Pengunjung menikmati Pameran Moonveils: If You Know, You Know (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Pameran Moonveils: If You Know, You Know, Mendedah Kode-kode Rahasia Perempuan

13 September 2025   |   20:29 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Pameran bertajuk Moonveils: If You Know, You Know akhirnya resmi dibuka di Kendys Gallery, Jakarta Pusat, pada Sabtu, (13/9/2025). Diinisiasi oleh Atreyu Moniaga Project (AMP), pameran yang mempertemukan tiga seniman muda perempuan, Nana Yap, Maria Solimin, dan Emira Bunga ini akan berlangsung pada 13 September-12 Oktober 2025.

Nama Moonveils sendiri lahir dari perbincangan intens tiga seniman yang berupaya menyingkap berbagai tabir yang kerap menyelimuti posisi peran perempuan. Isu-isu mengenai norma kehidupan, sosial budaya, hingga keintiman dalam percakapan antarperempuan yang kerap kali sarat dengan kode-kode khusus pun tak luput dibahas.

Baca juga: 5 Karya Nyentrik di Art & Bali 2025, dari Media Buah Kelapa sampai Cabai

Dalam pameran ini, ketiga seniman mencoba membedah kode-kode solidaritas perempuan yang kerap hadir tanpa kata, atau seperti istilah populer saat ini, If You Know, You Know, tidaklah lahir dari ruang hampa. Ada konstruksi norma, sosial, maupun budaya yang membuat itu terjadi.

Kode-kode tersebut pun akan mewujud dalam karya seni mereka, yang maknanya dapat dirasakan oleh mereka yang pernah mengalami juga. Karya-karya di pameran ini pun akan menyingkap kode-kode tersembunyi dalam dimensi personal, sosial, maupun kultural.

Seniman Maria Solimin misalnya, banyak menuangkan keresahannya akan perspektif publik terhadap perempuan yang pendiam. Menjalani kehidupan yang lebih sering membungkam suara sendiri, demi menjaga suasana maupun orang-orang di sekitarnya nyaman, perlahan rupanya membuat jiwa Maria dipenuhi kegelisahaan.

Saat menggarap enam lukisan di pameran ini, Maria mengaku banyak menggali kembali pertanyaan-pertanyaan posisi 'suaranya' tersebut ke dalam diri sendiri. Dia ragu, benarkah dirinya benar-benar tak punya suara, atau justru sebenarnya ada sesuatu yang ingin diutarakan, tetapi karena suatu 'kondisi' tak bisa dikeluarkan begitu saja.
 

(Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

The Crane (2025) dan It's Alright. It's Gonna Be Fine (2025) dari Maria Solimin (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Kebimbangannya itu terefleksi lewat lukisan It's Alright. It's Gonna Be Fine (2025). Karya yang didominasi warna hijau ini secara umum menampilkan sosok figuratif yang tengah berada di ayunan. Dia tampak terombang ambing.

Karya ini seolah menggali kembali sisi Toxic positivity, kondisi ketika seseorang menolak, mengabaikan, atau menekan emosi negatif (seperti sedih, marah, atau kecewa) demi memaksakan diri atau orang lain untuk selalu bersikap positif. 

Ada juga karya The Crane (2025). Karya tersebut tampak menggambarkan ketika seseorang yang tak selalu berdaya, mereka dapat secara tak sengaja dibawa pergi oleh seseorang yang berkuasa ke tempat yang tak diketahui. 

Seniman Nana Yap lain lagi. Dia membawa tema Ambiguous Ambiguities yang penuh refleksi. Dia mengajak publik merenungi lebih dalam mengapa perempuan kerap kali dianggap ambigu, terutama ketika isi kepalanya sebenarnya A, tetapi hatinya memilih B. Namun, yang keluar di mulut justru C.
 

 (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Procreation System (2025) dan What Mirror Doesn't Tell (2025) dari Nana Yap (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Ini terlihat dalam lukisan berjudul What Mirror Doesn't Tell (2025). Meski dibawa dalam bentuk abstrak, jika diperhatikan tampak bauran-bauran warna tersebut seperti wajah-wajah perempuan yang lelah.

Saat melukis karya ini, Nana tengah gelisah perihal konstruksi kecantikan bagi perempuan yang perlahan itu menjadi beban bagi mereka. Seolah itu adalah target utama yang harus dicapai, alih-alih memikirkan aset lain sebagai wujud kecantikan yang lebih patut disyukuri.

"Sering kali, kecantikan sekarang sudah jadi beban dan itu tak jarang membuat perempuan merasa tidak utuh. padahal, makna kecantikan adalah penerimaan diri sendiri yang seutuhnya," katanya. 

Refleksi yang sama juga tertuang pada Procreation System (2025). Di karya ini dirinya ingin berbicara mengenai organ reproduksi perempuan. Di dalam konstruksi publik, kerap kali perempuan disebut perempuan ketika dia bisa melahirkan.

Padahal, perempuan tetaplah meski dia melahirkan atau tidak. Sebab, keutuhan perempuan tidak bisa di simplifikasi dengan hal tersebut saja. Terlebih, di dalamnya kita tentu berbicara mengenai potensi keterbatasan atau juga yang paling penting adalah pilihan di dalam perempuan itu sendiri.

Ada lagi karya-karya Emira Bunga yang membawa tema Healing Journey. Goresan-goresan lukisannya layaknya dongeng yang bercerita tentang perjalanannya dalam hidup yang unik. Karya-karyanya menunjukkan kompleksitas emosi manusia, bagaiaman dia merasakan perasaan yang kuat dari berbagai yang bertentangan, lalu berusaha menyeimbangkannya.

Lukisannya berjudul Tale of Zinnia menampilkan komposisi visual yang sarat simbol dengan dominasi warna merah, kuning, dan biru elektrik. Figur perempuan dengan rambut biru dan tubuh yang dililit motif organik menjadi pusat perhatian, seakan melambangkan tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus pergumulan batin.

Kehadiran bunga zinnia yang mekar di sekitar tubuh serta burung-burung bermata tajam yang beterbangan, mengisyaratkan relasi antara feminitas, kesuburan, dan pandangan sosial yang senantiasa mengawasi.
 

Tale of Zinnia

Tale of Zinnia dari Emira Bunga (2025) (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Inisiator pameran, Atreyu Moniaga mengatakan pameran Moonveils berawal dari situasi yang sederhana. Dirinya dan ketiga seniman perempuan ini kerap kali bertemu, berbicara mengenai karya dan perjalanan mereka. Obrolan selalu bernuansa optimisme dan antusiasme.

Namun, dalam perjalanannya, ada hal unik yang muncul. Ketika ketiga perempuan ini saling berbicara, tanpa disadari ada kode-kode alamiah yang tertanam dalam komunikasi antar-perempuan. Itu, baginya, membentuk bahasa yang unik, tapi juga rumit.

Bahasa-bahasa itu tentu terus berkembang secara dinamis, terjalin oleh persahataban, pengalaman hidup, dan lingkungan tempat mereka berada. Akhirnya, tercetuslah ide untuk membuat pameran berangkat dari kode-kode rahasia perempuan itu, yang ketika digali rupanya membedah banyak isu menarik.

"Lebih dari segalanya, saya berharap karya-karya ini dapat menjadi teman yang penuh sukacita untuk refleksi diri, dipenuhi dengan keringanan, humor, dan kebahagiaan," tutupnya.

Baca juga: JIPFest 2025 Hadirkan 300 Karya Fotografi Dunia di Taman Ismail Marzuki Jakarta

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia

BERIKUTNYA

Cek Harga Tiket Synchronize Terbaru, Dijual 1 September-2 Oktober 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga