Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
16 September 2025 |
14:00 WIB
Galeri seni kontemporer Nadi Gallery menggelar pameran seni rupa XXV Masih Bernadi. Memboyong puluhan karya perupa kontemporer Tanah Air, pameran ini dihelat untuk menyambut ulang tahun mereka yang ke-25. Dibuka oleh Goenawan Mohamad, pameran ini berlangsung hingga 12 Oktober 2025.
Owner Nadi Gallery, Biantoro Santoso mengatakan sejak pertama kali berdiri pada 2000, pihaknya telah menggelar sebanyak 153 pameran. Dia berharap lewat pameran ini, Nadi Gallery dapat terus menjalankan visi dalam menjaga denyut seni kontemporer Indonesia.
"Ada dua hal yang menyebabkan Nadi Gallery lahir. Pertama, dari situasi politik-ekonomi Indonesia tahun 1998. Kedua, saya bertemu dengan Kadek Murniasih dan berjanji untuk memamerkan karyanya di Jakarta dan Bali, meski saat itu saya belum punya galeri," katanya.
Baca Juga: Pameran Moonveils: If You Know, You Know, Mendedah Kode-kode Rahasia Perempuan
Dengan modal nekat, Biantoro akhirnya menggelar pameran tunggal Heri Dono di ruang mereka untuk pertama kalinya pada tahun 2000. Setelah itu, dia pun melunasi janjinya memamerkan karya-karya Kadek Murniasih lewat pameran Fantasi Tubuh pada 13–29 Oktober 2000.
Kini, pada pameran terbarunya, Nadi Gallery juga mengajak perupa yang dulu sempat berpameran tunggal di tempat mereka. Dikuratori oleh Wahyudin, pameran ini menghadirkan karya dari 25 perupa yang dipilih dari 68 perupa yang pernah berpameran tunggal di sana, sesuai dengan jumlah usia galeri.
Adapun 25 perupa yang turut memajang karya-karyanya dalam pameran tersebut adalah Abdi Setiawan, Agus Suwage, Ahmad Zakii Anwar, Anusapati, Arin Dwihartanto, Dadang Rukmana, Dolorosa Sinaga, Eddie Hara, Eko Nugroho, dan Entang Wiharso.
Kemudian Goenawan Mohamad, Handiwirman Saputra, I Dewa Ngakan Made Ardana, I Gusti Ayu Kadek Murniasih, Jumaldi Alfi, Justian Jafin W, Mella Jaarsma, Rizka Azizah Hayati, Samsul Arifin, Takashi Kuribayashi, Taufik Ermas, Teguh Ostentrik, Ugo Untoro, dan Yusra Martunus.
Menurut Wahyudin, dipilihnya 25 perupa ini didasarkan pada berbagai faktor, mulai dari seniman yang masih aktif berkarya hingga daya tampung galeri untuk menampilkan seluruh karya mereka. "Seleksinya memang dari tataran itu, karena ada perupa yang sudah meninggal sehingga tidak bisa ikut," katanya.
Menariknya, pameran ini juga menampilkan keragaman tema dan eksplorasi artistik seniman lintas zaman. Pada sudut tertentu publik disuguhi karya yang mengeksplorasi tekstur dalam media lukis, sementara di sudut lain mereka dapat menikmati karya yang sarat simbolisme dan figuratif.
Salah satunya terlihat pada karya Taufik Ermas berjudul Bentang Lengkung Bertekuk Lipat #2 (2025). Lukisan berdimensi 224x145x29 cm ini dibuat dengan bingkai melengkung yang bahkan terlipat di bagian bawahnya. Karya tersebut menjadi salah satu yang paling provokatif dalam pameran ini.
Dalam kanvas vertikal itu, Taufik melukis pohon hijau menjulang dengan latar langit cerah. Karya ini seolah mengajak publik untuk kembali mengingat betapa pentingnya pepohonan dalam menjaga udara bebas dari polusi lewat visual metaforis.
Ada pula karya Goenawan Mohamad bertajuk Persistensi Palestina (2025). Menggunakan media campuran di atas kanvas berdimensi 99x147 cm, karya ini hadir sebagai bentuk agitasi artistik sang seniman untuk mendukung kemerdekaan Palestina di tengah krisis kemanusiaan.
Berlatar hitam pekat, pelukis yang juga penyair itu menampilkan reruntuhan kota di Jalur Gaza yang porak-poranda. Namun di atasnya, dia menggambar bendera kecil Palestina sebagai pengukuhan bahwa wilayah tersebut tetap milik mereka, meski terus dianeksasi Israel.
"Palestina ini biarpun hancur bisa bangkit lagi. Ini menggambarkan reruntuhan tadi dengan cara saya—porak-poranda, peyot, tapi tetap bisa bertahan. Itu interpretasi saya terhadap keadaan di sana," katanya.
Baca Juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Owner Nadi Gallery, Biantoro Santoso mengatakan sejak pertama kali berdiri pada 2000, pihaknya telah menggelar sebanyak 153 pameran. Dia berharap lewat pameran ini, Nadi Gallery dapat terus menjalankan visi dalam menjaga denyut seni kontemporer Indonesia.
"Ada dua hal yang menyebabkan Nadi Gallery lahir. Pertama, dari situasi politik-ekonomi Indonesia tahun 1998. Kedua, saya bertemu dengan Kadek Murniasih dan berjanji untuk memamerkan karyanya di Jakarta dan Bali, meski saat itu saya belum punya galeri," katanya.
Baca Juga: Pameran Moonveils: If You Know, You Know, Mendedah Kode-kode Rahasia Perempuan
Dengan modal nekat, Biantoro akhirnya menggelar pameran tunggal Heri Dono di ruang mereka untuk pertama kalinya pada tahun 2000. Setelah itu, dia pun melunasi janjinya memamerkan karya-karya Kadek Murniasih lewat pameran Fantasi Tubuh pada 13–29 Oktober 2000.
Kini, pada pameran terbarunya, Nadi Gallery juga mengajak perupa yang dulu sempat berpameran tunggal di tempat mereka. Dikuratori oleh Wahyudin, pameran ini menghadirkan karya dari 25 perupa yang dipilih dari 68 perupa yang pernah berpameran tunggal di sana, sesuai dengan jumlah usia galeri.
Adapun 25 perupa yang turut memajang karya-karyanya dalam pameran tersebut adalah Abdi Setiawan, Agus Suwage, Ahmad Zakii Anwar, Anusapati, Arin Dwihartanto, Dadang Rukmana, Dolorosa Sinaga, Eddie Hara, Eko Nugroho, dan Entang Wiharso.
Kemudian Goenawan Mohamad, Handiwirman Saputra, I Dewa Ngakan Made Ardana, I Gusti Ayu Kadek Murniasih, Jumaldi Alfi, Justian Jafin W, Mella Jaarsma, Rizka Azizah Hayati, Samsul Arifin, Takashi Kuribayashi, Taufik Ermas, Teguh Ostentrik, Ugo Untoro, dan Yusra Martunus.
Menurut Wahyudin, dipilihnya 25 perupa ini didasarkan pada berbagai faktor, mulai dari seniman yang masih aktif berkarya hingga daya tampung galeri untuk menampilkan seluruh karya mereka. "Seleksinya memang dari tataran itu, karena ada perupa yang sudah meninggal sehingga tidak bisa ikut," katanya.

Karya Goenawan Mohamad bertajuk Presistensi Palestina, dalam pameran seni rupa XXV Masih Bernadi di Nadi Gallery Jakarta (sumver gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Menariknya, pameran ini juga menampilkan keragaman tema dan eksplorasi artistik seniman lintas zaman. Pada sudut tertentu publik disuguhi karya yang mengeksplorasi tekstur dalam media lukis, sementara di sudut lain mereka dapat menikmati karya yang sarat simbolisme dan figuratif.
Salah satunya terlihat pada karya Taufik Ermas berjudul Bentang Lengkung Bertekuk Lipat #2 (2025). Lukisan berdimensi 224x145x29 cm ini dibuat dengan bingkai melengkung yang bahkan terlipat di bagian bawahnya. Karya tersebut menjadi salah satu yang paling provokatif dalam pameran ini.
Dalam kanvas vertikal itu, Taufik melukis pohon hijau menjulang dengan latar langit cerah. Karya ini seolah mengajak publik untuk kembali mengingat betapa pentingnya pepohonan dalam menjaga udara bebas dari polusi lewat visual metaforis.
Ada pula karya Goenawan Mohamad bertajuk Persistensi Palestina (2025). Menggunakan media campuran di atas kanvas berdimensi 99x147 cm, karya ini hadir sebagai bentuk agitasi artistik sang seniman untuk mendukung kemerdekaan Palestina di tengah krisis kemanusiaan.
Berlatar hitam pekat, pelukis yang juga penyair itu menampilkan reruntuhan kota di Jalur Gaza yang porak-poranda. Namun di atasnya, dia menggambar bendera kecil Palestina sebagai pengukuhan bahwa wilayah tersebut tetap milik mereka, meski terus dianeksasi Israel.
"Palestina ini biarpun hancur bisa bangkit lagi. Ini menggambarkan reruntuhan tadi dengan cara saya—porak-poranda, peyot, tapi tetap bisa bertahan. Itu interpretasi saya terhadap keadaan di sana," katanya.
Baca Juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.