di ruang pamer ini, pengunjung juga dapat menikmati karya-karya dari subtema lain, yakni Circuit of Dreams. Dikuratori Yacobus Ari Respati & Henrycus Napitsunargo, subtema ini menjadi wadah karya-karya kontemporer yang tak cuma sekadar fotografi, mencermin kepada keadaan material, serta bentuk-bentuk dari kehidupan manusia pada hari ini. BPT kali ini menunjukkan bagaimana laku seni telah bertransformasi akibat keadaan dunia manusia yang fotografis. 

Karya-karya didalamnya merupakan hasil seni kontemporer yang tak cuma sekadar fotografi, mencermin kepada keadaan material, serta bentuk-bentuk dari kehidupan manusia pada hari ini. BPT kali ini menunjukkan bagaimana laku seni telah bertransformasi akibat keadaan dunia manusia yang fotografis. 

Seniman yang bergabung:
  • Aglaia Brändli – Switzerland 
  • Dont think  –   South Korea 
  • Gohjeong  –  South Korea  
  • Gustav Hellberg – Sweden
  • Jeff Weber – USA
  • Kai Machida – Japan
  • Lev Manovich – USA
  • Marco Scozzaro – USA 
  • Mick Siregar – Indonesia 
  • Septian Harri Yoga – Indonesia 
  • Suwa Shin – South Korea 
  • Ulf Lundin – Sweden 
  • Yichen Zhou – China 
  • Yuki Takada – Japan 


2. Artsociated/Lawangwangi Creative Space  

 Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok  Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Program lain dari BPT 2025 berlangsung di Artsociated/Lawangwangi Creative Space pada 5–21 September 2025. Pameran ini, yang dikuratori oleh Gumilar Ganjar, mengangkat subtema Synthetic Vision: Organic Fictions sebagai perluasan dari tema besar BPT tahun ini. 

Dalam catatan kuratorialnya, Gumilar menegaskan bahwa melihat tidak lagi identik dengan percaya. Apa yang tampak di hadapan kita kini telah melalui proses pembingkaian, pemolesan kromatik, serta koreksi artifisial. Pada subtema Organic Fictions ini, citra tidak diperlakukan sebagai representasi statis, melainkan sebagai entitas yang lentur dan senantiasa berubah. 

Beberapa karya dalam pameran ini menekankan proses generatif lewat glitch, mutasi, dan keluaran rekursif yang mengacaukan stabilitas penglihatan. Ada juga karya yang menyingkap lapisan infrastruktur dengan menelusuri arsip, dataset, atau kerangka teknis yang tersembunyi, serta karya yang memperbesar aspek afektif dengan memanipulasi isyarat sensorik.

Semua pendekatan ini mengungkap keterhubungan antara logika sintetis dan organik, memperlihatkan bahwa fiksi bukanlah lawan dari realitas, melainkan kondisi dasarnya.

Seniman yang tergabung:
  • Anna Madeleine Raupach – Australia 
  • Borahm Kim  –  South Korea 
  • Cecil Mariani – Indonesia 
  • Gosbert Adler – Germany 
  • Himawari Hara – Japan 
  • Hyungjo Moon  –  South Korea
  • Jan Svenungsson – Sweden
  • MarieVic – France 
  • Marius Raatz – Germany 
  • Maya Thieulle & Fanny Chelim – France 
  • Polanska Laura – Poland 
  • Rebecco Ann Tess – Germany 
  • TaeHwan Jeon – South Korea 
  • Taiki Kimishima – Japan 
  • Wu MeiChi – Taiwan 

Baca juga: Galnas Hadirkan Pameran Fotografi Tierra Viva, Kolaborasi Kedutaan 8 Negara Amerika Latin 


3. Orbital Gallery 

 Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok  Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Pameran lain dalam rangkaian BPT 2025 berlangsung di Orbital Gallery pada 10 September hingga 12 Oktober 2025. Dengan kurator Rifky Effendy, pameran ini mengusung subtema Synthetic Vision: Synthetic Musings.

Dalam catatan kuratorialnya, dijelaskan bahwa di era realitas sintetik—ketika pengalaman kita semakin dimediasi oleh teknologi seperti AI, VR, AR, simulasi, dan deepfake—timbul kegelisahan bahwa seni hanya akan terjebak pada permainan efek dan hiperrealitas.  

Namun, Rifky memandang justru di dalam ambiguitas itulah seni bisa menghadirkan peluang baru, yakni membuat penonton berhenti, hening, lalu merenung. Sebuah karya AI yang meniru “emosi,” misalnya, bisa menggugah pertanyaan apakah yang kita rasakan adalah otentik atau hanya proyeksi semata. 

Realitas sintetik memang rawan terjebak pada estetika dangkal atau konsumsi instan, tetapi justru kesadaran akan sifat buatan itu mendorong manusia untuk merenungkan ketergantungan pada teknologi, keterbatasan indera, dan sifat ilusif dunia yang kita hidupi. 

Dalam konteks ini, fotografi memiliki posisi yang istimewa. Sejak awal ia dikenal sebagai “cermin realitas,” tetapi kini realitas itu sendiri dapat diproduksi ulang melalui AI, deepfake, atau CGI.

Tujuh seniman yang berpameran di Orbital Dago menghadirkan karya foto dengan pendekatan kontemplatif terhadap realitas sintetik. Banyak karya menampilkan lanskap mustahil atau wajah tanpa riwayat dalam suasana sunyi, yang justru membuka ruang bagi renungan. Melalui ambiguitas visual tersebut, pengunjung diajak menyelami makna di balik lapisan artifisial yang ditampilkan.

Seniman yang tergabung:
  • Akkara Naktamna – Thailand 
  • Bobby Davidson – USA 
  • He Bo – China 
  • Jim Allen Abel – Indonesia 
  • Romina Herrera – Argentina / Germany 
  • Wutthichai Ainchu – Thailand 
  • Zhang Xiao – China 


4. Grey Gallery 

 Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok  Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale (Sumber gambar: dok Bandung Photography Triennale)

Bandung Photography Triennale 2025 juga bekerja sama dengan Grey Gallery dan Institut Francais Indonesia untuk menyelenggarakan program open call seniman. Kegiatan ini berlangsung pada 18 September hingga 19 Oktober 2025, sekaligus menjadi ajang bagi para perupa untuk berpartisipasi lebih luas dalam perhelatan internasional ini. Dalam rangkaian tersebut, juga akan diberikan penghargaan BPT Prize sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang dinilai menonjol. 

Program open call ini berhasil menjaring banyak partisipan dengan latar belakang beragam. Sejumlah nama seniman yang turut serta antara lain Adi Rahmatullah, Agung Sutrisno, AiO, Ajeng Tri Utami, Alaint, Alfisa Fadlika, Anton, Anwita Citriya, Arum Dayu, Aryasuta, Arza Nursatya, Asep Saepuloh, Aziz, B. Wicaksono Mas, Bengcut, Bapak Camat x Dhani Ismail, hingga Barmen Simatupang. Partisipasi mereka menunjukkan antusiasme tinggi sekaligus memperlihatkan betapa luasnya spektrum eksplorasi fotografi dan seni visual di Indonesia. 

Selain itu, daftar partisipan masih berlanjut dengan nama-nama seperti Bintang Tanatimur, Biru ABW, Chandra Mirtamiharja, Cosilia Wu, Dela Nomo Karso, Deni Rahadian, Djalaluddin Assuyuthi, Edward Nugroho, Eka Chandra, Eka Noviana, Elfira Ayu Puspaningrum, Elisabeth Farah, Erzhal Umamit, Evi Susanti, Fahmi Mursyid, hingga Zaydan.


5. Wangirupa Gallery - Tjap Sahabat Gallery

Program Satellite BPT 2025 digelar secara paralel di dua ruang pamer, yaitu Wangirupa Gallery pada 20 September–20 Oktober 2025 dan Tjap Sahabat Gallery pada 15 September–30 Oktober 2025. Kedua lokasi ini menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan publik sekaligus menghadirkan dinamika yang lebih beragam dalam perhelatan fotografi internasional ini.

Di Wangirupa Gallery, karya-karya yang ditampilkan berasal dari tiga seniman, yakni Achmad Sadikin, Dimas Kaisar, dan Mada Riyanhadi. Sementara itu, Tjap Sahabat Gallery menampilkan lebih banyak partisipan, di antaranya Ahmad Fitrian Rizky, Baskara Puraga, Christopher Gio Sarsono, Deni Rahadian, Krisna Trisila Satmoko, Mohamad Ramadiansyah Firdaus, Muhammad Fajar Hidayat, R. Gema Perdana, Syarif Nur Iman, dan Tanto Trisno Mulyono. Kehadiran mereka menciptakan ragam karya yang dinamis, sekaligus memperlihatkan keluasan cakupan praktik fotografi kontemporer di BPT 2025. 

Baca juga: Pameran Prophecy: Visualisasi Emosi Mikael Aldo Lewat Fotografi 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Profil Lamine Yamal, Pemain Muda Barcelona, Kandidat Kuat Peraih Ballon d’Or 2025

BERIKUTNYA

Daftar 10 HP dengan Kamera Terbaik, Huawei Pura 80 Ultra Kalahkan iPhone 17 Pro

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga