JIPFest 2025 Hadirkan 300 Karya Fotografi Dunia di Taman Ismail Marzuki Jakarta
13 September 2025 |
07:00 WIB
Jakarta International Photo Festival (JIPFest) kembali digelar pada 2025. Festival fotografi berskala internasional ini berlangsung pada 12–21 September 2025 di Galeri Emiria Soenasa dan S. Sudjojono, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Tema besar tahun ini adalah Coexistence. Sebuah konsep yang tidak hanya menjadi slogan, melainkan refleksi tentang bagaimana fotografi, teknologi, manusia, dan alam bisa hidup berdampingan di tengah dunia yang terus berubah.
Perkembangan teknologi memang telah menggeser fungsi fotografi. Kamera kini tidak lagi sekadar alat dokumentasi, melainkan medium dialog dengan realitas baru yang dibentuk era digital. Coexistence hadir untuk merespons dinamika tersebut.
Baca juga: ‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari
Kurator Yoppy Pieter menilai teknologi bukanlah hal yang sepenuhnya baru. “Aspek teknologi sudah lama ada dalam kehidupan kita, bahkan dalam tradisi Nusantara,” kata dia. Perspektif inilah yang ingin dihadirkan lewat tema kali ini.
Lebih dari 300 karya dari 21 fotografer dipamerkan. Kurasi dilakukan oleh Yoppy bersama Chelsea Chua, menghasilkan koleksi yang menyoroti keterhubungan antara manusia, alam, dan teknologi.
“Kami ingin mendedah tanggung jawab manusia terhadap teknologi. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi itu sendiri,” ujar Yoppy ketika ditemui Hypeabis.id sebelum pembukaan pameran, Jumat (12/9/25).
Festival Director JIPFest, Tina Sindhukusumo, menambahkan, implementasi tema juga diwujudkan melalui pengalaman berbasis teknologi. Di AI Activation Booth, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan kecerdasan buatan.
“JIPFest ingin merespons kedekatan generasi sekarang dengan teknologi. Apakah seni, manusia, dan teknologi memang saling berkaitan? Itu yang ingin kami uji,” jelas Tina.
Salah satu karya yang menyoroti pertemuan tradisi dan modernitas datang dari Yoese Mariam. Dalam proyek Manene (2022–2024), dia memotret ritual adat Toraja, yaitu membersihkan serta mengganti pakaian jenazah leluhur sebelum diarak keliling kampung.
Karya tersebut mempertemukan ritual, pengetahuan, dan kenangan masa lalu dalam bingkai visual. Di sini, tema Coexistence tampak nyata, memperlihatkan hubungan antara kehidupan yang sudah berlalu dan cara modern untuk mengabadikannya.
Sementara itu, Subject to Interpretation (2025) karya Playlist X Interactive & Hektra membawa pengunjung ke ranah algoritma. Sebuah photo booth dengan teknologi AI menafsirkan identitas individu menjadi arketipe tertentu yang dihadirkan laiknya bermain-main dengan teknologi .
“Karya ini sebenarnya satir. Kita pakai AI untuk menafsirkan siapa diri kita, padahal hasilnya sering kali ngaco. Dari sini kami ingin mengingatkan agar manusia tidak kehilangan sisi kemanusiaannya dan terlalu bergantung pada algoritma,” kata Clarisa Pranata dari Playlist.
Selain pameran, JIPFest menghadirkan 61 bintang tamu dari berbagai negara. Nama-nama seperti Ángela Rincón dari Kolombia, Mai Nguyên Anh dari Vietnam, dan Daisy Yang dari Taiwan hadir berdampingan dengan seniman Indonesia seperti Meidiana Tahir dan Dicky Irman Nassa.
Melalui Artist Talk, diskusi publik, dan kuliah umum, para tamu berbagi pengalaman sekaligus menguji batas imajinasi fotografi. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari percakapan kreatif yang membentuk masa depan seni visual.
Dengan tiket harian Rp40.000 atau tiket terusan 10 hari Rp175.000, Genhype dapat menikmati seluruh program festival. Tiket bisa dibeli secara daring melalui tautan goers.co/jipfest2025 atau langsung di Taman Ismail Marzuki (TIM).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tema besar tahun ini adalah Coexistence. Sebuah konsep yang tidak hanya menjadi slogan, melainkan refleksi tentang bagaimana fotografi, teknologi, manusia, dan alam bisa hidup berdampingan di tengah dunia yang terus berubah.
Perkembangan teknologi memang telah menggeser fungsi fotografi. Kamera kini tidak lagi sekadar alat dokumentasi, melainkan medium dialog dengan realitas baru yang dibentuk era digital. Coexistence hadir untuk merespons dinamika tersebut.
Baca juga: ‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari
Kurator Yoppy Pieter menilai teknologi bukanlah hal yang sepenuhnya baru. “Aspek teknologi sudah lama ada dalam kehidupan kita, bahkan dalam tradisi Nusantara,” kata dia. Perspektif inilah yang ingin dihadirkan lewat tema kali ini.
Lebih dari 300 karya dari 21 fotografer dipamerkan. Kurasi dilakukan oleh Yoppy bersama Chelsea Chua, menghasilkan koleksi yang menyoroti keterhubungan antara manusia, alam, dan teknologi.
“Kami ingin mendedah tanggung jawab manusia terhadap teknologi. Jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi itu sendiri,” ujar Yoppy ketika ditemui Hypeabis.id sebelum pembukaan pameran, Jumat (12/9/25).
Festival Director JIPFest, Tina Sindhukusumo, menambahkan, implementasi tema juga diwujudkan melalui pengalaman berbasis teknologi. Di AI Activation Booth, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan kecerdasan buatan.
“JIPFest ingin merespons kedekatan generasi sekarang dengan teknologi. Apakah seni, manusia, dan teknologi memang saling berkaitan? Itu yang ingin kami uji,” jelas Tina.
Salah satu karya yang menyoroti pertemuan tradisi dan modernitas datang dari Yoese Mariam. Dalam proyek Manene (2022–2024), dia memotret ritual adat Toraja, yaitu membersihkan serta mengganti pakaian jenazah leluhur sebelum diarak keliling kampung.
Karya tersebut mempertemukan ritual, pengetahuan, dan kenangan masa lalu dalam bingkai visual. Di sini, tema Coexistence tampak nyata, memperlihatkan hubungan antara kehidupan yang sudah berlalu dan cara modern untuk mengabadikannya.

Pengunjung berinteraksi dengan karya Subject to Interpretation (2025) dari Playlist X Interactive & Hektra pada pameran Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2025 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (12/9/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
Sementara itu, Subject to Interpretation (2025) karya Playlist X Interactive & Hektra membawa pengunjung ke ranah algoritma. Sebuah photo booth dengan teknologi AI menafsirkan identitas individu menjadi arketipe tertentu yang dihadirkan laiknya bermain-main dengan teknologi .
“Karya ini sebenarnya satir. Kita pakai AI untuk menafsirkan siapa diri kita, padahal hasilnya sering kali ngaco. Dari sini kami ingin mengingatkan agar manusia tidak kehilangan sisi kemanusiaannya dan terlalu bergantung pada algoritma,” kata Clarisa Pranata dari Playlist.
Selain pameran, JIPFest menghadirkan 61 bintang tamu dari berbagai negara. Nama-nama seperti Ángela Rincón dari Kolombia, Mai Nguyên Anh dari Vietnam, dan Daisy Yang dari Taiwan hadir berdampingan dengan seniman Indonesia seperti Meidiana Tahir dan Dicky Irman Nassa.
Melalui Artist Talk, diskusi publik, dan kuliah umum, para tamu berbagi pengalaman sekaligus menguji batas imajinasi fotografi. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari percakapan kreatif yang membentuk masa depan seni visual.
Dengan tiket harian Rp40.000 atau tiket terusan 10 hari Rp175.000, Genhype dapat menikmati seluruh program festival. Tiket bisa dibeli secara daring melalui tautan goers.co/jipfest2025 atau langsung di Taman Ismail Marzuki (TIM).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.