Emmeril Kahn Mumtadz (kiri) dimakamkan Senin (13/6/2022). (Sumber gambar : Instagram/Atalia Praratya)

Ikhlas, Berikut Untaian Lengkap Sepenggal Rasa Cinta Untuk Eril dari Kang Emil

13 June 2022   |   12:57 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kepergian Emmeril Kahn Mumtadz tentu menimbulkan kesedihan mendalam bagi ayahandanya yang merupakan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil serta keluarganya. Namun demikian, pria yang akrab disapa Kang Emil itu mencoba ikhlas dan yakin bahwa semuanya sudah menjadi takdir yang harus dihadapi.

"Ananda Emmeril telah selesai tugas di dunianya dengan paripurna tidak kurang tidak lebih. Allah sudah tetapkan karena tidak ada satupun daun yang jatuh kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT," ujar Kang Emil seusai prosesi pemakaman Eril di Cimaung, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (13/6/2022). 

Selama 14 hari, dia dan keluarga bertafakur dan hasilnya mereka mendapat pelajaran dan mukjizat yang begitu nyata. Eril akhirnya ditemukan dalam keadaan utuh, walau sudah tidak bernyawa. Padahal Kang Emil dan keluarga sudah siap dan ikhlas jika tidak bisa melihat putra sulungnya untuk terakhir kali. 

Baca juga: Pencarian Eril di Sungai Aare Pantang Menyerah

Di balik kesedihan yang mendalam ini, Kang Emill mengucapkan terima kasih karena begitu banyaknya orang yang mendoakan dan mengiringi Eril hingga tempat peristirahatannya. 

"Eril tidak hanya diiringi jutaan doa dari keluarga, tapi seluruh nusantara, warga desa, sampai Palestina dan seluruh dunia. Menandakan ada bekal yang Eril sudah lakukan yaitu kebaikannya," tuturnya

Kang Emil pun menyampaikan sebuah catatan yang disebut sebagai sepenggal rasa cinta untuk menggambarkan siapa itu Eril dan apa hikmah dari kepergiannya. Berikut pesan Kang Emil di depan makam Eril

"14 hari bisa terasa pendek dalam hidup rutin yang sehari-hari. Tapi 14 hari ini menjadi begitu panjang dalam kehidupan kami
Kami bertanya mengapa harus selama ini ya Allah, mengapa tidak lebih cepat agar semua lekas berlalu,
supaya kami yang hidup tidak terlalu lama mengharu biru
Tapi, waktu adalah rahasia Allah yang muskil bisa dipecahkan. Apalagi menyangkut tentang kelahiran dan kematian
Waktu adalah relatif, begitulah kara orang-orang yang arif
Dan akhirnya kami menerimanya dengan hati yang lapang sebab kami bisa menemukan banyak sekali petunjuk yang terang.

Dalam rentang 14 hari yang sejujurnya sangat melelahkan namun kami pun mendapatkan banyak pelajaran dan menerima kearifan
Tentang hidup Eril yang secara kasat mata rasanya terlalu singkat, tapi setelah dicermati ternyata kehidupannya sangat padat dan penuh manfaat
23 tahun mungkin belum cukup untuk menghasilkan karya-karya yang besar namun terbukti ternyata memadai untuk menjadi manusia yang dicintai dengan akbar.

Kami belajar tentang hidup yang tidak semata terdiri atas lamanya hari, tapi tentang tiap hela nafas yang dipakai berbuat baik walau kecil dalam sehari-hari
Kami menghikhlaskan Eril pergi karena kami akhirya menyadari bahwa Allah telah mencukupkan seluruh amal-amalnya untuk menutupi kemungkinan bertambah kekhilafannya
Mungkin akan berat tapi sebenarnya kami sudah menyiapkan hati kalau kami tidak akan pernah akan lagi melihat jasadnya untuk terakhir kali 

Bukankan Eril lahir di New York yang berada jauh di seberang, mengapa tidak jika ia wafat di Swiss yang jauhnya tidak berbilang
Bukankan tiap sejengkal tanah adalah milik Allah yang menentukan segala pergi dan pualng
Luncuran doa yang dipanjatkan dari berbagai penjuru negeri adalah limpahan pertanda yang lebih dari cukup bagi kami untuk yakin brangkali Allah yang menghendaki agar kepulangannya disambut oleh langit dan bumi
Bagaimana mungkin kami tidak merasa dilimpahi oleh rahmat dan kurnia saat jenazah yang terbaring ini berhari-hari masih utuh lagi sempurna
Itulah salah satu keyakinan kami bukti adanya mukjizat yang akhirnya alhamdulillah kami diberi kesempatan melihat tanda kekuasaan Allah sang pemberi berkat

Pelajaran bagi kita yang beriman dan yang pandai membaca isyarat
Kematian Eril merupakan kehilangan yang sangat telak juga pengalaman yang sungguh dahsyat
Dalam momentum waktu yang nyaris sejajar kami merasa kehilangan yang paling besar
Tapi, seketika itu juga kami merasa dilimpahi kasih yang akbar
Terakhir, kami sangat bersyukur dianugrahi seorang putra yang dalam hidupnya bahkan dalam pulangnya masih mendatangkan cinta kepada kami sang orang tua

Terima kasih, hatur nuhun, jazakumullah khairan katsiran atas segala cinta dan doa semoga Allah membalas berlipat-lipat kebaikan Anda semuanya."


Baca juga: Menjelajahi Sungai Aare, Tempat Hilangnya Eril Putra Ridwan Kamil

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Sejarah Singkat Tinju, Olahraga yang Dulunya Dianggap Terlalu Kejam

BERIKUTNYA

6 Spot Asyik untuk Gowes di Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: