Ilustrasi radio amatir (Sumber gambar: Yuheng Ouyang/Unsplash)

Hypereport: Radio Amatir, Suara yang Tidak Pernah Padam di Tengah Gempuran Internet

20 September 2025   |   09:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah dominasi ponsel pintar, internet cepat, hingga maraknya platform komunikasi instan, radio amatir masih tetap memancarkan suaranya. Sarana komunikasi ini bertahan dengan berbagai inovasi dan bahkan mulai menjangkau generasi muda, mengingat keunikan serta peran pentingnya. Namun, sejumlah tantangan masih terus menghantui.

Di lapangan salah satu kompleks perumahan di Tambun, Bekasi, sekumpulan anak tampak asyik bermain bola basket. Mereka berkali-kali mencoba memasukkan bola ke dalam ring. Tiang ring yang terdapat dalam lapangan itu tampak biasa. Namun, sesungguhnya adalah antena yang pernah berfungsi sebagai penangkap sinyal radio amatir.

Penggunaan antena radio amatir sebagai tiang ring basket lantaran tidak lagi digunakan. Teguh, salah satu masyarakat di kompleks itu mengatakan antena itu sudah tidak lagi digunakan oleh pemiliknya, sehingga diikhlaskan untuk dialihfungsikan sebagai tiang ring basket.

Baca Juga: 
Hypereport: Eksistensi dan Optimisme Radio Daerah di Tengah Persaingan Platform Audio
Hypereport: Dari Analog ke AI, Radio Menemukan Cara Tetap Dekat dengan Pendengar
Hypereport: Menilik Kondisi & Tantangan Industri Radio di Dunia Digital dan Era Media Sosial


Di kompleks tersebut, paparnya, pernah ada amatir radio. Banyak warga kerap berkumpul dan melakukan komunikasi dengan warga lain di luar wilayah tersebut. Kini, aktivitas itu tidak ada lagi. Sang pemilik memutuskan tidak lagi aktif. Tidak hanya satu, tapi juga ada dua orang yang memutuskan tidak lagi beraktivitas dalam radio amatir itu.

Keputusan sejumlah amatir radio di beberapa tempat di Indonesia untuk berhenti memang terjadi. Namun, bukan berarti bahwa pemainnya sudah lenyap sama sekali. Donny Imam Priambodo adalah salah satu pemain yang masih bertahan dari 1992 sampai saat ini.

Keseruan bermain radio tersebut  menjadi salah satu alasannya. Pemain radio amatir bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari luar negeri selain daerah-daerah di Indonesia. Informasi di sejumlah daerah-daerah juga kerap menyebar secara berantai melalui radio amatir.

Dia mengingat saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), pesan duka kematian disampaikan secara berantai dari Aceh ke Jawa Timur karena komunikasi yang tidak semudah seperti saat ini.

 

Contoh papan identitas radio amatir di Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta. (Sumber gambar: Google Street View)

Contoh papan identitas radio amatir di Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta. (Sumber gambar: Google Street View)


Donny yang juga ketua Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) mengatakan bahwa perjalanan radio amatir di dalam negeri cukup dinamis. Popularitas radio amatir di dalam negeri mengalami penurunan saat ramai telepon seluler lantaran lebih memudahkan orang berkomunikasi.

Meskipun begitu, kini, radio amatir mulai kembali dilirik. Jumlah anggota Orari di seluruh Indonesia pun tercatat sudah mencapai hampir 50.000 orang. Angka ini terus menunjukkan peningkatan meskipun belum ideal jika dibandingkan dengan rasio penduduk Indonesia sebanyak ratusan juta.

Di antara anggota-anggota Orari, terdapat generasi muda yang juga menjadi bagian. Alasan mereka menjadi bagian dari amatir radio karena banyak hal, seperti keseruan mengulik secara teknis, berbincang dengan orang-orang di luar negeri, atau melakukan kopi darat dengan anggota lainnya.

Mereka kerap memadukan radio dengan teknologi digital anyar seperti komputer, gawai pintar, dan sebagainya. “Sekarang banyak software yang bisa memodulasi tone dari komputer menjadi frekuensi radio, dan itu bisa dipancarkan serta diterima di seluruh dunia. Ada modelnya misalkan FT8, FT4,” ujarnya.

Dengan dukungan gawai pintar dan komputer, teknologi Fast Scan Television (FSTV) di radio amatir juga memungkinkan gambar maupun video dikirim melalui sinyal suara yang kemudian didekode ulang.

Nanti, semua orang yang mendengar pancaran ini bisa menerima video atau gambar tersebut. “Tentunya di-decoding lagi dengan HP atau komputernya. Tetapi tidak perlu untuk koneksi dengan internet,” ujarnya.

Selain itu, amatir radio juga memungkinkan untuk mengirim file berukuran kecil melalui pancaran radio yang cukup ketika digunakan pada saat darurat.

Meskipun generasi milenial sudah menjadi bagian dalam radio amatir, jumlahnya masih cukup terbatas, yakni tidak mencapai 10 persen dari total anggota. Hal ini menjadi salah satu perhatian dan tantangan bagi organisasi mengingat keberadaan radio ini tidak boleh berhenti.

Regenerasi penting mengingat usia individu yang masih aktif di radio amatir sudah cukup berumur. Untuk itu, sosialisasi untuk memperkenalkannya kerap dilakukan oleh anggota Orari di berbagai kesempatan.

Dengan mengenal radio amatir, Donny berharap generasi muda akan menyukainya dan pada akhirnya menjadi bagian dari Orari. Pendaftaran untuk berkecimpung menjadi amatir radio juga dapat dilakukan melalui daring dan gratis.

“Untuk menjadi anggota Orari dan untuk mendapatkan izin amatir radio itu setiap warga negara Indonesia boleh mengajukan diri melalui ujian negara amatir radio. Itu bisa mendaftar melalui online di websitenya komdigi gratis,” ujarnya.

Sebelum menjalani ujian, seseorang bisa belajar simulasi secara daring untuk mengerjakan soal-soal dalam menjawab pertanyaan. Setelah itu, individu bisa datang ke balai monitoring di daerah sekitar untuk melakukan ujian.

Adapun, alat-alat radio yang diperlukan memiliki harga yang bervariasi. Seseorang bisa memilih alat seharga ratusan ribu, jutaan, atau ratusan juta.

Radio amatir penting untuk tetap selalu ada karena dapat digunakan saat kondisi darurat. Ketika internet tidak dapat diandalkan, komunikasi tetap dapat dilakukan dengan menggunakan amatir radio dan jangkauannya yang luas hingga ke luar negeri.

Dia pun berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar kepada amatir radio. Pada saat ini, Orari sudah bekerja sama dengan Basarnas serta BNPB, dan berharap dapat menjalin kolaborasi dengan kementerian lain yang memerlukan komunikasi dalam keadaan darurat.

Pada saat ini, tidak semua pemerintah daerah memberikan dukungan finansial terhadap Orari yang berada di daerah-daerah. Banyak anggota beroperasi dari dana urunan yang dikumpulkan.

Baca Juga: Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia
 

SEBELUMNYA

Rayakan Seperempat Abad, Can’s Gallery Gelar Pameran Continuum

BERIKUTNYA

Link Live Streaming China Masters 2025: Fajar/Fikri Hadapi Kim/Seo di Semifinal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga