Pengunjung memotret salah satu karya dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Rayakan Seperempat Abad, Can’s Gallery Gelar Pameran Continuum

20 September 2025   |   08:24 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Galeri seni kontemporer Can's Gallery menggelar pameran seni rupa Continuum. Memboyong puluhan karya perupa kontemporer Tanah Air, pameran ini dihelat untuk menyambut ulang tahun mereka yang ke-25. Dibuka oleh Irwan Mussry, pameran berlangsung hingga 20 Oktober 2025.

Direktur Can's Gallery, Inge Santoso, mengatakan sejak pertama kali berdiri pada 2000, pihaknya telah menggelar sebanyak 177 pameran. Dia berharap lewat pameran ini, Can's Gallery dapat terus menjalankan visi dalam menjaga denyut seni kontemporer Indonesia.

Tajuk Continuum dipilih bukan hanya sebagai pandangan ke depan, tetapi juga refleksi atas perjalanan masa lalu. Sebab apa yang mereka lewati adalah jejak penting yang layak dirasakan, diserap maknanya, dan dijadikan bekal untuk melangkah.

Baca Juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi

Can's Gallery sendiri berawal dari sebuah ruang pamer di kawasan Kelapa Gading yang bernama Galeri Canna. Dari sinilah mereka kemudian menjalin relasi dengan para seniman, menghadirkan oase segar bagi percakapan seni rupa di Tanah Air.

"Setelah 25 tahun kami berharap tetap bisa membuat pameran-pameran yang baik, yang bisa diterima publik, sehingga galeri kami dapat menjadi arsip buat para seniman Indonesia sampai terkenal di dunia internasional," kata Inge.

Kini, Can's juga mengajak perupa yang dulu sempat berpameran di tempat mereka. Dikuratori oleh Wahyudin, pameran ini menghadirkan karya dari 33 perupa dari total 50 perupa yang mereka pilih. Sisanya nanti akan dipamerkan di Menara Bentara Budaya Kompas.

Nama-nama besar ikut hadir, mulai dari Agus Suwage, Eddie Hara, Ay Tjoe Christine, hingga Entang Wiharso. Ada juga Goenawan Mohamad, FX Harsono, hingga generasi lebih muda seperti Muklay dan Suvi Wahyudianto. Keseluruhan karya menawarkan lanskap beragam tema, medium, dan bahasa visual.
 

Dari kiri: Kurator Wahyudin, Tommy Sutomo pendiri Can

Dari kiri: Kurator Wahyudin, Tommy Sutomo pendiri Can's Gallery, Direktur Can's Gallery Inge Santoso saat konferensi pers pembukaan pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)



Kurator Wahyudin mengatakan diikutsertakannya 50 seniman ini adalah mereka yang memiliki hubungan baik dengan Can's Gallery. Lain dari itu, platform pameran ini dipilih untuk melihat sejauh mana relasi mereka dengan galeri sekaligus pencapaian yang diraih.

Alih-alih merujuk pada tema, pihak galeri dan kurator membebaskan para seniman untuk membuat karya sesuai kecenderungan artistik masing-masing. Pola ini dipilih juga untuk memberi ruang bagi seniman dalam mempersiapkan karya di tengah kesibukan yang ketat.

"Terkait penempatan karya di tempat yang berbeda sifatnya lebih teknis. Sebab di Menara Bentara Budaya tidak sebebas di Can's, misalnya ukurannya tidak bisa besar karena ruang masuknya kecil dan temboknya tidak bisa dipaku," papar Wahyudin.

Menariknya, pameran ini menampilkan keragaman tema dan eksplorasi artistik seniman lintas zaman. Pada sudut tertentu publik disuguhi karya yang mengeksplorasi seni menganyam, sementara di sudut lain mereka dapat menikmati karya yang sarat simbolisme hingga ekspresif.

Salah satunya terlihat pada karya Agus Suwage berjudul Perjalanan ke Timur (2025). Karya berdimensi 200 x 300 cm itu menampilkan tokoh-tokoh terkenal Indonesia seperti KH Hasyim Asy’ari hingga Ahmad Dahlan. Lewat teknik apropriasi, Agus juga menggambarkan dirinya di antara peta masa lampau.

 

jaj

Pengunjung mengamati  karya Edi Prabandono bertajuk Morning Glory dalam pameran Continuum di Can's Gallery, Jumat (19/9/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Ribby Fathan)


Ada pula karya Edi Prabandono bertajuk Morning Glory (2025). Instalasi media campuran dari pintu bagasi mobil ini merupakan kritik sang seniman terhadap tren mobil listrik di dunia. Kendati sering dianggap sebagai bentuk keberlanjutan karena mengurangi emisi gas buang, mobil listrik juga menyimpan kontradiksi.

Pasalnya, penambangan lithium, kobalt, dan nikel untuk baterai mobil menimbulkan kerusakan ekologi, deforestasi, hingga konflik sosial di daerah tambang. Menurut beberapa penelitian, jejak karbon dari pembuatan mobil dan baterai bahkan lebih besar dibanding mobil konvensional.

"Untuk negara-negara maju, mereka memang merayakannya. Tapi di sisi lain, penghasil nikel seperti Indonesia justru menghadapi masalah. Teknologi listrik itu digunakan, tapi di sini lingkungannya rusak karena nikel ada di Indonesia," kata Edi.

Pameran Continuum pada akhirnya bukan sekadar perayaan ulang tahun Can’s Gallery. Dia menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat para seniman menegaskan kembali posisinya dalam lanskap seni kontemporer Indonesia.

Baca Juga: Pameran Moonveils: If You Know, You Know, Mendedah Kode-kode Rahasia Perempuan

SEBELUMNYA

Xiaomi Rilis Redmi Pad 2 Play Bundle, Tablet Aman untuk Anak Harga Rp2 Jutaan

BERIKUTNYA

Hypereport: Radio Amatir, Suara yang Tidak Pernah Padam di Tengah Gempuran Internet

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga